My Arrogant Princess

My Arrogant Princess
Bab 130 Meminta Privasi


__ADS_3

Aula


Muncul Pangeran Kairi datang menyambut. ‘’Pangeran Keempat, Anda datang di jam segini?’’


Pangeran Ramos tersenyum lemah. ‘’Maaf karena mendadak datang tanpa memberi kabar terlebih dahulu. Bagaimana keadaan Putri Ketiga?’’


‘’Anda mengetahuinya?’’ tanya Pangeran Kairi tidak percaya.


‘’Iya,’’ jawab Pangeran Ramos mengangguk.


Pangeran Kairi menghela nafas. ‘’Putri Ketiga sudah ditangani, akan tetapi dia tidak akan sadar untuk sementara waktu.’’


Kedua pria itu hanya memasang raut wajah sedih begitu juga kedua pengawal pribadi dari masing-masing kerajaan.


‘’Bisakah aku uhuk! Melihatnya?’’ tanya Pangeran Ramos lemah.


‘’Tentu saja. Yang Mulia juga masih ada di kamar Putri Ketiga. Anda bisa sekalian bertemu dengannya,’’ kata Pangeran Kairi menuntun jalan.


......................

__ADS_1


Koridor istana


Pangeran Kairi menatap pria berambut putih di depannya itu. Kulitnya semakin pucat, juga terlihat jelas keringat membasahi dirinya. Ia juga mendengar nafas pria itu tidak karuan, tapi sekuat tenaga berjalan tenang.


‘’Pangeran Keempat, Anda baik-baik saja? Anda tampak kurang sehat,’’ kata Pangeran Kairi.


‘’Mohon maaf Pangeran. Kondisi Pangeran Keempat memang sedang tidak baik. Pangeran Keempat sebenarnya juga menjalani perawatan karena habis mengeluarkan banyak da—‘’


‘’Aku baik-baik saja,’’ senyum Pangeran Ramos memotong ucapan pengawal Mori.


Meskipun begitu, Pangeran Kairi tetap tahu dengan apa yang ingin disampaikan pengawal Mori barusan.


Kondisinya memburuk tapi demi Rakia, dia rela datang jauh-jauh kemari tidak peduli saat ini hampir pagi, tanpa memikirkan dirinya. Haa, cintanya begitu besar untuk Rakia, ini pertama kalinya ada pria lain yang mengalahkan rasa sayangku kepada Rakia. Kurasa aku akan tenang kalau pria di sampingku ini akan menjadi pendamping hidup Rakia, tidak peduli dia memiliki penyakit, kata Pangeran Kairi dalam hati.


......................


Ceklek!


Pangeran Ramos dan Pengawal Mori tertegun melihat Putri Rakia terbaring dengan infus dan alat bantu pernafasan. Keduanya membungkuk memberi salam kepada Kaisar Helios yang masih setia duduk memandangi salah satu anaknya itu.

__ADS_1


‘’Salam Yang Mulia.’’


‘’Pangeran Keempat, Anda bahkan datang secara langsung kemari,’’ kata Kaisar Helios.


Pangeran Ramos membungkuk. ‘’Maaf karena kedatangan mendadak saya tidak sopan. Saya datang tanpa meminta izin terlebih dahulu kepada Yang Mulia.’’


Kaisar Helios hanya diam. Untuk sesaat ia memandangi Putri Rakia yang masih terbaring dengan raut wajah datarnya tapi di dalam hatinya begitu sedih. ‘’Jadi Anda sudah mengetahuinya? Terutama kabar pernikahan Anda yang dibatalkan untuk sementara waktu.’’


‘’Iya Yang Mulia,’’ jawab Pangeran Ramos.


‘’Dia … Wanita yang angkuh tapi memiliki sifat yang baik. Semua tahu kalau dirinya kuat, tapi aku tidak menyangka dia nekat melakukan hal ini demi haknya. Hari itu … Kukira dia hanya menggertakku saat memberitahunya untuk membatalkan pernikahan,’’ kata Kaisar Helios.


Ia mengepalkan tangan karena tidak bisa memaafkan dirinya atas semua yang menimpa putri kesayangannya.


‘’Bagaimana kondisi Pangeran Keempat sendiri?’’ tanya Kaisar Helios.


‘’Terima kasih Yang Mulia sampai menanyakan kabar saya. Kondisi saya baik,’’ kata Pangeran Ramos sekuat tenaga.


Kaisar Helios sedikit tersenyum miring.

__ADS_1


Kondisinya sangat kurang sehat. Kulitnya semakin putih, bahkan di lehernya sudah sangat berkeringat. Nafasnya juga menjadi berat, tapi demi putriku ... Dia rela mengambil penerbangan kemari. Butuh kenyataan apalagi agar bisa membuka mataku? Aku benar-benar bodoh karena melakukan kesalahan fatal dengan mengambil keputusan membatalkan pernikahan mereka berdua, katanya dalam hati.


‘’Mohon maaf, kalau Yang Mulia memberi izin, bisakah Yang Mulia memberi saya waktu untuk berdua dengan Putri Ketiga?’’ tanya Pangeran Ramos.


__ADS_2