My Arrogant Princess

My Arrogant Princess
Bab 50 Menyelinap Keluar


__ADS_3

Brack!


Pangeran Ramos kembali memuntahkan darah ke lantai.


‘’Ha … Huha, huha … Akh!’’ ringisnya memegang dada.


Ceklek!


‘’Ramos!’’


Rakia berlari menghampiri. ‘’Apakah kau baik-baik saja? Kau muntah darah lagi Sebaiknya kita harus benar-benar segera memeriksa tubuhmu. Duduk dulu dan ganti pakaianmu.’’


‘’Ini sudah malam. Jika kita keluar semua orang akan tahu,’’ kata Pangeran Ramos.


‘’Baiklah, tapi ganti pakaianmu dulu.’’


Rakia membuka lemari dan melihat sebuah set pakaian yang kotor, robek dan kusam terlipat di dalam plastik.


‘’Ada apa?’’ tanya Pangeran Ramos melihat wanita itu melamun.


Rakia tersadar lalu meraih sweater leher kerah tinggi berbulu. ‘’Cuaca malam sedang dingin, jadi jangan memakai piyama dulu.’’


‘’Terima kasih,’’ kata Pangeran Ramos.


Pria itu terhenti sejenak dan menatap Rakia.


‘’Kenapa?’’ tanya Rakia.


‘’Aku ingin membuka bajuku.’’


‘’Terus, apa masalahnya? Buka saja.’’


‘’Apakah kau ingin melihatku membuka baju? Kau tidak berniat berbalik saat aku menggantinya?’’


‘’Kau hanya mengganti atasan, bukan seluruhnya, jadi kenapa aku harus berbalik? Aku sudah terbiasa membantu para saudaramu memakai atasan. Kau tidak akan ternodai hanya karena aku melihatmu.’’


Pangeran Ramos hanya menurut dan membuka atasannya. Rakia yang melihat tubuh atas pria itu terbelalak.


‘’Ramos, apakah itu luka yang kau dapatkan saat menyelamatkanku?’’ tanya Rakia sedih melihat tubuh pria itu dipenuhi bekas luka gores.


‘’Ya,’’ jawab Pangeran Ramos.


‘’Lalu, sebuah set pakaian yang sudah usang terlipat di dalam lemari, apakah itu juga pakaian yang kau kenakan 19 tahun yang lalu?’’


‘’Ya. Aku menyimpannya sebagai kenang-kenangan.’’


Rakia menunduk menahan tangis.


‘’Hei, ini hanya luka kecil tidak sebanding jika harus kehilangan nyawamu,’’ ungkap pria itu.

__ADS_1


‘’Tapi aku yang melihatnya merasa sakit,’’ ungkap Rakia.


Pangeran Ramos menarik Rakia ke dalam pelukannya untuk menenangkan wanita itu.


......................


Keesokan harinya…


Kamar Pangeran Ketiga


‘’Hari ini tidak perlu datang karena aku akan keluar,’’ kata Pangeran Akakuro.


‘’Akakuro Ouji wa doko ni imasuka(Pangeran Akakuro akan ke mana)?’’


‘’Daigaku-desu(Universitas), untuk membawa tesisku.’’


......................


Kamar Pangeran Keempat


Rakia menceritakan kalau Pangeran Akakuro sedang keluar, dan sekarang adalah kesempatan mereka.


‘’Apakah kau akan keluar dengan pakaian seperti itu?’’ tanya Pangeran Ramos.


‘’Aku mengganti pakaian saat di mobil.’’


Sebelah alis Pangeran Ramos terangkat. ‘’Kau ganti pakaian di dalam mobil?’’


‘’Jangan lakukan hal itu lagi,’’ kata Pangeran Ramos memotong.


‘’Tidak apa-apa. Mobilku memakai kaca satu arah jadi tidak akan kentara.’’


‘’Aku tidak akan mengulangi perkataanku,’’ tegas pria itu.


Rakia tersenyum jahil karena Pangeran Ramos tampak tidak menyukai perbuatannya.


‘’Aku akan menyuruh pelayan mengambil paketmu, lalu ganti di sini, ini adalah perintahku!’’


‘’Puff! Wajah dinginmu terlihat lucu saat sedang marah.’’


Wajah Pangeran Ramos merona, membuatnya menghela nafas lalu menatap Rakia tajam.


‘’Hehe, aku mengerti.’’


......................


Pangeran Ramos menuruni mobil dengan sweater roundhand hitam sebagai dalaman single brested merahnya, bersama Rakia yang mengenakan blouise arabella cod vintage top dipadu rok dengan mantel transparan hingga kaki.


Tidak perlu menunggu lama setelah Rakia menekan bel.

__ADS_1


‘’Tuan Putri? Anda di sini?’’


‘’Long time no see, Kamiya-kun,’’ sapa Rakia.


‘’Eh, Pangeran Keempat.’’


‘’Kalian saling kenal?’’ tanya Rakia.


‘’Seharusnya aku yang bertanya seperti itu. Kenapa kau dan Dr.Wo bisa saling kenal?’’ tanya Pangeran Ramos.


‘’Dia pernah menjadi pengasuhku saat kecil,’’ kata Rakia.


Dr.Wo memasang raut wajah bodoh sambil terkekeh. ‘’Bukan pengasuh, tapi saat itu saya diminta Kaisar Helios untuk merawat Anda, karena tidak ada yang bisa menghadapi Tuan Putri.’’


‘’Benar juga, Ayahanda dan Kaisar Helios berteman, sepertinya Ayahanda yang mengusulkan Dr.Wo untukmu.’’


‘’Kamiya-kun, kedatanganku ke sini karena ingin melakukan pemeriksaan.’’


‘’Tuan Putri sakit? Tapi Anda se—‘’


‘’Bukan aku, tapi dia,’’ tunjuk Rakia ke pria di sampingnya.


......................


‘’Jadi, setiap malam Pangeran Keempat terbatuk yang disertai darah?’’


‘’Ya. Anehnya saat pagi kondisinya baik-baik saja, tapi menjelang malam penyakitnya kambuh.’’


Dr.Wo hanya diam.


‘’Kamiya-kun mau membantuku, kan? Jangan beritahu soal ini kepada siapapun.’’


‘’Sesuai keinginan Tuan Putri.’’


Rakia berterima kasih sambil menyambar Dr.Wo dengan pelukan, membuat Pangeran Ramos menariknya.


‘’Bersikap sopanlah sedikit. Dia itu seorang Dokter, dan jangan menyebut namanya secara langsung.’’


‘’Ini hanya sebuah pelukan, daripada dulu kami sering tidur bersama, bahkan Kamiya-kun yang memandikanku.’’


Kedua pria itu terbelalak mendengar ucapan Rakia.


‘’Hehe, tapi itu saat Tuan Putri masih kecil,’’ kekeh Dr.Wo.


‘’Bertingkahlah layaknya seorang Putri Kerajaan,’’ kata Pangeran Ramos dengan aura mengintimidasi.


Rakia mengabaikan membuat Dr.Wo hanya menghela nafas.


...Visual Dokter Wo Kamiya...

__ADS_1



__ADS_2