
Jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari. Tapi belum ada yang tidur sama sekali. Mereka benar-benar dilema memikirkan solusi. Kalau media sampai tahu tentang masalah sekarang, dan kematian Pangeran Keempat diketahui publik, maka kedua kerajaan ini akan hancur.
“Rakia!” seru seseorang membuat semua menoleh.
Deg!
Sama seperti Putri Rakia dan Pangeran Rui yang kaget melihat wajahnya, semua orang di sana juga sama kagetnya.
“Pangeran Keempat?!” pekik semuanya.
Ratu Rivazreich langsung berlari memeluk Ramos. “Hiks, hiks, Pangeran Keempat Apakah ini benar-benar Anda?”
Namun pelukan itu tidak berlangsung lama, saat Raja memerintahkan prajurit untuk memisahkan mereka berdua.
“Ratu, dia bukan Pangeran Keempat! Dia penjahat yang menyamar sebagai Pangeran Keempat, dan kejahatan ini tidak akan pernah aku terima. Tangkap penipu ini! Aku sebagai Raja akan mengeksekusinya sendiri secara langsung!” perintah Raja.
Ramos menatap Raja tajam. “Di mana Rakia?”
“Beraninya kau menyebut nama Putri Ketiga secara langsung!” seru Kaisar.
......................
Bangunan Tua
Pangeran Rui bergegas masuk dan membuka pintu dengan kasar. “Rakia!”
Deg!
Pria itu tertegun melihat wanita yang ada di dalam ruangan itu adalah Mezool.
__ADS_1
“Rui, kau kembali?” senyum Mezool.
“Apa maksudnya ini? Kenapa kau ada di sini?” tanya Pangeran Rui.
“Apa maksudmu? Aku bahkan belum meninggalkan ruangan ini sejak tadi. Seharusnya aku yang bertanya, kenapa kau kembali? Bukankah kau ingin menyelamatkan Rakia?”
Pangeran Rui berdecih dan meninggalkan kamar itu. Ia kembali menyusuri bangunan itu untuk mencari Putri Rakia.
Deg!
Berapa kali pun ia menyusuri semua ruangan, ia tetap akan kembali ke ruangan Mezool.
“Cukup! Berhenti mempermainkanku! Kenapa sejak tadi aku selalu berakhir di sini?” tanya Pangeran Rui mulai emosi.
Mezool tersenyum. “Itu karena bangunan ini adalah labirin.”
......................
Ruang Eksekusi
Di sisi kanan terlihat tali menggantung dan di sisi kiri terlihat mangkuk kecil berisi racun. Raja memberinya pilihan untuk mati dengan cara apa.
......................
“Katakan di mana Rakia?!” seru Pangeran Rui mencengkeram bahu Mezool.
“Kau masih ingin melindunginya? Kenapa kau begitu peduli padanya?!” seru Mezool.
Pangeran Rui membenci wajah Mezool di depannya yang dibuat-buat itu. Ia menggertak gigi. “Aku melindunginya bukan karena peduli! Tapi aku mempunyai janji yang harus kutepati kepada Kakak Ramos!”
__ADS_1
Mezool tersenyum remeh. “Heh, Rui ... Kau selalu begini, menggunakan orang lain untuk menyelamatkan perasaanmu.”
......................
Di sisi lain, Putri Rakia tidak bisa berkata-kata. “Ke-Kenapa?”
Sosok itu kembali tersenyum sama seperti 19 tahun yang lalu. Senyuman yang menghantuinya selama ini.
“Di masa depan, kau adalah salah satu kunci keberhasilanku. Kalau sampai gagal maka kau akan aku buang bersama kunci yang lainnya. Apakah kau masih ingat perkataanku ini?”
“Jadi Anda mencuci otak Kamiya-kun?” tanya Putri Rakia.
“Dokter Wo, ya? Dia merupakan kunci emasku. Tanpa dirinya semua usahaku tidak akan berhasil. Beberapa menit kemudian akan menentukan hidup kalian. Semua kunci hampir terkumpul, masih tersisa satu kunci lagi, barulah para kunciku akan lengkap. Kalau begitu aku akan pergi menjemput kunci emasku yang satunya dulu.”
......................
Ruang Eksekusi
Ramos masih diam menatap kedua hukuman mati di depannya.
Ternyata yang dikatakannya benar. Mereka tidak mengakui keberadaanku. Ini kedua kalinya mereka semua menginginkan aku mati. Baiklah, kata Ramos dalam hati.
......................
Apartemen
Ramos spontan berdiri setelah menerima pesan.
Mereka ingin membunuh Rakia hari ini. Tapi kau akan mustahil bertemu dengannya. Kemungkinan besar, mereka akan memberimu 2 pilihan hukuman mati. Tapi setelah kau sudah membulatkan hatimu, maka beritahu mereka hal ini, mungkin Rakia akan selamat. (Pangeran Ramos teringat)
__ADS_1
Semua mengerutkan dahi melihat Ramos menulis angka-angka, sebelum pria itu memilih meminum racun di dalam mangkuk kecil.
Kaisar Helios spontan berdiri dengan mata membulat besar. “Angka-angka itu!”