My Arrogant Princess

My Arrogant Princess
Bab 109 Kaisar Marah


__ADS_3

Malamnya Putri Rakia telah kembali ke Kerajaan Helios. Dahinya berkerut melihat kelima saudaranya berada di aula.


‘’Rakia, kau dari mana saja dan baru pulang di jam segini?’’ tanya Putri Yuriki.


‘’Ada urusan sedikit,’’ jawab Putri Rakia.


‘’Ada urusan atau bertemu dengan seseorang secara diam-diam?’’ tanya Putri Nikki.


‘’Ayolah, aku memang ada urusan tadi,’’ jawab Putri Rakia.


‘’Lupakan itu. Ada hal yang lebih serius. Ayahanda menyuruh kami untuk memberitahumu agar segera menghadap saat kau tiba di istana,’’ kata Pangeran Kairi.


‘’Kau tidak membuat ulah lagi, kan? Kenapa kau datang bersama Pengawal Maru?’’ tanya Putri Ukii.


Aku baru ingat. Aku memutuskan pernikahanku tanpa izin dari Ayahanda terlebih dahulu, kata Putri Rakia dalam hati.


‘’Kenapa diam? Kau memang membuat masalah lagi, ya?’’ curiga Putri Yuriki.


‘’Tidak ahaha! Kalau begitu aku segera menghadap bersama Pengawal Maru,’’ kata Putri Rakia bergegas pergi.


Kelima orang itu menatap kepergian dua orang tadi.


‘’Kakak Rakia terlihat tegang, apakah hanya perasaanku saja?’’ tebak Pangeran Yuga.


......................


Ruang Pribadi Kaisar

__ADS_1


Putri Rakia terhenti tepat di depan pintu. Ia memejamkan mata sambil mengontrol nafasnya sebelum masuk. Kedua pengawal yang berjaga membukakan pintu untuknya.


‘’Shitsurei shimasu(Permisi),’’ kata Putri Rakia dan Pengawal Maru.


Sudah terlihat Kaisar yang duduk dengan raut wajah tertahan menatap ke arahnya.


Dari luar ruangan, kelima orang tadi menyusul.


‘’Kita tidak diperbolehkan masuk oleh Ayahanda, jadi menunggu saja,’’ kata Pangeran Kairi.


Kaisar Helios menatap putrinya dengan aura mengintimidasi. ‘’Bagaimana kau akan menjelaskan kejadian di Kerajaan Rivazreich?’’


‘’Apakah Raja Rivazreich sudah berbicara dengan Ayahan—‘’


Bugh!


‘’Kakak Kairi dengar itu? Apakah Ayahanda sedang marah?’’ cemas Putri Ukii.


‘’Aku memang punya firasat buruk,’’ kata Pangeran Yuga.


Putri Rakia tersentak dan hanya menunduk. ‘’Saya … Saya hanya mengajukan 1 permintaan, Ayahanda.’’


‘’Putri Ketiga, apakah kau pikir aku mentolerir sikapmu ini?’’ tanya Kaisar Helios dengan nada tertahan.


‘’Ayahanda mengatakan akan mengurus pernikahan setelah menemukan sosok penyelamatku. Saya juga sudah meminta waktu untuk memikirkannya, jadi saya hanya ke sana untuk mewujudkannya,’’ kata Putri Rakia.


‘’Aku sudah mengajukannya kepadamu tapi kau sendiri yang menolak hari itu,’’ kata Kaisar Helios.

__ADS_1


‘’Saya menolak karena belum memastikan ke—‘’


‘’Kau melakukan ini tanpa izinku terlebih dahulu, APAKAH KAU MEMPERTANYAKAN KEDUDUKANKU SEBAGAI KAISAR?!!’’


Putri Rakia menunduk menahan rasa gemetarnya.


Dari luar ruangan, kelima orang itu sama gemetarnya.


‘’Rakia, apa yang dia lakukan sampai Ayahanda marah besar seperti ini?’’ cemas Putri Yuriki.


‘’Kakak Kairi, apakah lebih baik kita masuk saja untuk membantu Kakak Rakia?’’ tanya Pangeran Yuga.


‘’Kau ingin kita dikubur hidup-hidup? Kalian dengar sendiri, Ayahanda saat ini sangat marah,’’ kata Pangeran Kairi gusar.


Kaisar Helios memejamkan mata untuk mengontrol emosinya.


‘’Saya mengaku salah. Apa yang saya lakukan tanpa izin Ayahanda adalah sebuah pelanggaran. Jika Anda ingin menghukumku maka baiklah. Tapi saya melakukan ini karena alasan tertentu jadi tidak punya pilihan lain,’’ kata Putri Rakia.


‘’Kau masih berani membela diri?’’ tanya Kaisar Helios.


‘’Dokter Wo memberitahuku kalau Pangeran Keempat tidak akan bisa bertahan sampai akhir bulan ini,’’ kata Putri Rakia.


Deg!


‘’Apa?!’’ seru Kaisar.


Kelima orang di luar ruangan juga tersentak kaget mendengar hal tersebut.

__ADS_1


__ADS_2