My Arrogant Princess

My Arrogant Princess
Bab 106 Pengakuan Putri Ketiga


__ADS_3

Putri Rakia mendorong Pangeran Rui dengan pelan. ‘’Kau ini bicara apa? Pernikahan yang kumaksud itu adalah aku dan Ramos.’’


‘’Eii berhenti mengujiku,’’ kata Pangeran Rui tersenyum.


‘’Terserah kau percaya atau tidak. Aku ingin melihat Ramos dulu,’’ kata Putri Rakia berlalu pergi.


Pangeran Rui terdiam. Ia menatap kepergian wanita tadi. ‘’Hehe tidak. Dia pasti sedang menggodaku.’’


......................


Kamar Pangeran Keempat


Ceklek!


‘’Ramos aku datang un—‘’ ucapan Putri Rakia terpotong saat melihat isi kamar itu kosong.


Matanya menyusuri seluruh sisi kamar dan tidak melihat sosok Pangeran Ramos di dalam.


‘’Apakah mungkin dia....‘’


......................


Pangeran Ramos memainkan biola tanpa menyadari kedatangan seseorang.


‘’Scarborough Fair. Sudah kuduga kau ada di sini untuk memainkan lagu itu. Kenapa kau memainkan biola? Seharusnya di kamar saja untuk istirahat,’’ kata Putri Rakia.


Sebelah alis Pangeran Ramos terangkat. ‘’Kau datang?’’


‘’Ya, karena ingin mengunjungimu. Bagaimana? Kau pasti senang dengan kejutan i—‘’

__ADS_1


‘’Tidak perlu mengunjungiku seperti ini. Kau bisa menghubungiku lewat ponsel,’’ kata Pangeran Ramos memotong ucapan Putri Rakia tanpa menghentikan aktivitasnya.


Wajah senang Putri Rakia menjadi kaku, membuatnya berusaha menyenangkan suasana. ‘’Tapi aku ingin bertemu denganmu.’’


Pangeran Ramos menatapnya sekilas. Ia berhenti memainkan biola sambil menatap ke depan. ‘’Setelah itu jangan mengunjungiku lagi.’’


Deg!


‘’Ra-Ramos, apa yang kau katakan?’’ tanya Putri Rakia terkekeh pelan.


Melihat pria itu diam semakin membuat dirinya gusar. ‘’Tunggu, kau bertingkah aneh dan sepertinya menghindariku, apakah karena kondisimu yang tidak akan bertahan sampai akhir bulan ini?’’


Pangeran Ramos tetap diam tanpa menjawab.


‘’Aku datang memang ingin mengunjungimu. Pernyataanmu waktu itu, aku sudah memikirkannya. Jawabanku adalah i—‘’


‘’Pernyataan rasa sukaku waktu itu … Aku tarik kembali,’’ kata Pangeran Ramos memotong ucapan wanita itu sekali lagi.


‘’Aku … Sudah tidak menyukaimu lagi,’’ kata Pangeran Ramos dingin.


Deg!


Terukir senyuman di bibir sosok yang baru datang. ‘’Hee~ apakah aku tidak salah dengar?’’


‘’Rui?’’ tatap Putri Rakia melihat kedatangan pria itu.


Pangeran Rui berhenti di antara kedua orang tersebut. ‘’Kakak Ramos mengatakan sudah tidak menyukai Rakia, apakah itu benar?’’


Katakan kalau kau hanya berbohong, kata Putri Rakia dalam hati penuh harap sambil menatap Pangeran Ramos.

__ADS_1


‘’Ya,’’ jawab Pangeran Ramos tanpa ragu.


Putri Rakia terpaku bersamaan hembusan angin menerpa ketiga orang tadi.


‘’Kakak Ramos masih ingat dengan taruhan kita saat hari itu, kan?’’ tanya Pangeran Rui tersenyum puas.


Pangeran Ramos hanya menatap adiknya itu dengan tatapan dingin.


‘’Karena Kakak Ramos sendiri yang menyerah duluan, itu berarti akulah yang menda—‘’


‘’Bohong!’’ seru Putri Rakia memotong ucapan Pangeran Rui.


Kedua pria itu langsung menatapnya dengan pandangan yang berbeda.


‘’Kau mengatakan hal itu karena sedang marah padaku, kan?’’ tanya Putri Rakia dengan alis berkerut.


‘’Rakia?’’ tatap Pangeran Rui tidak percaya.


‘’Untuk apa aku berbohong? Aku mengatakan yang sebe—‘’


‘’Tidak! Itu tidak benar!’’ seru Putri Rakia memotong ucapan Pangeran Ramos.


Pangeran Ramos hanya terkikik pelan membuat kedua orang itu bingung. ‘’Sudahlah, aku harus pergi. Aku tidak ingin mengganggu, dan iya ... Selamat atas pernikahan kalian, aku turut senang.’’


Ini salah, kata Putri Rakia dalam hati dengan kepala menunduk.


Putri Rakia berbalik hendak mengejar Pangeran Ramos. Tangan Pangeran Rui terulur untuk menghentikannya, namun…


Bugh!

__ADS_1


Pangeran Ramos terdiam saat merasakan seseorang memeluknya dari belakang.


‘’Kau salah! Aku tidak menikah dengan Rui, melainkan menikah denganmu!’’ kata Putri Rakia.


__ADS_2