
Kamar Rakia
Ceklek!
Wanita itu bersandar di pintu sambil menjatuhkan dirinya.
Bugh!
Aku benci jika sesuatu yang aku sukai, dia selalu merebutnya!
Aku menyukaimu.
Aku menyukaimu sejak dulu sampai sekarang. Aku menyukaimu, aku mencintaimu, apakah kau juga merasakan hal yang sama?
Kenapa? Ingin melarikan diri lagi?
Biar aku tanya sekali lagi, apakah kau sungguh tidak mengenaliku?
Kau yang berhenti membuatku bingung! (Rakia teringat)
‘’Hiks, hiks … Ada apa dengannya? Kenapa dia tiba-tiba membuatku bingung seperti ini?’’
Malam yang panjang dilalui Rakia dengan menangis.
Paginya, Rakia bangkit sambil memandangi dirinya di cermin. ‘’Haa, aku benar-benar kacau.’’
......................
Kamar mandi
Rakia hanya menunduk sambil air dari shower membasahi seluruh tubuhnya.
......................
Kamar Pangeran Ketiga
‘’Shitsurei shimasu(Permisi).’’
‘’Ayahanda sudah memberitahuku kalau kau akan menjadi pelayan pribadiku selama satu minggu.’’
Rakia hanya diam mendengar ucapan pria itu.
‘’Sepertinya kau terlihat kurang sehat,’’ tatap pria itu melihat kondisi Rakia.
Rakia tersenyum meskipun perasaannya memang sedikit kacau. ‘’Itu tidak benar Pangeran. Saya Rakia.’’
‘’Dai San Ouji(Pangeran Ketiga), Akakuro von Rivazreich.’’
__ADS_1
‘’Biar aku perjelas sesuatu sebelum kau melayaniku. Setiap pagi aku akan bangun pukul 06:30, makan bersama anggota kerajaan saat pukul 08:00 dan 19:00 malam, kemudian kembali ke kamar untuk menulis beberapa tesis yang aku ajukan kepada Raja pukul 09:00 pagi sampai pukul 15:00 sore. Jadi, selain waktu yang tidak kusebutkan, kau baru boleh melayaniku.’’
Rakia hanya terbelalak mendengar penjelasan Pangeran Akakuro.
Semua aktivitasnya bahkan terjadwalkan. Sepertinya dia tipe orang yang disiplin waktu, pikir Rakia dalam hati.
‘’Karena ini hari pertamamu datang dan tidak tahu hal ini, aku akan memakluminya,’’ kata Pangeran Akakuro.
‘’Jadi, Pangeran Akakuro ingin saya mengerjakan apa?’’ tany Rakia.
‘’Mm, aku ingin kau menempatkan kembali buku-buku di sana yang tidak sempat aku rapikan.’’
Rakia mengangguk mengerti dan menuju ke tumpukan buku sambil menatap ke sekeliling.
Heh, entah kenapa aku mengingat Pangeran Bamie yang menghias kamarnya dengan kue. Bedanya Pangeran ini menghias kamarnya dengan buku. Kamar ini terlihat seperti perpustakaan saja, kata Rakia dalam hati.
‘’Tunggu sebentar!’’ kata Pangeran Akakuro mencegah Rakia yang hendak menyimpan buku.
‘’Kau harus mengurutkannya berdasarkan penerbit serinya baru kemudian penulisnya dari kiri ke kanan. Buku-buku itu harus diurutkan dari tertinggi ke yang terpendek,’’ kata pria itu tanpa mengalihkan pandangannya yang sedang menulis.
‘’Ha?!’’ kata Rakia mengerutkan dahi tanda kesal.
Wanita itu menghela nafas panjang. ‘’Sepertinya ini akan memakan waktu yang lama.’’
......................
‘’Akhirnya selesai juga.’’
‘’Karena pekerjaanmu sudah selesai, kau bisa pergi.’’
Rakia hanya menurut dan membungkuk sebelum pergi.
‘’Benar-benar canggung, tapi setidaknya hanya dia yang bertingkah normal di antara Pangeran. Mm, sebaiknya aku pergi ke mana, ya?’’
Rakia menyusuri koridor istana. ‘’Reonharu … Akan rumit jika dia memintaku mengajari nada yang tidak dia pahami. Zelho … Stt, aku sebaiknya tidak mengganggunya melukis. Bamie … Ah, dia yang akan paling merepotkanku untuk membuatkan dessert untuknya. Ren .. Haa, aku akan bosan karena melihatnya berdansa terus. Goyu pasti di kasino, lalu si kemar, eii aku akan berpikir 2 kali sebelum ke sana.’’
‘’Rui....’’
Langkahnya terhenti setelah mengingat kejadian tempo hari.
‘’Aku mengunjungi Ramos saja. Apalagi aku sudah janji akan melihatnya.’’
......................
Kamar Pangeran Keempat
Rakia bingung melihat pria itu masih terbaring. ‘’Kau sakit?’’
__ADS_1
‘’Hanya malas gerak semenjak kau tidak ada di sini,’’ jawab Pangeran Ramos.
Wanita itu terdiam sejenak. ‘’Ramos?’’
‘’Ya?’’
‘’Tidak bisakah kau pergi berobat meskipun kemungkinan besar kita tidak tahu bagaimana hasilnya?’’
Pangeran Ramos terdiam.
‘’Jika tidak ingin melakukannya karena alasan lain, maka lakukan itu demi diriku. Kumohon,’’ kata Rakia.
‘’Kau tahu kenapa aku bisa mengetahui batas waktuku? Itu karena Paman yang memberitahuku.’’
‘’Paman?’’
‘’Aku tidak memberitahumu kalau pamanku juga tahu soal ini, justru dia yang pertama kali menyadari penyakitku.’’
‘’Kalau begitu pamanmu di mana?’’
‘’Dia masih di Eropa untuk mencarikan penawar obat.’’
Pangeran Ramos menggenggam tangan Rakia. ‘’Baiklah. Aku akan melakukan pemeriksaan sesuai kemauanmu.’’
‘’Kau sedang tidak menghiburku, kan?’’
‘’Aku serius.’’
Rakia merasa senang dan tanpa sadar memeluk Pangeran Ramos.
Pangeran Ramos hendak membalas pelukan Rakia, tapi wanita itu langsung sadar dan melepaskan pelukannya.
‘’Maaf karena tiba-tiba memelukmu. Apakah kau lapar?’’
‘’Seperti yang kau lihat, aku tidak bergerak sejak tadi pagi.’’
‘’Kalau begitu akan kumasakkan sesuatu.’’
‘’Sepertinya tidak apa-apa kalau aku ikut ke dapur, aku ingin melihatmu memasak.’’
Rakia memalingkan wajahnya yang sudah merona. ‘’Terserah.’’
Ah~ kenapa aku merasa aneh setelah memeluknya tadi? Stt, ucapnya dalam hati.
...Visual Pangeran Ketiga, Akakuro von Rivazreich...
__ADS_1