
Keduanya menatap mayat Mezool yang terkapar di rumput.
‘’Rakia, bisa bantu aku menghentikan darah di perutku? Aku akan kehilangan banyak darah,’’ kata Pangeran Rui.
‘’Te-Tentu. Lepaskan atasanmu dulu, baru aku hentikan pendarahannya,’’ kata Rakia.
Pangeran Rui meringis sambil bajunya dilepas. ‘’Akh!‘’
Begitu baju pria tadi terlepas, Rakia menatap punggung pria itu.
Deg!
‘’Stt, Rakia kenapa kau diam saja?’’ tanya Pangeran Rui.
Tangan Rakia gemetar. Rasa shock yang baru saja melihat Mezool bunuh diri malah tertambah saat ia melihat bekas luka bakar di punggung Pangeran Rui.
‘’Rakia?’’ panggil Pangeran Rui.
Namun, wanita itu tidak kunjung menjawab.
‘’Rakia kau baik-baik saja? Kenapa kau diam?’’
Rakia merasa terguncang, otaknya tidak bisa mencerna apa pun membuat kesadarannya menurun.
Bugh!
Pangeran Rui tersentak menyadari wanita itu jatuh pingsan. ‘’Rakia buka matamu! Rakia, Rakia! Rakia!!’’
__ADS_1
......................
Alam bawah sadar
Rakia menatap sekeliling, melihat isi ruangan tanpa batas itu berwarna putih. Tiba-tiba semua berubah menjadi gelap membuatnya terkaget. ‘’Eh?’’
Ia mulai panik sampai akhirnya sebuah cahaya menerangi sosok berpakaian putih yang berdiri tidak jauh darinya. Matanya membulat besar melihat sosok itu. ‘’Mezool?!’’
Mezool hanya menatapnya datar. Perlahan, darah bermunculan di tubuh wanita itu serta sebuah pisau yang menancap di jantungnya.
‘’Aku mengutukmu! Agar merasakan sakit yang sama kurasakan ketika tidak bisa bersama dengan orang yang kau cintai. Mmhehe … Saat kau merasakannya, aku baru merasa teradili, ini adalah sumpahku,’’ kata Mezool menghampiri Rakia.
*Rakia berusaha lari, tapi tubuhnya tidak bisa bergerak. Ia menatap Mezool berjalan semakin dekat sambil melepaskan pisau yang menancap di jantungnya.
Ketakutan Rakia semakin memuncak saat Mezool berdiri di hadapannya*.
Syut!
‘’Hhah!’’ pekik Rakia tersadar dengan nafas tersengal yang disertai keringat dingin.
‘’Akhirnya kau sadar juga.’’
Rakia menolehkan kepala melihat Haruka berdiri di samping kasurnya dengan wajah datar.
‘’Pangeran Kelima sedang dirawat dan tidak ada yang boleh menemuinya sebelum kondisinya membaik,’’ kata Haruka.
Rakia menatap ke sekeliling dan tidak menemukan mayat Mezool. Haruka yang melihat kebingunan wanita itu hanya mengerutkan dahi.
__ADS_1
‘’Aku tidak mengerti kenapa kau sampai terlibat insiden kecelakaan bersama Pangeran Kelima dan Nona Mezool,’’ kata Haruka.
‘’Eh? Kecelakaan?’’ bingung Rakia.
Haruka semakin mengerutkan dahi. ‘’Kenapa? Apakah kecelakaan itu membentur kepalamu sangat kuat sampai kau amnesia? Heh, aku sedang malas berdebat denganmu yang kondisinya berdiri saja tidak sanggup seperti ini. Tapi sangat disayangkan, Nona Mezool tidak tertolong akibat kecelakaan itu. Pangeran Shinsuke sudah mengurusnya. Dasar, kenapa Kepala Pelayan sepertiku harus mengecek kondisimu setiap saat?’’ gerutu Haruka.
‘’Kenapa? Kau tidak senang Kepala Pelayan sepertimu naik jabatan menjadi suster pribadi?’’ tanya Rakia.
‘’Rakia, kenapa kau tidak tidur saja selamanya dan tidak usah bangun? Kondisimu sudah sekarat seperti ini masih bisa membuat orang emosi.’’
‘’Yang kau katakan benar. Seharusnya aku tidak usah bangun karena jiwaku ternodai karena orang pertama yang harus aku lihat setelah sadar adalah dirimu,’’ kata Rakia.
Kedua wanita itu saling melontarkan tatapan datar tapi menusuk, sampai akhirnya Haruka memilih pergi.
Haa, kenapa aku selalu bertemu dengannya setelah mengalami berbagai masalah? Dasar, merusak mood saja, gerutu Rakia dalam hati.
......................
Kamar Pangeran Pertama
‘’Akhir-akhir ini kau selalu termenung, apakah sesuatu mengganggumu?’’ tanya Pangeran Ereri.
‘’Sejak kapan kau mempedulikan seseorang?’’ tanya Rakia.
Wajah Pangeran Ereri langsung kusut. ‘’Kau menyebalkan seperti biasa.’’
‘’Aku akan berjalan-jalan sebentar,’’ kata Rakia pergi.
__ADS_1