
Mansion Pribadi Pangeran Kelima
Keduanya masuk dengan pakaian yang basah kuyup. ‘’Jadi beberapa hari ini kau di sini?’’
Pangeran Rui mengerutkan dahi melihat Rakia. ‘’Itu raut wajah yang menakutkan.’’
Rakia menghela nafas panjang, dan menatap pria itu dengan raut wajah bodohnya. ‘’Jika tahu seperti ini, aku tidak perlu sampai menyusulmu keluar.’’
‘’Sebaiknya ganti pakaian dulu. Karena tidak ada pakaian wanita di sini, kau pakai pakaianku saja,’’ kata Pangeran Rui berlalu duluan.
‘’Apa? Tidak ada pakaian wanita?’’ tanya Rakia terkekeh dengan maksud mengejek.
‘’Apa yang kau tertawakan?’’ bingung Pangeran Rui.
‘’Maksudku, kau itu seorang Pangeran,’’ kata Rakia yang masih membuat Pangeran Rui bingung.
‘’Bicaralah dengan jelas,’’ kata Pangeran Rui sedikit risih.
‘’Seorang Pangeran sekaligus model sepertimu, kenapa tidak memiliki seorang kekasih? Makanya aku heran saat kau mengatakan tidak ada pakaian wanita di sini, ah jangan bilang … Kau tidak memiliki seorang kekasih sampai saat ini?’’ tebak Rakia.
Pangeran Rui menatapnya kesal.
Kenapa dia sangat tidak peka? Aku tidak memiliki kekasih juga karena siapa, tentu saja karena dirimu, kata Pangeran Rui dalam hati.
Rakia mengatupkan kedua tangannya sambil terkekeh melihat kepergian pria itu. Ia menyusul dari belakang, tetapi langkahnya tiba-tiba lunglai, entah kenapa ia merasa pusing.
Eh? Kenapa aku seperti ingin terjatuh? Sepertinya a—
Bugh!
Beruntung Pangeran Rui berhasil menangkap tubuh Rakia.
‘’Tubuhnya panas! Ah jangan bilang dia terkena demam gara-gara kehujanan sejak pagi? Dasar bodoh, menungguku selama itu kenapa tidak menghubungiku saja? Tapi, dia tidak mengetahui nomor ponselku, ah lupakan itu dulu.’’
......................
Kamar
__ADS_1
Pangeran Rui meletakkan tubuh Rakia di kasur yang masih dalam keadaan basah kuyup. Pria itu memanggil pelayan untuk membantu melepaskan pakaian Rakia.
‘’Hei! Kenapa lama sekali? Apakah kalian ingin aku pe—‘’ ucapan Pangeran Rui terhenti saat dirinya sadar kalau mereka sedang tidak berada di istana, tetapi di mansion pribadinya.
Pria itu langsung terbelalak sambil menunjuk dirinya. ‘’Tunggu, apakah aku yang harus mengganti pakaiannya?’’
Pangeran Rui memegang tengkuk hidungnya. Perlahan tangannya terulur untuk menyentuh Rakia.
‘’Ah, aku tidak bisa melakukannya!’’ gerutu Pangeran Rui berdiri.
Ia menelan saliva sambil memandangi tubuh Rakia. ‘’Eish, jika tidak segera melepaskan pakaiannya, maka demamnya akan semakin tinggi. Argh, Rakia maaf aku tidak punya pilihan lain.’’
......................
Keesokan harinya…
Pangeran Rui membuka matanya lalu menatap Rakia yang terbaring di sampingnya. Tangannya memegang dahi wanita itu untuk mengecek suhu tubuh. ‘’Semakin panas! Sebaiknya aku panggil dokter.’’
Pria itu bangkit dan meraih ponselnya. Setelah mondar mandir, seorang dokter wanita datang.
Pangeran Rui yang frustasi hanya mengangguk. ‘’Cepat periksa dia!’’
Dokter wanita itu menatap Rakia sejenak.
Eh? Di mana aku pernah melihat wanita ini? Apakah dia kekasih Pangeran? Eh, kata dokter dalam hati.
‘’Kenapa kau malah diam? Cepat periksa keadaannya!’’ tegur Pangeran Rui.
Beberapa menit kemudian…
‘’Bagaimana?’’
‘’Pangeran tidak perlu khawatir. Beberapa hari ke depan demamnya akan turun jika Anda rutin memberinya obat ini. Anda bisa memberinya meskipun dia tidak sadar,’’ kata dokter wanita.
‘’Baiklah, kau boleh pergi,’’ kata Pangeran Rui membuat dokter wanita itu membungkuk.
Pangeran Rui melihat obat itu. ‘’Karena kau sudah pernah merawatku, sekarang giliranku untuk balas budi.’’
__ADS_1
......................
Pria itu akan mandi lalu sarapan, setelah itu menuju ke kamar untuk meneteskan obat ke dalam mulut Rakia, serta mengompres dahi wanita itu. Hal ini terulang untuk beberapa hari.
‘’Kyaa!’’ teriak Rakia bangkit membuat pria di sampingnya terbangun.
‘’Rakia, akhirnya kau sadar juga!’’
‘’Kenapa kita satu ranjang?’’
‘’Karena hanya ada satu di sini.’’
‘’Berapa lama aku tidak sadarkan diri?’’
‘’Sekitar 4 hari.’’
Rakia tercengir dengan mimik wajah tertahan. ‘’Selama itu kita berdua tidur dalam satu ranjang?’’
Pangeran Rui mengangguk polos.
‘’Apakah kau juga yang melepaskan pakaianku?’’
Pangeran Rui menutup bibirnya dengan punggung tangan. "Ehem! Itu...."
Rakia mengepalkan tangan lalu menjitak pria itu.
‘’Apakah ini balasanmu kepada orang yang sudah merawatmu?!’’ kesal Pangeran Rui.
‘’Siapa yang memberimu hak membuka pakaian dan bahkan menyentuhku?!’’ kesal Rakia.
‘’Aku memang membuka pakaianmu, tapi aku tidak melihatnya! Aku memalingkan wajah saat melepaskannya.’’
‘’Bagaimana aku percaya semudah itu?!’’
‘’Terserah padamu saja! Demammu sudah turun, kita akan kembali ke istana.’’
Rakia menunduk sambil menatap tubuhnya. ‘’Argh, tubuhku jadi ternodai.’’
__ADS_1