
Rakia membuka matanya perlahan sambil bangkit. ‘’Ah, mataku terasa bengkak setelah menangis seharian.’’
‘’Kya!’’ jeritnya berhasil membangunkan Pangeran Rui.
‘’Berisik sekali,’’ kata Pangeran Rui.
‘’Jangan bilang kita satu ranjang lagi sejak kemarin malam,’’ tebak Rakia.
Pangeran Rui mengerutkan dahi. ‘’Kenapa? Ini bukan pertama kalinya. Kita bahkan sudah satu ranjang selama 4 hari di mansion.’’
‘’Ini tidak benar. Kita berdua tidak boleh tidur satu ranjang sebelum menikah,’’ kata Rakia mulai kesal.
‘’Jadi kau ingin aku segera menikahimu?’’ tanya Pangeran Rui polos.
Rakia menghela nafas kasar. ‘’Siapa juga yang menyuruhmu menikahiku? Aku sudah mengetahui sosok penyelamatku.’’
Wanita itu beranjak pergi dengan perasaan kesal. Sedangkan Pangeran Rui terdiam sejenak sebelum akhirnya tersadar.
‘’Eh, dia bilang sudah mengetahui sosok penyelamatnya, itu berarti dia sudah mengingatnya?! Lalu kenapa bertingkah menolakku? Puff, lucu juga.’’
Pria itu bangkit dengan perasaan gembira, tidak sabar ingin menemui Rakia.
......................
Kamar Rakia
‘’Apa yang terjadi? Kenapa aku bisa berada di kamarnya?’’
Bugh!
Ia terjatuh dan mendongakkan kepala/
‘’Rakia, kenapa kau mena—‘’
‘’Rui hikss … Hiks,’’ tangis Rakia langsung berdiri memeluk pria itu.
‘’Apa yang terjadi?’’ (Rakia teringat)
Rakia memejamkan mata sambil berdecih karena merasa malu. ‘’Ternyata salahku sendiri.’’
__ADS_1
......................
Kamar Pangeran Keempat
Pangeran Ramos yang bersandar di kepala kasur menatap ke arah pintu. ‘’Kenapa wanita itu belum datang?’’
Pangeran Rui yang selesai bersiap, hanya tersenyum sambil menyusuri koridor istana. Akhirnya penantiannya telah tiba.
‘’Pasti di kamar Kakak Ramos.’’
......................
Kamar Rakia
Wanita itu menatap langit-langit kamar. ‘’Ah, kenapa aku malah menghindarinya?’’
Ia tahu Pangeran Ramos pasti menunggu di kamarnya. Tapi, mengetahui kebenarannya kemarin malam membuat perasaanya down.
Padahal ia sudah mencari sosok penyelamatnya selama 19 tahun, dan jika sudah menemukannya, ia bermimpi bisa menikah dengan pria tersebut.
Gaun yang indah, pesta yang mewah dan moment yang tidak terlupakan, Rakia sudah merencanakan hal itu. Namun, mengetahui sosok penyelamatnya memiliki penyakit dan tidak lama lagi akan tiada, membuat matanya berkaca-kaca.
Dengan perasaan down, Rakia bangkit dan menuju ke kamar mandi.
......................
Kamar Pangeran Keempat
Ceklek!
‘’Rakia, kenapa baru da—‘’ ucapan Pangeran Ramos terpotong saat melihat yang datang malah adiknya.
‘’Rui?’’
Pangeran Rui menatap isi kamar. ‘’Eh, Rakia tidak ada?’’
‘’Dia belum datang sejak pagi,’’ jawab Pangeran Ramos.
‘’Ah, shitsurei shimasu(permisi),’’ kata Pangeran Rui menutup pintu.
__ADS_1
Pangeran Ramos yang melihatnya hanya mengerutkan dahi. ‘’Kenapa dia mencari Rakia?’’
......................
Dapur Istana
Semua membungkuk melihat kedatangan Pangeran Rui.
‘’Pangeran, apakah ada sesuatu yang Anda butuhkan?’’ tanya Haruka.
‘’Rakia … Di mana kamar wanita itu?’’ tanya Pangeran Rui.
‘’Eh? Kalau begitu, biarkan saya mengantar Anda ke kamarnya,’’ jawab Haruka.
‘’Tidak perlu, beritahu aku saja.’’
......................
Kamar Rakia
Ceklek!
‘’Rakia, akhirnya kau mengingatnya,’’ senang Pangeran Rui membuka pintu.
Pria itu heran. ‘’Kosong? Wanita itu menghilang terus, apakah dia menghindariku?’’
......................
Kamar Pangeran Keempat
‘’Kenapa baru datang? Pukul sudah menunjukkan tengah hari,’’ tatap Pangeran Ramos.
‘’Aku … Aku … Tadi perutku sakit dan nyerinya baru reda,’’ jawab Rakia berbohong.
Pangeran Ramos hanya diam.
‘’Pangeran Ramos. Apakah saya bisa menanyakan sesuatu?’’
Pria itu menatap Rakia datar. ‘’Silahkan.’’
__ADS_1
‘’Bekas luka bakar di punggung itu, dari mana Anda mendapatkannya?’’