My Arrogant Princess

My Arrogant Princess
Bab 39 Bekas Luka Bakar


__ADS_3

Kamar Pangeran Keempat


Rakia membuka pintu dengan nafas tersengal. Ia kemudian menekan saklar lampu. Matanya membulat besar melihat bekas terpelesetnya di lantai itu yang penuh darah.


‘’Ra-Ramos,’’ ucap Rakia dengan tangan gemetar sambil menarik selimut sedikit demi sedikit.


Ia membengkap mulutnya melihat darah di sebagian sisi pakaian pria itu.


‘’Mmm, sia … pa?’’ tatap Pangeran Ramos tersadar.


Deg!


‘’Kau?! Apa yang kau lakukan di kamarku?!’’ seru Pangeran Ramos bangkit.


Pria itu menatap lantai dan seragam serta tangan Rakia yang dipenuhi darah.


Pangeran Ramos memejamkan mata sambil mengepalkan tangan.


Dia melihatnya, kata Pangeran Ramos dalam hati.


‘’Anda mempunyai penyakit? Kenapa tidak menghubungi dokter? Anda bahkan memuntahkan da—‘’


‘’Sudah kubilang jangan masuk ke kamar tanpa izin dariku. Tapi, karena sudah terlanjur, anggap saja kau tidak melihat apa pun dan jangan sampai membocorkan kejadian ini,’’ kata Pangeran Ramos.


‘’Tunggu! Kenapa menga—‘’


‘’Kore wa mereda(Ini adalah perintah)!’’ kata Pangeran Ramos memotong ucapan Rakia sambil menatap wanita itu dingin.


Karena merasa kesal, Rakia memilih pergi.


‘’Apa-apaan sikapnya itu?! Kondisinya memburuk tapi dia menyangkalnya dan bersikap santai?’’


Bugh!


‘’Akh!’’ ringis Rakia terjatuh saat menabrak seseorang.


‘’Rakia?! Tanganmu berdarah?’’ cemas Pangeran Rui.


‘’Eh? Ah … Hem … Mm,’’ jawab Rakia tidak bisa berkata-kata.


Pangeran Rui menariknya ke kamar. ‘’Sini aku obati.’’


‘’Sepagi ini kau habis dari mana?’’


‘’Itu, tanganku baik-baik saja,’’ kata Rakia hendak menarik tangannya.


‘’Darah sebanyak ini mana bisa kau baik-baik saja? Lain kali jangan ceroboh,’’ kata Pangeran Rui menahan tangan Rakia.


‘’Aku yang terluka, kenapa malah kau yang merasa sakit?’’ tanya Rakia.

__ADS_1


‘’Aku ini sedang mencemaskanmu!’’ kesal Pangeran Rui.


‘’Puff! Terima kasih karena sudah mengobati tanganku, aku pergi dulu.’’


‘’Haa, kenapa wanita itu selalu saja membuatku khawatir?’’


......................


Kamar Rakia


‘’Dia sangat mencemaskanku karena mengira ini adalah darahku. Aku jadi merasa bersalah, tapi Ramos ... Argh! Dia masih membuatku kesal.’’


Rakia kembali ke kamar Pangeran Keempat.


‘’Kamarnya kosong? Jangan-jangan....’’


......................


Taman Istana


Dari jauh, Rakia melihat Pangeran Ramos bermain biola. Pangeran Ramos menghentikan aktivitasnya menyadari kedatangan Rakia.


‘’Hem! Apa yang aku lakukan di sini? Aa! Aku baru ingat, aku harus mengganti saprai,’’ kata Rakia hendak pergi.


‘’Bisa bicara sebentar?’’ pinta Pangeran Ramos membuat langkah Rakia terhenti.


‘’Aku punya penyakit saat umur 5 tahun. Awalnya tidak parah tapi karena sering batuk yang disertai darah, Ayahanda tidak memperbolehkan diriku keluar kamar. Jadi, tidak ada yang mengetahuinya selain Ayahanda dan Ibunda.’’


Rakia hanya diam mendengar.


‘’Mau kuberitahu sesuatu yang menarik? Karena penyakitku ini, aku tidak akan bisa bertahan sampai setengah tahun ini.’’


Mata Rakia membulat besar menatap pria itu.


‘’Aku menyuruh dokter agar tidak membocorkan hal ini, dengan begitu aku bisa pergi dengan te—‘’


Plak!


Wajah Pangeran Ramos menghadap ke satu sisi sambil tertegun. Ia menatap Rakia yang berdiri di hadapannya setelah wanita itu memberi tamparan.


‘’Kau pikir dengan menyembunyikan hal ini kepada keluargamu dan pergi tanpa mengucapkan sesuatu membuat mereka bahagia? Tentu saja tidak! Keluargamu akan dipenuhi rasa bersalah karena tidak mengetahuinya sejak awal,’’ omel Rakia.


Butiran air mata pangeran Ramos terjatuh. ‘’Aku sangat ingin hiks … Hiks … Memberitahu mereka hiks … Tapi, aku tidak ingin keluargaku sedih.’’


Karena merasa iba, Rakia memeluk pria itu. ‘’Mulai sekarang lebih terbukalah kepada mereka.’’


Pangeran Ramos tertegun karena wanita itu memeluknya. Tangannya terulur memeluk pinggang Rakia. Dari jauh, Pangeran Rui meninggalkan taman setelah menyaksikan pemandangan itu.


......................

__ADS_1


Kamar Pangeran Keempat


Aku menamparnya. Habislah, kata Rakia dalam hati dengan wajah bodohnya.


‘’Aa! Aku belum mengganti saprainya,’’ kata Rakia mencari kelakuan baik.


‘’Ya sudah, ganti saprainya selagi aku mandi, setelah itu kau boleh pergi.’’


Rakia menghela nafas melihat pria itu berjalan masuk ke kamar mandi. "Dia tidak marah aku menamparnya, ya?"


......................


Kamar Mandi


Pangeran Ramos menyalakan shower, membiarkan air membasahi tubuhnya sambil mengingat Rakia memeluknya tadi. Wajahnya langsung merona.


Ceklek!


‘’Kau belum selesai?’’ tanya Pangeran Ramos yang baru saja keluar dari kamar mandi.


‘’Jarak kamar Anda sangat jauh, bagaimana saya bisa tiba di sini dengan cepat?’’ jawab Rakia.


Pangeran Ramos menghela nafas dan hendak memakai pakaian. Ia membuka jubah handuk mandinya sampai pinggang. Rakia yang selesai merapikan kasur tanpa sengaja menatap pantulan cermin.


Deg!


Rakia berbalik dan melihat punggung Pangeran Ramos.


Bekas luka bakar itu, apakah dia....


‘’Pangeran Ramos?’’


Pangeran Ramos yang menyadari Rakia melihat bekas luka bakar di punggungnya, segera memasang atasan piyama. ‘’Ini sudah malam, kau boleh pergi.’’


Dengan perasaan yang tidak puas, Rakia membungkuk lalu pergi.


Tidak mungkin. Selama ini aku penasaran dengan sosok penyelamatku sampai aku rela membuang egoku untuk menjalani hukuman ini, tapi … Tapi kenapa?! Kenapa sosok penyelamatku adalah pria yang mengidap penyakit, dan sebentar lagi akan tiada? Cih, kata Rakia dalam hati.


Rakia menghentikan langkahnya dan berdiri gemetar. Air matanya semakin deras mengalir membuatnya berlari.


Bugh!


Ia terjatuh dan mendongakkan kepala.


‘’Rakia, kenapa kau mena—‘’


‘’Rui hikss … Hiks!’’ tangis Rakia langsung berdiri memeluk pria itu.


‘’Apa yang terjadi?’’

__ADS_1


__ADS_2