My Arrogant Princess

My Arrogant Princess
Bab 38 Blood


__ADS_3

Pangeran Ramos berhenti dan berbalik ke belakang.


Pelayan itu … Di mana aku pernah melihatnya? Hm, kata Pangeran Ramos dalam hati.


Tidak ingin ambil pusing, ia mulai bermain biola sambil hembusan angin menerpa wajahnya.


Deg!


Biola itu terjatuh bersamaan dirinya mematung.


La-Lagi … Mungkin kembali ke kamar saja, ringis Pangeran Ramos dalam hati.


Pria itu melangkah pergi tanpa mengambil biolanya yang tergeletak di tanah.


......................


Kamar Pangeran Kelima


Pangeran Rui menghela nafas panjang. ‘’Berhenti mengeluh di kamarku.’’


Ia berdiri menghampiri Rakia dan menarik wanita itu keluar.


......................


Taman Istana


Rakia menggerutu sambil menepis tangan Pangeran Rui yang menariknya. ‘’Caramu menarikku sangat kasar!’’


‘’Itu karena kau selalu mengeluh sampai-sampai membuat telingaku bising!’’ kesal Pangeran Rui.


Pangeran Rui memiringkan sedikit kepalanya. ‘’Apakah kau masih kesal karena sikap Kakak Ramos?’’


‘’Humph! Jangan sebut namanya, aku menjadi lebih kesal,’’ gerutu Rakia.


Rakia mengerutkan dahi melihat tatapan Pangeran Rui kepadanya. ‘’Kenapa menatapku seperti itu?’’


‘’Selama ini kau sudah biasa menerima perilaku kasar dari para saudaraku, lalu kenapa baru kali ini kau sangat kesal?’’ tanya Pangeran Rui.


‘’Kau tahu dari mana aku selalu menerima perilaku kasar dari Pangeran yang sudah aku layani? Jangan-jangan kau menguntitku, ya?’’ curiga Rakia.


‘’Omong kosong. Itu karena aku tahu sifat mereka sejak kecil, bahkan aku sendiri tidak ragu bicara kasar padamu jika saja kau bukan wanita yang aku sukai,’’ kata Pangeran Rui tulus.


‘’Berhenti menggodaku. Aku sudah kesal karena Ramos, jangan menambahnya lagi.’’


‘’Tapi yang aku katakan itu benar.’’


‘’Terserah.’’

__ADS_1


Pangeran Rui tersenyum menatap kepergian Rakia, membuatnya menyusul wanita itu.


‘’Mereka semua sama saja, sama-sama menyebalkan,’’ omel Rakia.


Tiba-tiba ia melihat sebuah biola tergeletak di tanah tidak jauh dari tempatnya berdiri. Pangeran Rui yang berhasil menyusul, mengikuti arah pandang wanita itu.


‘’Biola itu sepertinya aku mengenalinya,’’ tatap Rakia.


Keduanya menuju ke arah biola tersebut.


Saat itu juga raut wajah Rakia berubah menjadi kusut. ‘’Biola milik Ramos.’’


‘’Kenapa bisa ada di sini? Kakak Ramos bukan orang yang sembarangan meninggalkan barangnya, apalagi barang berharganya,’’ bingung Pangeran Rui.


‘’Biarkan saja. Dia bisa kembali mencarinya saat menyadari biolanya hilang,’’ kata Rakia.


‘’Kau ini sangat tega, ya? Ambil ini! Kau sudah menjadi pelayan pribadinya, jadi kembalikan kepada Tuan-mu."


Rakia mengembungkan pipi hingga akhirnya menghela nafas panjang. ‘’Baiklah. Marah-marah seperti ini juga hanya membuang tenaga.’’


‘’Itu baru Rakia-ku,’’ senyum Pangeran Rui.


‘’Siapa yang kau panggil Rakia-mu?!’’ kesal Rakia.


Pangeran Rui terkekeh sambil mendorongnya. ‘’Sana, lakukan pekerjaanmu.’’


......................


Rakia meletakkan biola itu di meja.


‘’Kenapa dia hanya memberiku izin masuk sampai siang?’’


......................


Kamar Pangeran Keempat


‘’Uhuk! Uhuk! Uhuk!’’


V Pangeran Ramos terbatuk sambil memegang dadanya.


‘’Haa … Huha … Uhuk!’’


Brack!


Lantai menjadi kotor setelah bermil darah keluar dari mulutnya.


‘’Padahal sudah sejauh ini,’’ kata Pangeran Ramos sambil mengepalkan tangan.

__ADS_1


......................


Terlihat seorang anak perempuan yang duduk memeluk lututnya dipenuhi ketakutan sambil menatap seluruh sisi bangunan tua.


‘’Hiks … Hiks ... Tasukete(Tolong aku).’’


Dari balik pintu, muncul sosok misterius sambil tersenyum.


‘’Hiks … Hiks,’’ tangis bocah perempuan.


‘’Adieu(Selamat tinggal),’’ kata sosok misterius.


Mata bocah perempuan itu membulat besar ketika ruangan tersebut dipenuhi kobaran api.


‘’Ya … mero(hen … tikan) ... Yamero(Hentikan), Yamero(Hentikan)!’’


‘’Yamero(hentikan)!’’ seru Rakia terbangun dengan keringat dingin dan nafas tersengal.


‘’Haa, mimpi itu lagi,’’ kata Rakia lalu menatap jam yang sudah menujukkan pukul 05:00.


Wanita itu bangkit ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Karena tidak bisa tidur lagi, ia berjalan keluar.


‘’Aku jadi tidak bisa tidur. Mungkin sebaiknya mengembalikan biola ini ke kamar Ramos saja.’’


......................


Kamar Pangeran Keempat


Dengan hati-hati, Rakia mengendap-endap di tengah gelap gulita. Ketika mendekat ke meja, ia terpeleset membuatnya melindungi biola itu agar tidak rusak. ‘’Aw....’’


Rakia meletakkan biola sambil mengelus punggungnya.


Lantainya sangat licin, dan apa ini? Kenapa lengket sekali? Sebaiknya aku kembali ke kamar untuk mengganti pakaian, kata Rakia dalam hati.


......................


Kamar Mandi


‘’Sudah tidak bisa tidur gara-gara mimpi buruk, sekarang terpeleset ke lantai. Tapi untunglah biola itu tidak rusak, karena jika tidak ma—‘’ ucapannya terhenti saat Rakia menatap tangannya yang sedang dibersihkan.


Perlahan ia mendekatkan tangannya untuk memastikan baunya. ‘’Eh?’’


Matanya berkedip berulang kali menatap tangan dan dirinya di cermin secara bergantian. ‘’Kenapa darah?’’


Ia mengingat dirinya yang sempat terpeleset di kamar Pangeran Keempat.


‘’Ramos!’’ seru Rakia bergegas pergi tanpa peduli dengan darah di tangannya lagi.

__ADS_1


__ADS_2