My Arrogant Princess

My Arrogant Princess
Bab 37 Pangeran Keempat


__ADS_3

Kerajaan Rivazreich


Rakia menghela nafas panjang. ‘’Dari sekian orang, kenapa harus dia yang pertama kali aku lihat saat kembali?’’


Haruka yang berdiri di koridor istana menatapnya tajam. ‘’Rakia, kau sudah melewati batas sebagai seorang pelayan, ya?’’


‘’Apa maksudmu?’’ tanya Rakia malas.


‘’Beberapa hari ini kau tidak berada di dalam istana, dan malah keluar bersama Pangeran Rui. Kau bertingkah sesuka hatimu saja,’’ kata Haruka.


Dia menginterogasiku seperti buronan saja, kata Rakia dalam hati.


"Terima kasih karena kau repot-repot menyambutku pulang," senyum Rakia.


‘’Untuk apa aku menyambutmu?!’’ marah Haruka.


Rakia mendorong Haruka ke samping. ’’Kalau begitu biarkan aku lewat. Aku sangat lelah menemani Rui liburan.’’


Haruka mencoba menahan emosinya. ‘’Kau sungguh tidak sopan seperti biasa, dengan menyebut nama Pangeran secara langsung, apakah kau tidak diajari tata krama?’’


Rakia berbalik dengan raut wajah lesu. ‘’Bisa tidak jangan ikut campur dengan urusanku? Aku muak melihat wajahmu yang terus muncul mencari masalah denganku.’’


‘’Kau bilang apa?!’’ seru Haruka.


‘’Aku muak melihat wajahmu yang terus muncul mencari masalah denganku,’’ ulang Rakia lalu berbalik pergi.


Haruka mengepalkan tangan dengan urat lehernya yang sudah menegang. ‘’Sono on’nanoko(Wanita itu)!’’


......................


Kamar Rakia

__ADS_1


Wanita itu hanya mandi dan mengganti pakaian, lalu kembali ke kamar Pangeran Kelima.


‘’Aa! Aku lupa membuatkan sarapan untukmu,’’ kata Rakia hendak pergi.


Pangeran Rui mencegahnya, membuat wanita itu berbalik dengan raut wajah bingung.


‘’Tidak perlu. Aku juga sudah memberitahu Pangeran Keempat agar tidak terlalu merepotkanmu untuk sementara, karena kau baru saja sembuh.’’


‘’Eh? Pangeran Keempat? Apa hubungannya denganku?’’


‘’Hari ini bukankah kau melayani Pangeran selanjutnya?’’ tanya Pangeran Rui mengingatkan.


Rakia tersadar. ‘’Benar juga. Aku terkena demam hampir satu minggu. Kalau begitu aku pergi.’’


Saat ia berbalik, sebuah tangan menariknya. ‘’Eh?’’


Cup!


Pangeran Rui mengecup pipi Rakia lembut.


Pangeran Rui tersenyum manis. ‘’Salam perpisahan.’’


‘’Ha?’’ protes Rakia yang memegang pipi kanannya.


‘’Kau sudah pernah memberiku salam sambutan saat pertama kali bertemu, jadi giliranku memberi salam perpisahan,’’ kata Pangeran Rui polos.


Rakia mengerutkan dahi tanda kesal. ‘’Kapan aku memberimu salam sambutan?!’’


‘’Sekarang kita berdua impas,’’ kata Pangeran Rui tersenyum puas sambil menaikkan alisnya.


‘’Kau ini bicara apa? Aku pergi!’’ gerutu Rakia meninggalkan kamar.

__ADS_1


Wanita itu mengomel semenjak dirinya keluar, sampai-sampai dirinya menabrak seseorang.


Bugh!


‘’Akh! Hei, kalau jalan lihat-lihat. Bagaimana jika aku k—‘’ ucapan Rakia terpotong saat melihat seorang pria berambut putih menatapnya dingin.


Rakia mengerutkan dahi.


Ada apa dengan tatapannya itu? Stt, kata Rakia dalam hati.


Pria berambut putih itu hanya mengabaikannya sambil memasuki kamar.


‘’Jangan-jangan … Dia Pangeran selanjutnya yang akan aku layani?’’


Rakia ikut menyusul masuk ke dalam kamar pria tadi. Tanpa sengaja, pandangannya menangkap sesuatu.


Itu biola, kan? Jadi, dia orang yang pernah aku lihat saat di taman waktu itu, pikir Rakia dalam hati.


Tidak ada pembicaraan membuat Rakia sedikit canggung, dan memulai duluan. ‘’Pangeran, saya Rakia pelayan pribadi Anda.’’


Pangeran itu menatap ke luar jendela tanpa berbalik. ‘’Dai Shi Ouji(Pangeran Keempat), Ramos von Rivazreich.’’


‘’Rui sudah memberitahuku tentang kondisimu. Jadi untuk beberapa hari kau boleh istirahat.’’


‘’Saya sudah merasa lebih baik.’’


‘’Lakukan tugasmu layaknya seorang pelayan. Jangan berbicara padaku seolah-olah kita berdua sudah akrab, dan satu lagi … Aku hanya memberimu izin masuk sampai siang, selain yang kusebutkan jangan masuk ke kamar tanpa izin dariku.’’


Rakia menatap kepergian Pangeran Ramos yang membawa biola.


Apa-apaan sikapnya itu? Tatapan dingin dan lidah yang tajam, dia lebih menyebalkan dibandingkan Rui. Beraninya berkata seperti itu padaku, kata Rakia dalam hati.

__ADS_1


...Visual Pangeran Keempat, Ramos von Rivazreich...



__ADS_2