My Arrogant Princess

My Arrogant Princess
Bab 147 Mengunjungi Makam


__ADS_3

Putri Rakia terkekeh yang berujung tangisan. “Tidak! Ramos belum mati! Beraninya dia pergi tanpa meminta izin kepadaku!”


Ia menghampiri kasur dan menatap Pangeran Ramos penuh amarah. “Pangeran Keempat, aku memerintahkanmu untuk bangun! Berhenti melakukan sandiwara!”


Tidak ada jawaban dari Pangeran Ramos, membuat Putri Rakia menggertak gigi. “Pangeran Keempat, Ramos von Rivazreich! Ini peringatan terakhir!”


Semua yang menyaksikannya semakin terpukul. Mata Putri Rakia berkaca-kaca, kakinya mulai melemah.


“Tidak … Ramos, kau sudah berjanji tidak akan meninggalkanku. Kau juga sudah berjanji, kalau kau akan kembali kepadaku saat aku memanggilmu. Sekarang balas budimu kepadaku! Aku datang dan memerintahkanmu untuk bangun!”


“Rakia, Kakak Ramos sudah tiada,” isak Pangeran Rui.


Dengan bibir dan tangan gemetar serta butiran air mata yang mengalir, Putri Rakia memejamkan mata sambil mengepalkan tangan. Ia pun jatuh terduduk dan tangisannya menjadi-jadi.


Kutukan Mezool benar-benar terjadi. Apakah dia sesakit ini saat berpisah dengan Rui? Hiks, tangisnya dalam hati.


......................


Pemakaman Pangeran Keempat pun segera diurus. Pangeran Shinsuke mengambil ahli mengenai hal ini. Semua pelayan dan prajurit dibungkam, dan akan dihukum mati bersama keluarganya jika salah satu dari mereka membocorkan kematian Pangeran Keempat.


Semua merasa terpukul, melihat Putri Rakia yang masih memegang tangan mayat suaminya.


“Padahal Tuan Putri ingin memberikan kejutan kepada semuanya. Tapi malah dirinya yang diberikan kejutan dengan kematian suaminya.”


Semua memasang raut wajah bingung, setelah mendengar ucapan Dokter Wo.


“Apa maksudmu dia ingin memberikan kejutan?” tanya Raja.


Dokter Wo menggigit bibir bawahnya yang masih menatap Putri Rakia dengan tatapan sendu. “Tuan Putri sedang mengandung anak Pangeran Keempat.”

__ADS_1


Deg!


Butiran air mata semua orang kembali mengalir sambil melihat Putri Rakia.


Pangeran Shinsuke sangat sedih mendengarnya. Ia menghampiri Putri Rakia, lalu menepuk bahu wanita itu. “Putri Ketiga, bisakah aku membawanya pergi?”


Putri Rakia menggeleng dengan butiran air mata yang belum berhenti sejak tadi. Pangeran Shinsuke hanya mengangguk sekali dengan maksud wanita itu harus ikhlas.


Tangisan Putri Rakia kembali terdengar. Dengan berat hati, ia memandangi peti itu pergi dibawa para bawahan Pangeran Shinsuke.


Saat itu juga kesadarannya mulai menurun hingga akhirnya membuat Putri Rakia jatuh pingsan.


......................


Sudah sebulan berlalu setelah kematian Pangeran Keempat. Kabar ini juga sudah diketahui Kaisar Helios dan mereka berduka.


Para Pangeran tidak tahu harus menghiburnya dengan cara apa lagi. Raja juga tidak bisa mengabaikan kesehatan menantunya yang keras kepala, tidak ingin makan dan hanya menangis.


......................


Ruang Makan Istana


Seperti biasa, Putri Rakia hanya diam tanpa menyentuh makanannya. Tubuhnya semakin hari semakin kurus.


“Putri Ketiga, bukan Anda saja yang terpukul dengan kematian Pangeran Keempat, tapi kami semua juga terpukul. Ini sudah kehendak Tuhan, dan kita tidak bisa melawan. Pikirkan janin yang ada di dalam perut Anda. Apakah Anda ingin janin itu juga tiada bahkan sebelum lahir?”


Deg!


Pertanyaan itu telak mengenai batin Putri Rakia. Matanya kembali berkaca-kaca. Selama ini ia hanya menangis dan menangis terus, tanpa memikirkan janin yang ada di dalam perutnya. Seharusnya ia lebih bijak menanggapi keadaan bukan bertingkah egois.

__ADS_1


“Mohon maaf Yang Mulia,” kata Putri Rakia dengan butiran air mata, meraih sendok dan menyantap sarapannya.


Semua hanya bisa menatap iba kepadanya.


......................


9 bulan kemudian…


Perut Putri Rakia sudah membesar dan memasuki bulannya. Sudah 9 bulan juga Pangeran Rui selalu berada di sisinya sebagai seorang teman. Meskipun yang lainnya juga menemaninya beberapa saat.


“Rui, bisakah kau menemaniku ke makam Ramos?”


......................


Ruang Pribadi Raja


“Aku tidak memberi izin!” tegas Raja.


“Yang Mulia, semenjak kematiannya, saya belum pernah mengunjungi makam suamiku satu kali pun. Jika saya sudah melahirkan, waktu saya untuk keluar istana akan semakin mustahil. Jadi cuma saat ini aku bisa mengunjunginya, saya mohon.”


“Yang dikatakan Putri Ketiga benar. Izinkan dia melihat makam Ramos. Aku akan mengutus prajurit untuk mengawal mereka. Percayalah padaku, tidak ada yang akan mengetahui kematian Pangeran Keempat bahkan jika Putri Ketiga mengunjungi makam mendiang suaminya,” kata Pangeran Shinsuke.


Raja menghela nafas dan memberi izin. Putri Rakia berterima kasih kepada kedua pria itu. Ia dan Pangeran Rui pun menuju makam Pangeran Ramos.


......................


Putri Rakia menatap sendu makam mewah bertuliskan nama suaminya di bagian atas batu nisan. Sedangkan Pangeran Rui menatap batu nisan yang bertuliskan nama Mezool tidak jauh dari makam Pangeran Keempat.


Mezool, aku minta maaf. Sekarang aku baru sadar setelah 9 bulan ini menemani Rakia. Aku benar-benar menyesal. Betapa kejamnya perlakuanku kepadamu, tapi kau tetap setia. Saat itu kau meminta jawaban dariku ... Ya, aku akan menjawabnya. Aku akan mencintaimu, tapi semuanya sudah terlambat, kata Pangeran Rui dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2