
‘’Kenapa kau menanyakan hal itu?’’ tanya Pangeran Ramos merasa sedikit tidak nyaman.
Rakia yang melihatnya membuang muka sambil menggaruk pipinya pelan. ‘’Um, aku ... Saya hanya penasaran.’’
Pangeran Ramos menatapnya sejenak dan menghela nafas.
‘’Aku tidak bisa memberitahumu secara keseluruhan. Singkatnya, luka ini aku dapat karena menolong seorang anak yang terjebak kobaran api di dalam bangunan tua.’’
‘’Apakah seorang anak perempuan?’’
Pangeran Ramos menatapnya dengan alis berkerut. ‘’Secara kebetulan tebakanmu benar.’’
‘’Aku dengar, dia baru saja kembali dari luar negeri. Tidak pernah melihatnya selama 19 tahun entah bagaimana rupanya sekarang,’’ kata Pangeran Ramos menatap ke arah luar jendela.
Rakia mengepalkan tangan sambil menunduk. ‘’Siapa nama anak perempuan itu?’’
Pangeran Ramos memejamkan mata membiarkan hembusan angin mengenai wajahnya.
’’Rakia,’’ jawabnya sambil membuka mata perlahan.
‘’Suatu kebetulan nama kalian berdua mirip, membu—‘’ ucapan pria itu terpotong saat ia berbalik karena Rakia sudah menangis.
Rakia perlahan membuka penyamarannya.
‘’Okigeng yo(Salam). Dai San Hime(Putri Ketiga), Rakia de Gabrielle Helios ... Anak perempuan yang kau selamatkan 19 tahun yang lalu,’’ kata Rakia memberi salam.
Mata Pangeran Ramos membulat besar. Ia dilanda kebingungan dan rasa terkejut. ‘’Tunggu, aku tidak mengerti. Sebenarnya apa yang terjadi?’’
__ADS_1
‘’Aku sudah lama ingin bertemu denganmu sejak insiden 19 tahun yang lalu. Aku belum pernah mengucapkan terima kasih. Sekarang sudah bertemu denganmu, aku ingin mengatakan terima kasih karena telah menyelamatkan nyawaku.’’
Sosok yang berdiri di depan pintu memilih untuk pergi.
......................
Setelah Rakia menceritakan semuanya, akhirnya Pangeran Ramos mengerti.
‘’Kau pantas dihukum karena sikapmu.’’
‘’Bukankah sudah sepantasnya Tuan Putri sepertiku bersifat angkuh? Selain itu sifatmu yang dingin dan mulut yang tajam, apa bedanya dengan diriku?’’ kata Rakia.
Pangeran Ramos terkekeh. ‘’Tapi, aku tidak menyangka, kau sudah ada di hadapanku tanpa aku sadari.’’
......................
Gerbang Istana
‘’Pangeran, Anda akan ke mana?’’ tanya supir pribadi.
‘’Tempatku seperti biasa,’’ jawab Pangeran Rui menatap keluar jendela mobil sambil menopang dagu.
Flashback on
‘’Bahkan di kamarnya wanita itu tidak ada, sebenarnya Rakia di mana?’’
Pangeran Rui yang kembali menyusuri koridor istana tanpa sengaja melihat Rakia dari jauh. ‘’Ah, itu dia ... Rakia!’’
__ADS_1
*Pria itu memanggilnya tetapi Rakia sepertinya tidak mendengarnya. Akhirnya wanita itu masuk ke dalam ruangan.
Pangeran Rui yang tiba melihat ruangan itu. ‘’Dia baru datang ke kamar Kakak Ramos, ya*?’’
Tangannya memegang gagang pintu hendak membukanya.
‘’Bekas luka bakar di punggung, dari mana Anda mendapatkannya?’’
Pangeran Rui terhenti saat mendengar kalimat Rakia. ‘’Eh, bekas luka bakar?’’
Karena merasa penasaran, ia memilih untuk menguping pembicaraan di dalam.
‘’Aku tidak bisa memberitahumu secara keseluruhan. Singkatnya, luka ini aku dapat karena menolong seorang anak yang terjebak kobaran api di dalam bangunan tua.’’
‘’Apakah seorang anak perempuan?’’
Pangeran Rui yang mendengarnya mulai merasa tidak nyaman. ‘’Kakak Ramos, kumohon jangan memberitahunya.’’
‘’Rakia,’’ jawab Pangeran Ramos membuat Pangeran Rui memejamkan mata.
‘’Okigeng yo(Salam). Dai San Hime(Putri Ketiga), Rakia de Gabrielle Helios ... Anak perempuan yang kau selamatkan 19 tahun yang lalu.’’
Pria itu tidak jadi masuk ke dalam dan memilih untuk pergi.
Flashback off
Pangeran Rui membuka matanya setelah mengingat kejadian tadi.
__ADS_1
Kakak Ramos jadi tahu identitas Rakia, kata Pangeran Rui dalam hati merasa tidak nyaman.