My Arrogant Princess

My Arrogant Princess
Bab 75 Penculikan Part 1


__ADS_3

Deg!


Pangeran Ramos memejamkan mata sambil mengepalkan tangan.


Ini yang keempat kalinya. Bisa gawat kalau aku muntah darah di pesta ini, ringisnya dalam hati.


‘’Ramos, kau baik-baik saja?’’ tanya Pangeran Akakuro.


‘’Sejak sore tadi, kau selalu memejamkan mata seperti menahan sesuatu,’’ kata Pangeran Kurotsukki.


Pangeran Ramos terbelalak, padahal ia berusaha agar tidak ada seseorang menyadarinya.


‘’Aku hanya sedikit mengantuk,’’ jawab Pangeran Ramos.


‘’Lebih baik kau pulang saja,’’ kata Pangeran Ereri.


‘’Kakak tertua?’’ tatap Pangeran Kurotsukki.


‘’Apakah sampai harus menyuruh Kakak Ramos pulang?’’ tanya Pangeran Reonharu.


‘’Kondisi Ramos tampak tidak baik. Lagi pula tidak ada orang di istana selain para pelayan,’’ kata Pangeran Ereri.


‘’Kalau begitu aku pamit duluan,’’ kata Pangeran Ramos.


......................


Kerajaan Rivazreich


Rakia berjalan menuju ke kamar Pangeran Keempat, tapi langkahnya terhenti saat Haruka menghadangnya.


Orang ini kenapa selalu tidak ingin melihatku tenang? Haa, gerutunya dalam hati.


‘’Ada urusan apa?’’ tanya Rakia malas.


Haruka mengkode agar ia mengikutinya. Keduanya tiba di teras utama.


‘’Pangeran Ereri sudah mengatakan jangan membiarkan orang lain melewati gerbang, kenapa kau melanggarnya?’’ tanya Rakia.


‘’Mohon maaf kalau kehadiran kami menyebabkan ketidaknyamanan. Tapi kami pengawal dari Nona Mezool,’’ kata salah satu pria berjas hitam.


Rakia mengerutkan dahi setelah mengetahui para pria itu adalah bawahan Mezool. ‘’Ada apa kalian sampai kemari?’’


‘’Anda Nona Rakia?’’

__ADS_1


‘’Sungguh tidak sopan. Sebelum menanyakan nama orang, perkenalkan dulu dirimu,’’ kata Rakia.


Haruka yang mendengarnya habis pikir.


Heh, sampai segitunya? Dia ini benar-benar angkuh, ucapnya dalam hati.


‘’Kalau begitu, perkenalkan, saya Keo, salah satu pengawal Nona Mezool.’’


Rakia hanya diam.


‘’Kami diperintahkan Nona Mezool untuk menjemput Anda ke sana,’’ kata Keo.


‘’Maksud kalian, Nona Mezool mengundang ke pesta?’’ tanya Haruka.


Keo mengangguk membenarkan ucapan wanita itu.


‘’Kalau begitu tunggu apa lagi? Ayo segera berangkat,’’ kata Haruka.


‘’Maaf. Nona Mezool hanya menyuruh kami untuk menjemput Nona Rakia,’’ kata Keo.


Mendengar hal itu, Haruka merasa malu, dan bergegas pergi.


‘’Bisakah kita berangkat, Nona Rakia?’’ tanya Keo.


‘’Aku menolak,’’ jawab Rakia langsung.


‘’Sampaikan padanya kalau aku tidak akan pergi, bahkan jika dia datang secara langsung menjemputku atau bersujud di kakiku,’’ kata Rakia berbalik.


Keo menatap kedua rekannya dan mengangguk.


‘’Maafkan kami Nona.’’


Rakia berbalik menyadari sesuatu.


Bugh!


......................


Pesta


‘’Buatlah permohonan,’’ senyum Panglima.


‘’Aku berharap teman masa kecilku Rui akan menjadi teman hidupku,’’ kata Mezool.

__ADS_1


Semua bertepuk tangan setelah Mezool meniup lilin. Para bangsawan menggodanya membuat Pangeran Rui menarik wanita itu keluar.


‘’Kenapa kau berkata seperti itu?’’ tanya Pangeran Rui keberatan.


‘’Kenapa? Kau tidak ingin mewujudkan harapan teman masa kecilmu?’’ bingung Mezool.


‘’Kita akan tetap menjadi teman masa kecil, tapi bukan berarti kita berdua harus hidup bersama,’’ kata Pangeran Rui.


‘’Semua orang yang berteman sejak kecil berakhir bersama, lalu kenapa kita tidak?’’ sedih Mezool.


‘’Ta—‘’


‘’Aku menyukaimu Rui,’’ kata Mezool memotong ucapan pria itu.


Pangeran Rui tersentak.


‘’Bukan sekarang, tapi jauh sebelum kau mengenalku sejak kita kecil. Sebelum kita menjadi teman, aku selalu diam-diam mengawasimu,’’ ungkap Mezool.


‘’Maaf. Aku tidak bisa menerima perasaanmu,’’ kata Pangeran Rui.


‘’Apa ini karena Rakia?’’ tanya Mezool kecewa.


‘’Ini t—‘’


Deg!


Pangeran Rui melotot saat Mezool tiba-tiba menciumnya, membuatnya mendorong wanita itu. ‘’Apa yang kau lakukan?!’’


‘’Kau juga melakukannya dengan Rakia, lalu kenapa menolak denganku?!’’ kesal Mezool.


Mezool memasang raut wajah sendu. ‘’Tidak bisakah kau memandangku sebagai wanita sekali saja?’’


Pangeran Rui memalingkan wajah agar matanya tidak berair. ‘’Sama sepertimu, aku juga menyukai Rakia jauh sebelum aku bertemu dengannya.’’


‘’Jika saja waktu itu kau bertemu denganku lebih dulu ... Apakah kau akan menyukaiku?’’ tanya Mezool berharap.


‘’Maaf ... Meskipun bertemu denganmu lebih dulu, aku akan tetap menyukai Rakia,’’ kata Pangeran Rui.


Mezool terpaku dengan butiran air mata yang terjatuh. ‘’Hiks … Hiks … Kejamnya.’’


Pangeran Rui menyeka air mata wanita itu dengan perasaan merasa bersalah. ‘’Kau akan menemukan pria yang lebih baik dariku. Ayo masuk, ini ulang tahunmu, tidak baik kau menangis seperti ini.’’


Saat mereka berniat masuk, Mezool memukul Pangeran Rui dari belakang.

__ADS_1


Bugh!


Mata Mezool memicing. ‘’Kalau begitu, akan kuhancurkan hidup wanita yang kau cintai di depan matamu.’’


__ADS_2