
Rakia berjalan sambil termenung.
Kenapa Haruka mengatakan aku, Rui dan Mezool terlibat kecelakaan? Apakah Rui yang membuatnya seolah-olah adalah kecelakaan? Aku tidak ingat apa-apa setelah aku jatuh pingsan malam itu. Apalagi Rui juga mempunyai bekas luka bakar yang sama dengan Ramos, ucapnya dalam hati.
Ia terhenti dari langkahnya, sebelum akhirnya bergegas pergi.
......................
Kamar Pangeran Keempat
Ceklek!
Seperti biasa, begitu ia masuk pria itu masih terbaring di kasur dengan kondisi seperti ini. Rakia terdiam menatap Pangeran Ramos yang tertidur. Tatapannya menjadi sendu melihat saprai pria itu dipenuhi darah.
Rakia belum pernah bertemu dengan Pangeran Ramos semenjak keluar dari kamar pria itu saat dirinya diacuhkan. Tangannya terulur untuk memegang dahi Pangeran Ramos, tapi sesuatu mengganggunya sehingga uluran tangannya terhenti.
Di antara kalian berdua, siapa sebenarnya sosok penyelamatku? Haa, sedih Rakia dalam hati.
Dahi Pangeran Ramos berkerut membuatnya tersadar. ‘’Rakia?’’
Rakia dengan cepat menarik tangannya yang berniat memegangnya tadi.
‘’Kenapa ka— akh!’’ ringis Pangeran Ramos.
‘’Ramos, kau tidak meminum obatnya secara rutin?’’ tanya Rakia menyadari.
‘’Untuk apa? Bukankah sama saja aku akan meninggal?’’
Rakia tertegun mendengar nada suara pria itu terdengar dingin. ‘’Eh?’’
Pangeran Ramos memalingkan kepalanya agar tidak melihat Rakia. ‘’Aku sudah lelah berjuang dengan hasil yang sama sekali tidak pasti.’’
__ADS_1
‘’Kau menyerah?’’ tanya Rakia dengan nada kecewa.
‘’Kenapa?’’ tanya Pangeran Ramos dingin.
Rakia mengerutkan dahi. ‘’Ramos, kau kenapa lagi?’’
‘’Aku ingin istirahat,’’ kata Pangeran Ramos mengabaikan.
‘’Kau sudah berjanji akan sembuh demi diriku, lalu kenapa sekarang kau mengingkarinya?’’
‘’Omaewa kankenai(Itu bukan urusanmu),’’ jawab Pangeran Ramos.
‘’Ramos!’’ seru Rakia.
Pangeran Ramos menatap Rakia. ‘’Kalau begitu jawab pertanyaanku. Kenapa kau tidak pernah datang kemari semenjak kau datang meluruskan masalah kita?’’
Ha? Bukankah dia sendiri yang menyuruhku pergi waktu itu? Kenapa aku yang terlihat bersalah? Dasar, gerutu Rakia dalam hati.
Rakia terdiam. Ingatannya kembali terputar mengenai insiden itu.
‘’Apakah karena Rui, kau tidak datang kemari?’’
‘’Te-Tentu saja bukan. Kondisiku memburuk jadi aku istirahat,’’ jawab Rakia.
‘’Uso jyanai(Jangan bohong). Aku melihat semuanya. Mezool meninggal bukan karena mengalami kecelakaan, melainkan … Bunuh diri.’’
Deg!
Tubuh Rakia kembali bergetar hebat sambil memegang sebelah lengannya.
‘’Kau melihat bekas luka bakar milik Rui saat kau membantu membuka atasannya. Dua pria yang memiliki bekas luka bakar yang sama, bukankah mengganggu pikiranmu?’’ tebak Pangeran Ramos.
__ADS_1
Rakia berusaha menenangkan dirinya, hingga akhirnya ia menghela nafas. ‘’Benar. Kalau saja aku tahu wajah sosok penyelamatku, maka aku tidak akan sebingung ini. Awalnya aku mengira sosok penyelamatku adalah kau karena melihat bekas luka bakar milikmu hari itu. Tapi ternyata Rui juga memiliki bekas luka bakar.’’
Pangeran Ramos mengepalkan tangan. ‘’Jadi kau meragukan diriku di antara kami berdua?’’
‘’Bukan seperti itu. Maksudku ka—‘’
‘’Kau memang berpikir seperti itu Rakia!’’ marah Pangeran Ramos memotong ucapan.
Rakia tidak bisa berkata apa-apa, membuat Pangeran Ramos menggertak gigi.
‘’Meskipun kau tidak mengingatnya, bisakah kau percaya kepadaku?’’ tanya pria itu dengan wajah sendu.
‘’Tapi Rui?’’ bingung Rakia.
Pangeran Ramos menyandarkan kepalanya di dada Rakia. ‘’Tidak peduli dia memiliki bekas luka bakar yang sama denganku ... Aku hanya ingin kau percaya bahwa aku datang menyelamatkanmu saat insiden 19 tahun yang lalu. Percayalah padaku Rakia.’’
Deg!
Pria itu tertegun karena Rakia memeluknya dengan lembut.
‘’Aku percaya meskipun tidak mengingat apa pun. Tidak peduli siapa yang menyelamatkan diriku bahkan jika itu bukan dirimu, aku akan tetap percaya kepadamu,’’ kata Rakia.
Butiran air mata Pangeran Ramos terjatuh. Apalagi pucuk rambutnya dielus lembut oleh Rakia.
‘’Jadi jangan berhenti meminum obatmu, ya?’’
Pangeran Ramos mengangguk sambil memeluk pinggang Rakia dengan erat.
Maaf. Aku terpaksa melakukannya agar kau kembali meminum obat. Tapi, aku harus memastikan secepatnya siapa di antara kalian berdua yang menyelamatkanku, sedih Rakia dalam hati.
Dari luar kamar, Pangeran Rui hanya terdiam.
__ADS_1