My Arrogant Princess

My Arrogant Princess
Bab 43 Mengunjungi Saudara Part 2


__ADS_3

‘’Hei, kenapa wajahmu seperti itu?’’ tanya Rakia menyikuk lengan Pangeran Ramos.


Pangeran Ramos tidak menjawab, membuat Rakia membuka pintu. ‘’Ayo masuk.’’


Begitu pintu terbuka, Pangeran Ramos terbelalak melihat adiknya melakukan dansa.


‘’Re-Ren?!’’


Pangeran Ren menolehkan kepala mendengar namanya dipanggil. Matanya membulat besar melihat kedatangan kakaknya itu.


Bugh!


Pangeran Ramos dan Rakia memejamkan mata saat pria berambut blonde itu tersandung oleh kakinya sendiri dan terjatuh.


‘’Hehh?! Ka-Kakak Ramos?!’’ pekik Pangeran Ren dengan cepat berdiri lalu memberi hormat.


‘’Ren, kau berdansa? Kakimu … Bukankah Ayahanda....’’


Pangeran Ren menggaruk pipinya pelan. ‘’Ceritanya panjang. Singkatnya ini berkat Rakia.’’


‘’Rakia?’’ tatap Pangeran Ramos.


Rakia mengerutkan dahi. ‘’Apa? Nada bicaramu terlihat seperti meragukanku.’’


‘’Apakah Ayahanda tahu soal ini?’’ tanya Pangeran Ramos.


‘’Tidak, kecuali Bamie,’’ jawab Pangeran Ren.


Pangeran Ramos menghela nafas lega. ‘’Akhirnya setelah sekian lama kau bangkit dari keterpurukanmu.’’


Eh? Kakak Ramos yang terlihat dingin selama ini, tidak disangka begitu khawatir padaku, kata Pangeran Ren dalam hati.


‘’Aku jadi merindukan Si Jenius Dansa,’’ kata Pangeran Ramos.

__ADS_1


‘’Ka-Kakak Ramos ingin melihatku berdansa?’’


Tanpa membuang waktu, Pangeran Ren mulai melakukan dansa. Dengan percaya diri, ia melangkahkan kakinya begitu lincah disertai senyuman.


Pangeran Ramos dan Rakia bertepuk tangan.


‘’Aku menantikan kau berdansa di hadapan kita semua.’’


‘’Aku juga menantikannya, Kakak Ramos.’’


......................


Kamar Pangeran Kedelapan


‘’Goyu ada tidak, ya? Saat aku melayaninya, dia hanya berada di kasino terus,’’ kata Rakia.


‘’Sudah pasti, itu karena dia penggila judi sejak kecil. Aku masih ingat, kami bertujuh kalah telak dalam durasi 3 menit saat memainkan Choice poker,’’ kata Pangeran Ramos.


Rakia terkikik membuat pria itu bingung.


‘’Coba kau tanya padanya, siapa yang pernah mengalahkan dirinya,’’ pancing Rakia.


‘’Jangan membuatku tertawa. Tidak ada yang bisa mengalahkannya, karena itulah dia dijuluki sebagai Si Raja Judi,’’ kata Pangeran Ramos menegaskan.


Keduanya berdebat membuat pintu terbuka.


‘’Aku mendengar keributan, tidak aku sangka ternyata kalian berdua. Ayo masuk dulu.’’


Pangeran Goyu menyambut. ‘’Apakah perlu aku panggilkan pelayan untuk menyajikan jamuan?’’


‘’Tidak perlu. Aku juga hanya sebentar,’’ jawab Pangeran Ramos.


‘’Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba membawa Kakak Ramos?’’ bisik Pangeran Goyu setelah kakaknya itu menghampiri lemari kaca.

__ADS_1


‘’Kenapa tidak tanya langsung kepadanya?’’


Mendengar jawaban Rakia membuat Pangeran Goyu menatapnya malas.


‘’Tidak ada yang berubah, dasar maniak judi.’’


Eh, aku tidak salah dengar, kan? Eh, kata Pangeran Goyu dalam hati.


‘’Kenapa melamun?’’ tanya Pangeran Ramos.


‘’Ah, tidak. Hanya saja aku teringat dengan Kakak Ramos yang juga mengataiku maniak judi saat masih kecil.’’


‘’Apakah kau pernah dikalahkan seseorang?’’


Pangeran Goyu terbelalak lalu menatap Rakia tajam. Wanita di sampingnya hanya tersenyum dengan sebelah alis terangkat.


‘’Iya,’’ jawab Pangeran Goyu tidak sudi.


‘’Sungguh? Siapa orangnya?’’


Pangeran Goyu menunjuk Rakia membuat Pangeran Ramos menghela nafas.


Jadi orang yang mengalahkan dirinya adalah Rakia, ya? Wajar saja, Rakia bersih keras menyuruhku. Selain itu, Goyu tidak tahu kalau wanita ini Putri Ketiga Kerajaan Helios,’’ kata Pangeran Ramos dalam hati.


Deg!


Ia terdiam saat rasa sakit langsung menyerang dadanya.


‘’Aku tidak bisa berlama-lama,’’ kata Pangeran Ramos mengelus pucuk rambut adiknya itu dan berjalan pergi.


Rakia menepuk lengan Pangeran Goyu. ‘’Kau pasti senang, kan?’’


Masih dalam keadaan tertegun, Pangeran Goyu memegang pucuk rambutnya yang dielus tadi.

__ADS_1


Aku pikir selama ini Kakak Ramos menjadi dingin karena tidak peduli lagi denganku. Terakhir kali kami bermain, Kakak Ramos tidak pernah datang lagi, tapi … Heh, ucapnya dalam hati.


Terukir senyuman di bibirnya.


__ADS_2