
Dapur Istana
Rakia menatap sekumpulan pelayan di sekitar dapur.
"Haa, mengajak rakyat rendah seperti mereka bicara membuatku tidak sudi. Jika saja bukan karena maniak makanan manis itu, aku tidak akan melakukannya."
Wanita itu datang menghampiri. "Sebelum aku ke kamar Pangeran selanjutnya, aku meminta kalian membuatkan hidangan ini pada Pang—”
"Memangnya siapa kau yang memberi kami perintah?" tanya salah satu pelayan memotong kalimat Rakia.
"Kami hanya melaksanakan perintah Nona Haruka. Jadi kau tidak usah berlagak seperti atasan dan menyuruh kami seenaknya saja."
"Puff! Kurasa dia tidak sadar kalau dia sebenarnya juga seorang pelayan."
Rakia mengangkat sebelah alisnya. "Terserah kalian. Tapi jangan salahkan aku jika terjadi sesuatu."
Mereka menatap kepergian Rakia dengan perasaan kesal.
"Dia benar-benar angkuh!"
Pelayan itu merobek secarik kertas yang diberikan Rakia tadi.
......................
Kamar Pangeran Kesembilan
Rakia terdiam untuk sesaat. "Apakah aku salah ruangan?"
Wanita itu kebingungan melihat lantai yang sangat mengkilap dan lampu gantung krystal disertai set lengkap alat musik.
"Mungkin aku memang salah ruangan. Mustahil kamar seorang Pangeran seperti ini."
__ADS_1
Saat hendak pergi, ia melihat seorang pria berambut blonde berponi kuncir satu bersandar di sisi kanan pintu.
"Siapakah wanita cantik yang tersesat ini?"
Jangan bilang dialah Pangeran yang akan kulayani, kata Rakia dalam hati sambil memasang wajah bodoh.
Pria itu berjalan menghampiri Rakia. "Rambut kepang 2 dan mengenakan kacamata bening ... Sungguh sederhana. Apa kau pelayan pribadi yang akan melayaniku?"
"Iya, saya Rakia."
"Rakia? Nama yang indah tapi kenapa memiliki tampang seperti ini?"
Urat-urat di leher Rakia mulai menegang meskipun dirinya tersenyum.
"Dai Kyu Ouji(Pangeran Kesembilan), Ren von Rivazreich. Kau bisa memanggilku Richie."
"Ri-Richie?" bingung Rakia.
Pandangannya kembali menyusuri kamar Pangeran Ren. "Melihat dekorasi kamar Anda, sepertinya Pangeran Ren menyukai dansa, ya?"
Raut wajah Pangeran Ren langsung berubah untuk sesaat sebelum dirinya tersenyum. "Hee~ wanita cantik ini berlagak tahu semuanya saja."
"Jadi benar Pangeran Ren menyukai dansa?"
"Ahaha Rakia, bisa bawakan aku Sachertorte?"
"Sekarang?" tanya Rakia.
"Abad selanjutnya, tentu saja sekarang," kata Pangeran Ren.
Setelah kepergian wanita itu, Pangeran Ren menggertak gigi.
__ADS_1
......................
Dapur
"Apakah hanya perasaanku saja? Raut wajahnya sempat berubah meskipun hitungan detik," kata Rakia.
Wanita itu tiba kembali di kamar Pangeran Kesembilan. "Pangeran Ren, saya sudah membawa Sachertor ... Te Anda.
Dahi Rakia berkerut melihat kamar itu kosong. "Lalu kenapa dia ... Eh, mempermainkanku?"
Rakia menunggu kedatangan Pangeran Ren selama berjam-jam. "Dia belum kembali, aku juga tidak bisa mencarinya di istana seluas ini. Menyuruhku lalu menghilang begitu saja bahkan membuatku menunggu dan tidak datang, apa maksudnya? Membuatku kesal saja."
......................
Taman Istana
Pangeran Ren menatap matahari terbenam dengan wajah sendu sambil membiarkan angin menerpa wajahnya.
"Melihat dekorasi kamar Anda, sepertinya Pangeran Ren menyukai dansa, ya?"
"Jadi benar Pangeran Ren menyukai dansa?" (Pangeran Ren teringat)
Ia mengepalkan tangan sejenak kemudian menghela nafas.
"Dansa, ya?"
Pangeran Ren menatap kedua kakinya dengan wajah datar. "Pelayan itu sok tahu saja, menganggap diriku menyukai dansa. Humph! Siapa yang menyukai dansa? Dasar, pertanyaannya membuatku kesal saja."
...Visual Pangeran Kesembilan, Ren von Rivazreich...
__ADS_1