My Arrogant Princess

My Arrogant Princess
Bab 142 Datang ke Dapur


__ADS_3

‘’Apa?! Masih belum terjadi apa pun?!’’ pekik Pangeran Aron.


‘’Kenapa kau yang begitu berinisiatif sekali, mereka melakukannya atau tidak?’’ bingung Pangeran Rui.


‘’Tapi seharusnya mereka melakukan itu,’’ kata Pangeran Aron.


‘’Itu terserah mereka mau melakukannya atau tidak,’’ kata Pangeran Goyu.


‘’Haa, kalau begini aku tidak akan punya keponakan dengan cepat.’’


10 Pangeran dengan cepat bersamaan menoleh ke arah Pangeran Ketujuh, setelah mendengar ucapannya.


‘’Ke-napa menatapku seperti itu?’’


‘’Keponakan? Benar juga! Kenapa tidak terpikirkan olehku?’’ tanya Pangeran Kurotsukki.


‘’Aku jadi merasa tiba-tiba ingin memiliki keponakan,’’ kata Pangeran Akakuro.


‘’Ini sudah hari ke-4 setelah pernikahan, tapi tak ada hal yang terjadi,’’ kata Pangeran Anon.


‘’Kalau begitu tidak ada cara lain lagi,’’ kata Pangeran Bamie.


Pangeran Rui hanya menggelengkan kepala, melihat semua reaksi saudaranya yang tersenyum jahat.


‘’Semoga berjalan mulus,’’ kata Pangeran Ereri sambil mencicipi teh.


......................


Kamar Pangeran Keempat


Brack!


‘’Ramos!’’


 ‘’Uhuk! Uhuk!’’


Pangeran Ramos membengkap mulutnya.


Brack!


‘’Kau tidak pernah batuk separah ini, kenapa tiba-tiba sekarang?’’ bingung Putri Rakia.


Terakhir kali Ramos separah ini saat dia menyelamatkanku dari Mezool. Ada yang aneh. Saat hari pernikahan sampai kemarin, Ramos tidak pernah terbatuk lalu sekarang, ucapnya dalam hati.

__ADS_1


Wanita itu tersadar merasakan tangannya digenggam erat. ‘’Ramos? Apakah sangat sakit?’’


‘’Sa-Sakit, rasanya sangat sakit ... Akh!’’ ringis Pangeran Keempat menjatuhkan dirinya ke Putri Rakia.


Saat itu juga Pangeran Shinsuke datang untuk berkunjung.


Deg!


‘’Ramos! Penyakitmu kambuh lagi?’’


‘’Pangeran Shinsuke bagaimana ini? Beberapa hari terakhir, dia baik-baik saja tapi kenapa kondisinya memburuk lagi? Perkataan Kamiya-kun tidak akan terjadi, kan? Iya, kan?!’’


‘’Putri Ketiga tenanglah. Aku sudah berjanji akan menyembuhkannya, karena itulah aku datang kemari.’’


‘’Eh? Maksud Pangeran Shinsuke?’’


‘’Formula obat sudah selesei. Ramos pasti akan sembuh total.’’


‘’Benarkah?! Hiks ... Hiks, Ramos,’’ isak Putri Rakia terharu.


‘’Paman? Benarkah itu? Aku tidak akan meninggal akhir bulan ini?’’ tanya Pangeran Ramos.


Pangeran Shinsuke mengangguk dengan rasa haru. Butiran air terjatuh dari sudut matanya.


‘’Kakak tidak berbohong, kan?’’ tidak percaya Raja Rivazreich yang tiba-tiba datang.


‘’Ya. Aku baru saja menerima formula yang dikirim oleh mereka.’’


Raja Rivazreich tak bisa menahan air mata. ‘’Kakak terima kasih! Kalau tidak ada Anda, maka aku tidak akan bisa menghadapi diriku sendiri jika hari itu benar-benar tiba.’’


Pangeran Shinsuke tersenyum membalas pelukan adiknya.


‘’Pangeran Keempat akhirnya bisa sembuh,’’ kata Ratu Rivazreich.


Kabar baik mengenai kejadian itu telah sampai di telinga semua saudaranya, sehingga mereka merasa senang.


......................


Kamar Pangeran Keempat


‘’Sampai kapan kau akan menangis?’’


‘’Ini air mata kebahagiaan, apa kau tidak senang setelah akhirnya bisa sembuh?’’

__ADS_1


Pangeran Ramos menarik tangan Putri Rakia dan mencium bibirnya singkat. ‘’Itu jawabanku.’’


‘’Mana ada jawaban seperti itu?! Kau sengaja mengambil kesempatan!’’ kesal Putri Rakia.


‘’Siapa suruh kau lengah,’’ kata Pangeran Ramos datar.


Seorang pelayan kemudian mengetuk dari luar. ‘’Shitsurei shimasu(Permisi).’’


‘’Aa! Aku lupa dengan bagian Haruka bersama pengikutnya,’’ sadar Putri Rakia setelah melihat pelayan itu masuk.


‘’Pangeran Pertama menyuruh saya menyampaikan sesuatu.’’


‘’Katakan!’’ perintah Pangeran Ramos.


‘’Anda disuruh datang ke taman bersama Putri Ketiga.’’


‘’Baiklah, aku akan segera. Kau boleh pergi.’’


‘’Ramos, kau duluan saja. Aku ada urusan sedikit.’’


‘’Jangan lama-lama, Kakak Ereri memanggil kita.’’


......................


Dapur Istana


‘’Nona Haruka bagaimana ini? Rakia ternyata Putri Ketiga Kerajaan Helios.’’


‘’Dia datang menyamar sebagai pelayan karena menjalani hukuman.’’


‘’Tapi kita sudah berbuat banyak hal kepadanya.’’


Haruka mengingat saat dirinya beberapa kali melayangkan pukulan kepada wanita itu, dan berbicara kasar padanya. Bukan hanya itu, ia semakin takut setelah mengingat beberapa peringatan dari Rakia, membuatnya gemetar sambil melihat tangannya


Apakah tangan dan bibirku akan benar-benar dihilangkan? Kenapa aku tidak menyadarinya dari awal? Dengan begini aku sendiri yang meminta kematianku, cemasnya dalam hati.


‘’Nona Haruka? Nona Haruka?!’’


‘’Y-Ya? Ada apa?’’ tanya Haruka tersadar dari lamuan.


Deg!


Saat itu juga Putri Rakia sudah berdiri di hadapan mereka, membuat semuanya membungkuk.

__ADS_1


__ADS_2