
Kamar Pangeran Keempat
Mendengar kicauan burung, membuat mata Rakia perlahan terbuka. ‘’M … Mm....‘’
Matanya berkedip berulang kali melihat Pangeran Ramos di depannya. ‘’Ramos?’’
Deg!
‘’HEEEH!!’’ pekik Rakia bangkit melepaskan pelukannya membuat pria tadi terbangun.
Pangeran Ramos bangkit dengan alis berkerut.
‘’Tu-Tunggu, kenapa aku bisa ada di sini dan berpelukan denganmu?’’ tanya Rakia.
Pria itu hanya diam dan menarik Rakia ke dalam pelukannya.
‘’Ra-Ramos?’’ bingung Rakia merasakan pria itu memeluknya sangat erat.
‘’Aku tidak bisa berpikir jernih saat ketiga itu menyentuhmu. Aku sangat takut,’’ kata Pangeran Ramos mendaratkan bibirnya di bahu Rakia.
Rakia bisa merasakan pria itu sangat gemetar, membuat tangannya terulur membalas pelukan tadi. ‘’Terima kasih kau datang tepat waktu.’’
Butiran air mata Pangeran Ramos terjatuh.
‘’Eh? Kau menangis?’’ tanya Rakia menyadarinya.
Pangeran Ramos segera menyeka air matanya dan melepaskan pelukan. ‘’Syukurlah kau baik-baik saja.’’
‘’U-Um, kalau begitu aku kembali ke kamar dulu. Pangeran Ereri mungkin menunggu untuk menyuruhku mengerjakan sesuatu,’’ kata Rakia.
Sebelum wanita itu pergi, tangannya ditarik ke belakang. Rakia berbalik menatap pria itu.
‘’Jangan menghilang dari hadapanku lagi,’’ kata Pangeran Ramos.
Duk!
‘’Akh!’’
__ADS_1
Rakia menjitak kepala pria tadi. ‘’Kalau aku hilang, bukankah kau akan selalu menemukanku?’’
Pangeran Ramos tersenyum tipis melihat wanita itu tersenyum. Ia melepaskan tangannya yang menarik tangan Rakia.
Ceklek!
Rakia yang ada di depan pintu, Pangeran Ramos yang duduk di kasur, mereka berdua menunduk sambil memasang wajah sendu.
......................
Kediaman Panglima
Setelah polisi dan tim forensik membawa mayat Panglima dan istrinya, Mezool hanya berjalan pergi dengan tatapan kosong.
‘’Astaga, kita dikejutkan 2 berita sekaligus.’’
‘’Benar. Raja menyampaikan kalau keluarga mereka dihapus, tidak lama kemudian Panglima dan istrinya ditemukan tewas di ruang dapur.’’
‘’Sepertinya mereka melakukan kejahatan sampai-sampai sudah putus asa dan memilih bunuh diri.’’
‘’Benarkah? Tapi kenapa Mezool tidak meninggal? Apakah mungkin dia yang membunuh ayah dan ibunya?’’
‘’Seluruh keluarganya sudah dihapus, kurasa tinggal menunggu waktu sampai Mezool sendiri bunuh diri.’’
Mezool yang mendengarnya hanya diam dan masih menangis.
......................
Tersisa 2 hari lagi setelah masa hukuman Rakia selesai. Setelah kejadian 4 hari yang lalu, Raja memberi perintah agar tidak ada yang membahasnya lagi.
‘’Karena Ereri keluar, sebaiknya aku jalan-jalan. Aku butuh udara segar untuk menjernihkan pikiranku dari insiden beberapa hari yang lalu,’’ kata Rakia.
Tanpa terduga, Mezool muncul dari balik tanaman pagar.
‘’Kau?!’’ seru Rakia.
Ingatannya kembali terputar mengenai 3 pria yang hendak menyentuhnya, membuat rasa trauma itu muncul kembali.
__ADS_1
‘’Ush, aku tidak ada niat menyakitimu, kumohon pelankan suaramu!’’ bisik Mezool.
‘’Apa yang kau lakukan di sini?!’’ pekik Rakia.
......................
Kamar Rakia
Setelah mendengar semuanya, Rakia tetap menjaga jarak.
‘’Bisakah kau membawakanku makanan? Aku belum makan sejak 4 hari yang lalu,’’ pinta Mezool.
‘’Setelah itu pergilah,’’ kata Rakia keluar kamar.
Mezool menunduk. ‘’Dia segitunya takut padaku, ya?’’
Rakia datang membawa sepiring makanan dan segelas air. Dengan cepat, Mezool menyantap makanan itu layaknya seekor binatang.
‘’Uhuk! Uhuk!’’
Mezool tersedak dan segera minum.
Sepertinya dia benar-benar kelaparan. Pakaiannya bahkan dipenuhi darah, dan penampilannya sangat berantakan, kata Rakia dalam hati.
‘’Kenapa kau bisa mengetahui identitasku setelah melepaskan kacamataku?’’ tanya Rakia tiba-tiba
Mezool hanya tersenyum sendu. Ia menghabiskan makanan itu terlebih dahulu.
‘’Karena kita satu universitas di Inggris. Setelah kau datang, aku pindah ke German karena kau merebut prestasiku dengan mudah. Kepintaran Putri Ketiga memang tidak diragukan."
"Aku menyukai Rui sejak kecil, jadi melihatnya memperhatikan wanita lain selain diriku, membuatku tidak terima hal itu. Karena kesalahanku hiks … Semua sudah hancur, aku hikss … Hiks … Benar-benar menyesal melakukan hal itu kepadamu Putri Rakia. Kedua orangtuaku bunuh diri karena ulahku sendiri.’’
Rakia merasa itu semua adalah karma untuk Mezool, tapi ia juga merasa kasihan, karena kedua orangtua wanita itu sampai bunuh diri.
‘’Sebelum pergi, aku hanya ingin meminta pengampunan darimu,’’ kata Mezool bersujud.
‘’Haa ... Itu bayaran atas ulahmu sendiri. Tapi kejadiannya sudah berlalu, aku memberimu pengampunan,’’ kata Rakia.
__ADS_1
‘’Putri Ketiga terima kasih!’’ senang Mezool.