
Saat malam tiba, Raja Rivazreich dikejutkan dengan paket yang dikirim ke istana.
“Putri Ketiga, Pangeran Ezekiel, Pangeran Kelima bahkan Dokter Wo akan dibunuh besok, dan akan mempublikasikannya ke media jika aku tidak turun takhta?”
Bugh!
Ia memukul meja. Urat di leher dan tangannya sudah menegang. “Pria yang menyamar sebagai Pangeran Keempat, pastikan kalian menangkapnya.”
“Kenapa bisa seperti ini?” pusing Kaisar Helios.
Raja Rivazreich memejamkan mata dengan raut wajah murka tertahan. Tangannya mengepal sambil menghela nafas panjang.
......................
Bangunan Tua
“Mezool!” seru Pangeran Rui melihat wanita itu duduk terikat di kursi dengan kepala terkulai.
Apalagi tubuh wanita itu dipenuhi darah.
“Mezool! Tidak, kau tidak boleh mati! Tidak peduli kau adalah Mezool atau bukan, aku tidak akan mengulang kesalahanku lagi. Kumohon berikan aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya.”
Mata Mezool terbuka. “Rui? Pergilah, jangan membantuku.”
“Apa maksudmu?! Siapa yang melakukan ini kepadamu?!” cemas Pangeran Rui berusaha melepaskan tali yang mengikat tubuh Mezool.
Ia berdecih kesal karena talinya terlalu kuat.
“Pergilah atau Rakia akan mati,” kata Mezool.
Deg!
“A-Apa yang kau katakan?” tanya Pangeran Rui.
“Rakia diculik, dan aku sempat melihatnya, jadi aku mengikutinya sampai ke bangunan ini. Tapi aku ketahuan sehingga mereka memukuliku. Pergilah, cepat selamatkan Putri Rakia!”
Pangeran Rui bergegas keluar, namun langkahnya terhenti saat mendengar tawa Mezool. Ia berbalik dan terbelalak melihat Mezool dengan mudah melepaskan tali yang mengikat tubuhnya.
“Padahal kau menemukanku lebih dulu, tapi kau tetap memprioritaskan Rakia. Hahaha … Haa, Rui, bahkan setelah aku kembali dari kematianku, Rakia tetap nomor satu di hatimu,” kata Mezool dengan butiran air mata.
__ADS_1
“Tidak, kau bukan Mezool. Kau hanya memiliki wajah yang sama dengannya. Ingatan Mezool, dari mana kau mengetahuinya? Berhenti memerankan Mezool seperti itu!” seru Pangeran Rui.
Mezool hanya diam dengan butiran air mata sambil memasang raut wajah sendu. “Tidak apa-apa. Hari ini keadilan akan membayar kematianku dengan nyawa Rakia.”
Pangeran Rui tertegun, dengan cepat ia berlari keluar.
......................
Di ruangan lain, Putri Rakia tersadar. Matanya membulat besar melihat Pangeran Ezekiel muda terikat di kursi. “Ezekiel!”
Ia baru sadar kalau dirinya juga diikat.
Putri Rakia mulai sesak saat melihat ruangan gelap tua itu.
“Ezekiel! Ezekiel! Buka matamu!”
Pangeran Ezekiel muda mengerutkan dahi dan membuka mata perlahan.
Deg!
Ia tertegun melihat ibunya terikat begitu juga dirinya.
Ingatannya kembali terputar mengenai kejadian beberapa saat yang lalu.
Flashback on
“Eh?”
Pangeran Ezekiel bingung melihat pria itu habis menelepon seseorang.
Pria berambut putih keabuan itu berbalik dan melihat Pangeran Ezekiel muda.
“Apakah Pangeran Ezekiel sudah menyiapkan diri untuk mengetahuinya?” tanya pria itu.
Pangeran Ezekiel mengangguk.
Mata pria itu memicing. “Kalau begitu, apakah Anda juga sudah siap menyusul Pangeran Keempat dan Putri Ketiga?”
Deg!
__ADS_1
Flashback off
Pangeran Ezekiel menoleh saat mendengar suara langkah kaki mendekat ke arah mereka. Matanya memicing melihat sosok itu.
“Kamiya-kun? Kau datang menyelamatkan kami?” tanya Putri Rakia.
“Kenapa Dokter Wo menculik kami berdua?”
“Ezekiel, apa yang kau bicarakan? Dokter Wo datang untuk menolong kita,” kata Putri Rakia.
“Tidak. Dia datang untuk melenyapkan kita,” kata Pangeran Ezekiel muda.
Putri Rakia menatap Dokter Wo dan berharap hal itu tidak benar. Namun, dokter muda itu hanya tersenyum.
“Ka-Kamiya-kun,” tatap Putri Rakia menolak kenyataan.
“Tuan Putri masih ingat insiden penculikan Anda 19 tahun yang lalu?” tanya Dokter Wo.
Terukir senyuman di bibir dokter muda itu. “Aku adalah orang yang menculik Anda tepat di hari ulang tahun Tuan Putri saat itu.”
Deg!
Putri Rakia terpaku di tempat. “A-Apa maksudmu berkata seperti itu?”
“Aku tidak menyesalinya Tuan Putri,” senyum Dokter Wo.
“Kau berbohong Kamiya-kun. Aku tidak percaya,” kata Putri Rakia.
“Apakah wajahku terlihat bercanda?” tanya Dokter Wo.
“Kenapa kau melakukannya? Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Putri Rakia bingung.
Dokter Wo mengepalkan tangan. “Tuan Putri bertanya kenapa?”
Dokter muda itu terkekeh dengan kepala menengadah sambil menutupi wajahnya dengan sebelah tangan.
Dari sela-sela jari, mata sebelah kanan Dokter Wo melirik Putri Rakia.
“Sore wa anata no seidakara,(Itu semua karena kesalahan Anda).”
__ADS_1