
Ruang Pertemuan
‘’Apakah kau tidak terlalu kasar padanya saat jamuan tadi?’’ tanya Raja Rivazreich.
‘’Dia putri kesayanganku. Kejadian seperti tadi sudah biasa terjadi di antara kami berdua,’’ jawab Kaisar Helios.
‘’Kudengar Ratu jatuh sakit, bagaimana kondisi Anda?’’ tanya Permaisuri Helios.
‘’Terima kasih atas perhatian Anda. Saya sudah merasa baikan,’’ jawab Ratu Rivazreich.
Bugh!
Pintu terbuka dengan kasar membuat semuanya menoleh.
‘’Rakia?’’ tatap Pangeran Kairi.
‘’Shitsurei shimasu(Permisi),’’ kata Rakia.
Kaisar Helios menatapnya tajam. ‘’Rakia, di mana sopan santun Anda?’’
‘’Mohon maaf, tapi kedatanganku kemari karena aku menentang pernikahan Pangeran Ereri dan Putri Ukii.’’
‘’Rakia!’’ seru Kaisar Helios melotot ke arah putrinya.
Rakia hanya diam karena ia juga kesal.
‘’Sepertinya kau masih belum berubah. Aku tidak akan menerima permintaan konyolmu dengan membatalkan pernikahan mereka. Jika kau bersih keras, aku akan menambah hu—‘’
‘’Tenanglah,’’ kata Raja Rivazreich memotong ucapan pria seumurannya itu.
‘’Tinggalkan ruangan ini, kau tidak mendapatkan izin untuk masuk!’’ perintah Kaisar Helios.
‘’Ayahanda?!’’
‘’Rakia, jangan keras kepala,’’ kata Pangeran Kairi khawatir.
Raja Rivazreich menghela nafas. ‘’Putri Ketiga, tinggalkan ruangan ini!’’
Dengan perasaan kesal, Rakia membungkuk dan pergi.
Kaisar Helios hanya memegang tengkuk hidungnya. ‘’Haa, anak itu....’’
......................
__ADS_1
Rakia masih menggerutu kesal sampai dirinya bertemu dengan saudaranya.
‘’Kakak Rakia!’’ panggil pangeran berumur 5 tahun.
‘’Kakak Rakia?’’ bingung Pangeran Bamie.
Putri Keempat kehabisan kata-kata. ‘’Um, itu....’’
Aa shimatta(Oh tidak)! Aku keceplosan, kata Pangeran kecil dalam hati.
‘’Ahaha!’’ tawa Rakia keras membuat Pangeran Bamie semakin bingung.
‘’Pangeran, Anda terlalu baik sampai memanggilku seperti itu,’’ kata Rakia.
‘’Benar. Kenapa memanggil seorang pelayan seolah-olah dia adalah saudari Anda?’’
Rakia mengeluarkan aura membunuh mendengar ucapan Pangeran Bamie.
‘’Hehe, itu karena masakannya tadi sangat enak.’’
‘’Rakia, dia adalah Putri Keempat, Nikki de Gabrielle Helios, dan Pangeran Kedua, Yuga de Gabrielle Helios.’’
Rakia memasang raut wajah bodohnya.
Pangeran Yuga menghampiri Rakia lalu menariknya pergi. ‘’Pangeran Kesepuluh, aku titip Kakak Nikki padamu.’’
‘’Eh, tunggu!’’ seru Putri Nikki,
‘’Aku akan pergi bersama pelayan ini, dah!’’
‘’Yuga,’’ tatap Putri Nikki.
......................
Rakia menghentikan tarikan adiknya. ‘’Chotto. Siapa yang kau panggil pelayan barusan?’’
Pangeran Yuga bergidik melihat tatapan tajam dari kakaknya itu.
‘’Ah~ aku sangat merindukanmu!’’ kata Rakia memeluk.
‘’Hehe, aku juga. Istana menjadi sepi tanpa kehadiran Kakak Rakia.’’
Rakia tersenyum lalu mengusap pucuk rambut adiknya. ‘’Bersabarlah, tersisa satu minggu lagi, aku akan kembali.’’
__ADS_1
‘’Sungguh?!’’ senang Pangeran Yuga.
Guk!
Keduanya menoleh mendengar suara anjing menyalak.
‘’Rakia?’’ tatap Pangeran Anon.
‘’Bukankah dia Pangeran termuda Kerajaan Helios?’’ tatap Pangeran Aron.
Si kembar dan Pangeran Yuga saling memberi salam.
‘’Rakia, kau tidak merepotkan dia, kan?’’ tanya Pangeran Aron
‘’Siapa yang kau bilang merepotkan Pangeran ini?’’ tanya Rakia tersenyum dengan alis berkerut.
‘’Dia tamu penting, jadi jangan merepotkan dirinya,’’ kata Pangeran Anon.
Apakah kedua Pangeran kembar ini butuh dihajar? Stt, kata Rakia dalam hati sambil tersenyum.
‘’Dia tidak merepotkanku. Aku sendiri yang ingin jalan bersamanya,’’ kata Pangeran Yuga.
‘’Masih belum jelas?’’ tanya Rakia puas.
......................
Kamar Pangeran Kesebelas
Pangeran Zelho menyambut Pangeran Bamie bersama Putri Nikki.
Pandangan Putri Nikki tidak sengaja menangkap sebuah lukisan. ‘’Bukankah itu Damask Rose?’’
‘’Tidak kusangka Putri Nikki juga tahu bunga ini,’’ kata Pangeran Zelho.
‘’Tapi, kenapa lukisannya terlihat seperti setengah saja?’’
‘’Ahaha, ini sebuah seni.’’
...Visual Putri Keempat, Nikki de Gabrielle Helios...
...Visual Pangeran Kedua, Yuga de Gabrielle Helios...
__ADS_1