
Pangeran Ereri, Putri Yuriki, Pangeran Ren dan Putri Ukii sedikit mendekat ke kasur Putri Rakia.
‘’Rakia ... Hari ini adalah hari bersejarah bagi kakakmu, kenapa Anda begitu tega tertidur seperti ini?’’ tanya Putri Ukii.
‘’Lihat … Aku sudah menikah dengan Pangeran Pertama Rivazreich sesuai kemauan Anda. Bukankah Anda yang bersih keras menyatukan kami? Anda seharusnya menyaksikan hari inu, bukan baring seperti ini,’’ kata Putri Yuriki.
Putri Yuriki menggenggam erat gaun pengantinnya sambil menahan air mata sekuat mungkin. ‘’Bukankah ini impian Anda? Menikahi sosok penyelamat yang Anda cari sejak kecil dengan gaun yang mewah. Tapi Anda malah bertindak bodoh! Lihat … Pangeran Keempat ada di sini, semuanya ada di sini, jadi kumohon bangunlah.’’
‘’Aku sudah menikahi Pangeran Kesembilan. Ayo bangun Putri Rakia! Jangan menunda pernikahan Anda!’’ tegas Putri Ukii.
Semua yang ada di sana hanya diam menunduk sedih, dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
‘’Kalian sudah mengetahuinya. Jadi rahasiakan hal ini!’’ perintah Raja Rivazreich.
‘’Kami mengerti Yang Mulia!’’ kata kesembilan Pangeran yang belum mengetahuinya.
‘’Kalau begitu, kita biarkan Putri Ketiga beristirahat!’’ perintah Kaisar Helios.
Pandangannya beralih ke Pangeran Keempat. ‘’Jika Pangeran Keempat ingin berada di sini sedikit lebih lama, aku akan memberi izin.’’
Pangeran Ramos menatap Kaisar Helios untuk sesaat, sampai akhirnya mengangguk sambil tersenyum. ‘’Terima kasih atas perhatian Yang Mulia. Tapi saya lebih mengutamakan kesehatan Putri Ketiga.’’
__ADS_1
Semua terbelalak. Padahal itu adalah kesempatan emas untuknya, tetapi Pangeran Keempat malah menolak dan tidak menerimanya.
‘’Baiklah kalau begitu,’’ kata Kaisar Helios.
Semua beranjak keluar kecuali Pangeran Ramos yang berdiam diri sebelum menyusul mereka.
Rakia, kata Pangeran Ramos dalam hati.
Meskipun sangat ingin berada di dekat wanita itu, ia dengan berat hati melangkah pergi.
Deg!
‘’Akh!’’ ringis Pangeran Ramos.
Pangeran Ramos mengangguk, berusaha tidak membuat pria itu tidak cemas lagi. ‘’I-Iya, aku tidak apa-apa.’’
Namun, sebelum hendak melangkah, Pangeran Ramos malah terbatuk membuat semua langsung menoleh ke arahnya.
‘’Jangan bilang Anda merasa sakit lagi?’’ tanya Raja Rivazreich.
‘’Bawa Pangeran Keempat ke salah satu kamar untuk istirahat dulu,’’ usul Kaisar Helios.
__ADS_1
‘’Terima kasih. Tapi aku tidak mau merepotkan. Akan lebih baik kalau kami pulang saja. Lagi pula acara sudah selesai. Sekarang waktunya kita beristirahat karena akan menyiapkan pernikahan Pangeran Keempat dengan Putri Ketiga,’’ kata Raja Rivazreich.
‘’Aku mengerti. Hati-hati di jalan,’’ kata Kaisar Helios.
‘’Saya dan Putri Kedua akan menuju ke kediaman pribadi,’’ kata Pangeran Ereri.
‘’Kami juga,’’ kata Pangeran Ren.
Setelah semua pergi, Permaisuri Helios hanya berlalu tanpa peduli dengan sekitar. Kaisar Helios yang melihatnya sangat sedih.
‘’Ibunda masih tidak ingin menemui siapa pun, ya?’’ sedih Pangeran Kairi.
Ia menghela nafas lalu menatap Kaisar Helios. ‘’Ayahanda bersabarlah. Kami selalu mendoakan Putri Rakia agar dia cepat sadar, dengan begitu Ibunda dan Ayahanda akan kembali berbaikan.’’
Kaisar Helios menghela nafas panjang. Ia mengangguk sambil menatap kepergian istrinya.
Apakah kau tidak merindukanku? Aku sangat merindukanmu Youru, kata Kaisar Helios dalam hati.
Sambil menatap kepergian Kaisar Helios yang dikawal Pengawal Maru, ketiga orang itu hanya menunduk sedih.
‘’Kakak Ukii dan Kakak Yuriki sudah tidak bersama kita lagi,’’ sedih Putri Nikki.
__ADS_1
‘’Kalau Kakak Rakia juga sudah menikah, kini tersisa kita bertiga,’’ kata Pangeran Yuga.