
Prank!
‘’Mezool!’’ pekik Pangeran Rui yang tiba-tiba datang.
Sedangkan Mezool, wanita itu meringis memegang tangannya yang disiram teh panas.
‘’Rakia, apa yang kau lakukan?’’ tanya Pangeran Rui.
‘’Kau tidak lihat? Aku juga basah kuyup, dia sendiri yang duluan menyiramiku air!’’ kesal Rakia.
Mezool memasang wajah sedih sambil dirinya meringis. ‘’Aku tidak sengaja menumpahkan air ke arahnya karena dia tiba-tiba lewat di depanku.’’
‘’Tidak sengaja?!’’ seru Rakia semakin kesal dengan alis berkerut.
Pangeran Rui menatap Rakia dengan tatapan tidak menyangka. ‘’Kenapa kau begitu jahat padanya? Aku sungguh tidak mengerti kenapa kau seperti ini? Mezool, kita obati dulu tanganmu di kamarku, tidak perlu meladeni wanita ini lagi.’’
Rakia yang melihat kepergian 2 orang itu menghela nafas kasar.
‘’Heh? Dia sungguh percaya yang dikatakan wanita itu,’’ tatap Rakia habis pikir.
Flashback on
Belum sempat Rakia tiba di kamar Pangeran Ereri, seorang pelayan menghampirinya.
"Rakia, kau sebaiknya segera ke taman."
Dahi Rakia berkerut. "Kenapa ke taman? Apakah Pangeran Pertama ada di sana?"
Pelayan itu menggeleng. "Bukan Pangeran Pertama, tapi aku diutus oleh Nona Mezool untuk menyuruhmu ke taman."
__ADS_1
Raut wajah Rakia langsung kusut mendengar nama Mezool.
......................
Taman
Rakia menatap Mezool dengan serius karena dirinya tiba-tiba diminta menemui wanita ini. ‘’Kenapa tiba-tiba memanggilku?’’
‘’Aku sudah baik memanggilmu, tapi cara bicaramu masih tidak sopan seperti biasa,’’ kata Mezool sambil menopang dagu.
‘’Kalau tidak ada hal yang penting, aku akan pergi,’’ kata Rakia dengan raut wajah malas.
Mezool tersenyum. ‘’Tidak perlu buru-buru, aku ini sedang ingin mengobrol denganmu.’’
*Sebelah alis Rakia terangkat tanpa menjawab ucapan Mezool. Meskipun tidak sudi, ia tetap duduk di hadapan wanita seumurannya itu.
Mezool terus saja tersenyum ramah, berbeda dengan Rakia yang menatapnya dingin*.
‘’Mengenai kesalahpahaman Rui? Humph! Kenapa aku harus menjawabnya?’’ tanya Rakia.
‘’Tidak menjawabnya juga tidak apa-apa, karena aku tahu bagaimana perasaan wanita manis di depanku ini. Jadi, sekeras apa pun usahamu, Rui tidak akan percaya padamu,’’ tatap Mezool merendahkan.
Rakia tersenyum sambil menundukkan sedikit kepalanya. ‘’Sungguh?’’
Senyuman Mezool langsung luntur saat melihat reaksi Rakia.
‘’Oh iya. Sebelum kau datang, Rui pernah menyatakan perasaannya padaku.’’
Mata Mezool membulat besar.
__ADS_1
‘’Sampai sekarang aku masih belum memberinya jawaban. Sedikit saja aku memancing perasaan Rui, kita lihat apakah sandiwaramu itu masih dipercayainya,’’ senyum Rakia.
‘’Gadis jal**g, beraninya kau menggertakku dengan alasan seperti itu,’’ kata Mezool tertahan.
Rakia mengangkat kedua bahu. ‘’Kau sendiri yang bilang kalau Rui menyukaiku, lalu kenapa tidak percaya dengan perkataanku?’’
‘’Omong kosong,’’ kata Mezool.
‘’Rui memang menyukaiku entah kau percaya atau tidak,’’ kata Rakia.
‘’Bohong,’’ kata Mezool setenang mungkin.
‘’Kita berdua bahkan sudah ber-ci-u-man,’’ pancing Rakia.
Mezool melotot lalu meraih Jug kemudian menyiram Rakia.
Byur!
Rakia membuka matanya setelah dirinya basah kuyup. ‘’Tanganmu itu cukup agresif juga.’’
Tangan Rakia terulur memegang cangkir teh. ‘’Aku penasaran, apakah tanganmu masih bisa seagresif tadi setelah terkena air panas ini?’’
‘’Mezool!’’ pekik Pangeran Rui yang tiba-tiba datang.
Sedangkan Mezool, wanita itu meringis memegangi tangannya yang disiram teh panas.
‘’Rakia, apa yang kau lakukan?’’ tanya Pangeran Rui.
Flashback off
__ADS_1
Mata Rakia hanya berkaca-kaca melihat kepergian 2 orang tadi. ‘’Cih!’’