My Arrogant Princess

My Arrogant Princess
Bab 68 Sandiwara Part 3


__ADS_3

‘’Kakak?! Aku tidak menyangka dengan kejutan ini,’’ senang Raja Rivazreich memeluk Pangeran Shinsuke.


Pangeran Shinsuke tersenyum sambil membalas pelukan itu. ‘’Kepulanganku juga karena mendadak.’’


‘’Jadi, apa yang menyebabkan kakak pulang?’’


Pria berambut raven itu terdiam sejenak. ‘’Ini tentang Ramos.’’


‘’Apakah semuanya baik-baik saja?’’ tanya Raja Rivazreich.


‘’Kau tahu betul kondisi tubuhnya sejak kecil, sampai sekarang tidak mengalami perubahan. Jika seperti ini terus, maka nyawanya benar-benar tidak bisa ditolong,’’ jawab Pangeran Shinsuke.


‘’Apa yang harus aku lakukan?’’ sedih Raja Rivazreich.


‘’Aku sudah menemukan penawar obatnya. Kita tinggal menunggu apakah penawar ini bekerja atau tidak.’’


Raja Rivazreich hanya menunduk dengan wajah murung. Pangeran Shinsuke yang melihatnya merasa iba, sehingga ia menenangkan adiknya itu.


......................


Kamar Rakia


Wanita itu menatap dirinya di cermin. Ia sangat kesal bukan karena Pangeran Rui tidak percaya kepadanya, tapi ia kesal karena pria itu selalu menyalahkannya.


Ceklek!


Rasa kesal Rakia semakin bertambah melihat sosok yang masuk itu. ‘’Haruka, bisakah kau bersikap lebih sopan lagi? Mengetuklah sebelum memasuki kamarku!’’


‘’Segera ke dapur!’’ perintah Haruka mengabaikan ucapan Rakia.

__ADS_1


‘’Kenapa aku harus ke dapur? Apakah jabatanku sebagai pelayan telah naik?’’ tanya Rakia malas.


‘’Heh, jangan membuatku tertawa. Aku diutus Pangeran Kelima untuk memanggilmu ke dapur. Kalau bukan karena ini aku juga tidak sudi menghampirimu,’’ jawab Haruka.


Rakia mengerutkan dahi. ‘’Kenapa dia memanggilku? Seharusnya dia tahu kalau aku ini masih melayani Pangeran Ereri.’’


‘’Mana aku tahu? Kenapa tidak bertanya langsung kepada Pangeran? Aku sudah menyampaikannya padamu. Segera ke dapur, jangan membuat Pangeran menunggu!’’


......................


Dapur Istana


Melihat Pangeran Rui bersama Mezool sudah menunggu, membuat Rakia memasang raut wajah malasnya. Ia menghela nafas menghampiri 2 orang itu.


‘’Kenapa memanggilku?’’


‘’Mezool lapar, buatkan sesuatu untuknya,’’ kata Pangeran Rui.


‘’Ini perintah!’’


Rakia mulai memasak dengan perasaan kesal. Apalagi Mezool tersenyum remeh ke arahnya, membuat emosinya semakin naik. Tapi, beberapa detik kemudian, ia tersadar.


Benar juga. Rui ada di sini, biar kuperlihatkan kenyataan yang menyakitkan, ucapnya dalam hati.


‘’Akh!’’


‘’Ada ap—‘’ Pangeran Rui melotot.


‘’Rakia!’’

__ADS_1


Mezool mengerutkan dahi sambil menyusul Pangeran Rui yang menghampiri Rakia.


‘’Tanganmu berdarah, harus segera dihentikan!’’ pekik Pangeran Rui mengisap jari Rakia membuat Mezool melotot.


‘’Rui! Apa yang kau lakukan?’’ kata Mezool menarik tangan Rakia dari mulut pria itu.


‘’Mezool?’’ bingung Pangeran Rui.


‘’Kenapa kau sampai mengisap jari pelayan kotor ini? Bersihkan mulutmu dulu!’’


Pangeran Rui berdecih dan kembali mengisap jari Rakia, lalu membuang darahnya ke wastafel.


‘’Rui!’’ seru Mezool.


‘’Lebih baik obati tanganmu dulu,’’ kata Pangeran Rui mengabaikan ucapan Mezool.


‘’Hei, aku ini sedang lapar, kenapa di—‘’


‘’Tangan Rakia terluka! Masih ada koki lain di sini!’


Mata Mezool sedikit memerah membuat Pangeran Rui memalingkan kepalanya.


‘’Ayo, Rakia,’’ tarik Pangeran Rui.


‘’Zamamiro(Kau pantas mendapatkannya),’’ bisik Rakia menyeringai saat melewati Mezool.


Wajah Mezool merah padam. Tangannya mengepal sambil melihat kepergian 2 orang itu.


‘’Rui? Kenapa kau sampai semarah itu karena pelayan rendah seperti dirinya? Kau tidak pernah seperti ini kepadaku sejak kecil. Ini pertama kalinya kau membentakku hanya karena orang asing yang tidak lain adalah seorang pelayan.’’

__ADS_1


Mezool menggigit bibir bawahnya. Ia mulai cemas akan keberadaan Rakia. Ia bergegas menghampiri Pangeran Rui.


__ADS_2