My Arrogant Princess

My Arrogant Princess
Bab 69 Salah Paham


__ADS_3

‘’Terima kasih,’’ kata Rakia.


‘’Kau boleh pergi,’’ kata Pangeran Rui.


‘’Rui, kau benar-benar berpikir aku yang melakukan hal itu kepada Mezool?’’ tanya Rakia.


Pangeran Rui hanya diam, membuat Rakia mengerti.


‘’Baik, aku pergi.’’


Pria tadi menatap kepergian Rakia. Ia mengepalkan tangan hingga tidak punya pilihan lain.


Deg!


Rakia tersentak saat dirinya ditarik dari belakang, sehingga ia dan pria itu berhadapan. Matanya membulat besar melihat Pangeran Rui memajukan wajahnya sedikit.


Mezool yang tidak sengaja membuka pintu agaksedikit langsung tertegun. Matanya memerah disertai tangan mengepal.


Sebenarnya Rui ingin melakukan apa? Aku tidak nyaman dengan posisi ini, bingung Rakia dalam hati.


Beberapa menit kemudian, Pangeran Rui mendorong Rakia pelan. ‘’Pergilah.’’


Rakia hanya bingung sambil meninggalkan kamar. ‘’Ada apa dengannya? Oh iya, aku harus cek kondisi Ramos.’’


......................


Kamar Pangeran Keempat


Brack!


Pangeran Ramos menyeka bibirnya setelah memuntahkan darah. ‘’Obatnya....’’


Saat itu juga Rakia datang membuka pintu. Matanya membulat besar. ‘’Ramos!’’


Rakia menghampiri Pangeran Ramos dan membantunya berdiri.

__ADS_1


‘’Minggir!’’ kata Pangeran Ramos dingin sambil menepis tangan Rakia dengan kasar.


Rakia tertegun. ‘’Ramos?’’


‘’Aku ingin istirahat,’’ kata Pangeran Ramos.


‘’Tapi, kondisimu sedang bu—‘’


Deg!


Sekali lagi Rakia tertegun karena pria itu melontarkan tatapan tajam kepadanya. ‘’Ba-Baiklah, aku akan datang setelah kondisimu membaik.’’


Pandangan mengabaikan Pangeran Ramos tidak teralihkan sampai sosok Rakia meninggalkan kamarnya. Ia menundukkan kepala.


Langkahnya terhenti melihat Mezool terpaku di depan pintu.


‘’Mezool, ada apa dengan dirinya? Kenapa hanya berdiri di depan pintu?’’


Melihat wanita itu yang tiba-tiba pergi membuat Pangeran Ramos menuju ke sana.


Deg!


Matanya membulat besar melihat Rakia dan Pangeran Rui berciuman sambil adiknya memeluk wanita itu.


‘’Rakia?’’ tatapnya berniat masuk tapi dadanya langsung sakit.


Pangeran Ramos meringis. Ia kembali menatap ke dalam ruangan dengan perasaan terluka, sehingga ia memilih pergi. (Pangeran Ramos teringat)


Ia menyeka darah di sudut bibirnya dengan perasaan tidak nyaman.


......................


Koridor Istana


Rakia merasa sedikit tidak nyaman mengingat kejadian barusan. ‘’Ini pertama kalinya Ramos bersikap kasar kepadaku. Kenapa aku merasa sakit, ya?’’

__ADS_1


Sekali lagi, ia mengingat tatapan tajam pria itu.


“Apakah aku melakukan sesuatu yang membuatnya sampai marah? Tapi, seingatku tidak ada.”


Bukannya menuju ke kamar Pangeran Ereri, Rakia malah ke taman untuk menenangkan pikiran gara-gara tingkah Pangeran Ramos tadi.


......................


Kamar Pangeran Pertama


Pangeran Kurotsukki menuju ke jendela kamar dan menatap keluar. “Akhir-akhir ini Rakia jarang datang.”


“Kau merindukannya?” tanya pangeran Ereri.


“Si-Siapa yang merindukannya?! Hem! Aku hanya bingung karena tidak pernah melihatnya datang,” kata Pangeran Kurotsukki membuang muka.


“Dia datang di saat kau tidak ada,” kata Pangeran Ereri.


Pangeran Kurotsukki teringat sesuatu.


“Oh iya, ada yang aneh di antara Rakia, Ramos dan Rui. Aku pernah tidak sengaja melihat hubungan mereka, dan kurasa sepertinya Ramos dan Rui juga mengetahui identitas Rakia. Apakah mungkin mereka bertiga terlibat cinta segitiga?”


Sebelah alis pangeran Ereri terangkat. “Yang benar itu cinta segiempat.”


“Kalau begitu sosok yang satunya lagi siapa? Mezool?” tanya Pangeran Kurotsukki dengan alis berkerut.


“Bukan, tapi dirimu,” jawab Pangeran Ereri santai.


“Aku? Kenapa aku harus terlibat?” bingung pangeran Kurotsukki.


Terukir senyuman miring di bibir Pangeran Ereri.” Kau sudah pernah mencium Rakia tepat di bibirnya, apakah kau sama sekali tidak merasakan apa pun?”


Wajah pangeran Kurotsukki spontan memerah. “Kakak tertuaaa?!”


Rakia mengerutkan dahi. “Kenapa aku seperti mendengar suara teriakan Pangeran Kurotsukki?”

__ADS_1


Wanita itu menghela nafas. “Haa, sepertinya aku berhalusinasi.”


__ADS_2