My Arrogant Princess

My Arrogant Princess
Bab 114 Kamar Pangeran Keempat


__ADS_3

Kamar Pangeran Keempat


11 Pangeran tampak ragu untuk masuk.


‘’Biar aku saja yang buka,’’ kata Pangeran Rui memutar gagang pintu kamar tersebut.


Ceklek!


Deg!


Semuanya tertegun melihat bercak darah di lantai, di kasur bahkan pakaian di Pangeran Ramos.


‘’Ya Tuhan, pemandangan apa ini?’’ tatap Pangeran Bamie merasa gemetar.


‘’Apakah Ayahanda, Ibunda dan Paman selalu menyaksikan pemandangan seperti ini selama 19 tahun?’’ tanya Pangeran Reonharu.


‘’Rakia sepertinya juga melihat hal ini selama dia menjadi pelayan pribadinya Ramos,’’ kata Pangeran Akakuro.


‘’Kakak Ramos tersiksa sejak umur 5 tahun sampai sekarang, dan kita tidak berbuat apa pun untuknya,’’ kata Pangeran Ren.


Pangeran Rui hanya mengepalkan tangan.


‘’Sekarang aku mengerti kenapa Ramos terpisah dengan kita saat memasuki sekolah militer,’’ kata Pangeran Kurotsukki.


‘’Ah, aku jadi tidak bisa menahan air mataku,’’ sedih Pangeran Zelho.


Mereka pun menghampiri pria berambut putih yang terbaring itu.

__ADS_1


‘’Pantas saja aku merasa kulit Kakak Ramos semakin memutih,’’ sadar Pangeran Aron.


Pangeran Ramos mengerutkan dahi karena mendengar suara. Matanya terbuka perlahan.


Deg!


‘’Ka-Kalian?!’’ seru Pangeran Ramos dengan mata melotot.


‘’Kau sudah bangun? Selamat pagi, ini saatnya sarapan,’’ kata Pangeran Ereri.


Pangeran yang lainnya juga memberinya ucapan selamat pagi.


‘’Maaf karena kamarku seperti ini. Kalian sampai melihat hal yang tidak seharusnya dipandang mata. Aku akan membersih—‘’


‘’Tidak perlu. Kau makanlah dulu dan duduk saja,’’ kata Pangeran Ereri memotong ucapan adiknya itu.


‘’Kami yang akan membersihkannya,’’ kata semua pangeran.


11 pria itu terdiam, meskipun memang benar mereka melakukannya karena merasa kasihan.


‘’Kalau kalian merasa kasihan, sebaiknya itu tidak perlu karena aku akan merasa terhina,’’ kata Pangeran Ramos datar tapi terdengar menusuk.


‘’Tidak Ramos. Tentu saja tidak. Kami hanya menebus hutang yang seharusnya dilakukan 19 tahun yang lalu untukmu,’’ kata Pangeran Kurotsukki.


Pangeran Ramos hanya diam sambil menyantap sarapannya. Sedangkan kesebelas pria tadi melihatnya dengan tatapan iba.


Pangeran Kedelapan, Keenam dan Ketiga mengepel lantai. Pangeran Keduabelas, Ketujuh dan Kedua mengurus saprai. Pangeran Kesembilan dan Kesebelas mengatasi pakaian Pangeran Leempat yang masih belum dicuci.

__ADS_1


Sedangkan Pangeran Kelima hanya diam di tempat.


"Pangeran Kelima, kau kenapa?" tanya Pangeran Ereri.


Pangeran Rui mengepalkan tangan. "Tidak ada apa-apa."


Ia berbalik untuk membantu saudara lainnya yang sedang sibuk bekerja.


Pangeran Ereri hanya diam, sedangkan Pangeran Ramos tidak menggubris dan fokus ke makanannya.


Setelah Pangeran Ramos selesai sarapan di kamar, Pangeran Pertama meramu obat untuknya.


Sampai membuat pewaris utama kerajaan ini melayanimu, sepertinya pengaruh Kakak Ramos ini tidak perlu diragukan lagi, kata Pangeran Aron dalam hati.


"Kalian tidak perlu repot sampai melakukan semua ini," kata Pangeran Ramos.


"Tidak apa-apa. Kami tulus melakukannya," kata Pangeran Kurotsukki.


Pangeran Ramos hanya menatap selimut datar.


Suasana langsung menjadi canggung. Tidak tahu mereka harus bereaksi apa.


"Um, Ramos kalau boleh tahu, kau mengidap penyakit apa?" tanya Pangeran Akakuro.


"Dokter Wo bilang aku mengidap bronchitis, dimana peredangan yang terjadi pada saluran utama pernafasan atau bronkus. Hal inilah yang menyebabkan rasa nyeri saat aku terbatuk, sampai mengeluarkan darah. 89% orang yang mengidap penyakit ini biasanya berujung kematian."


Deg!

__ADS_1


‘’Ramos, kau akan sembuh,’’ kata Pangeran Ereri.


‘’Ya, itu pasti akan terjadi,’’ kata Pangeran Akakuro.


__ADS_2