
‘’Kakak Ramos benar-benar telah menikah,’’ kata Pangeran Zelho.
‘’Aku tidak bisa menahan air mataku, saat menyaksikan pernikahan mereka tadi,’’ kata Pangeran Akakuro.
‘’Kakak Akakuro ini, meskipun terlihat tegas ternyata bisa menangis juga,’’ kata Pangeran Goyu.
‘’Siapa yang tidak akan menangis di hari penting seperti ini,’’ kata Pangeran Akakuro.
‘’Kakak Ereri dan Kakak Ren juga sudah menikah,’’ kata Pangeran Bamie
‘’Ketiga Putri Helios sudah memulai hidup baru, dan masih banyak orang yang akan berdatangan dari sebagian Pangeran yang belum menikah,’’ kata Pangeran Anon.
‘’Tapi masih tersisa satu Putri Helios,’’ kata Pangeran Aron.
‘’Benar. Di antara kita siapa yang akan meminangnya?’’ tanya Pangeran Goyu.
‘’Kurasa pertanyaan ini bisa diajukan kepada Pangeran Kesepuluh,’’ kata Pangeran Ren.
‘’A-Aku? Kenapa harus aku?’’ tanya Pangeran Bamie merona.
‘’Kalau tidak salah ingat, yang membawa Putri Keempat keliling itu Bamie, kan?’’ tebak Pangeran Kurotsukki.
‘’Itu karena aku tanpa sengaja bertemu dengannya,’’ jawab Pangeran Bamie.
‘’Sengaja atau kau memang ingin menghampirinya?’’ goda Pangeran Aron.
‘’Kenapa semuanya memojokkanku?!’’ kesal Pangeran Bamie.
‘’Puff! Wajahmu merona, itu berarti kau menyukainya,’’ kata Pangeran Ren.
‘’Kakak Ren?!’’
‘’Aku akan mencoba membicarakan hal ini dengan Ayahanda,’’ kata Pangeran Ereri.
‘’Bahkan Kakak Ereri pun?! Ah~ aku sebaiknya pergi!’’
Mereka hanya terkekeh melihat kepergian Pangeran Bamie, berbeda dengan Pangeran Rui yang hanya diam.
‘’Aku akan kembali ke kamar,’’ kata Pangeran Rui.
__ADS_1
Suasana menjadi canggung sambil mereka saling memandang satu sama lain.
‘’Rui kenapa?’’ tatap Pangeran Akakuro.
‘’Acaranya sudah selesai. Kembalilah ke kamar masing-masing!’' perintah Pangeran Ereri.
Semuanya bubar kecuali Pangeran Kurotsukki.
‘’Ingin mengunjungi Rui?’’ tebak Pangeran Kurotsukki.
‘’Ya,’’ jawab Pangeran Ereri.
......................
Kamar Pangeran Kelima
Flashback on
"Sekarang giliranku, siapa kau dan apa yang kau lakukan di kamarku?"
"Ini salah paham. Saya hanya menunggu Pangeran sampai tidak sadar saya keti—"
"Salah paham? Setelah apa yang kau lakukan padaku kemarin malam?"
......................
Pangeran Rui menatap hidangan tersebut.
"Venison Roast Showing Two Expression Real Life."
"Kenapa menambahkan real life di belakang nama hidangan ini?"
"Masakannya dari anime kesukaanku. Jadi aku membuatnya di dunia nyata."
......................
"Ice cream?"
"Kudengar es krim bisa menurunkan panas tubuh ketika demam."
__ADS_1
......................
"Kya!"
"Berisik sekali."
"Jangan bilang kita satu ranjang lagi sejak kemarin malam."
"Kenapa? Ini bukan pertama kalinya. Kita bahkan sudah satu ranjang selama 4 hari di mansion."
"Kau menghindar lagi."
"Berhenti membuatku bingung."
"Kau yang berhenti membuatku bingung!"
"Istirahatlah, aku akan pergi."
"Kenapa? Ingin melarikan diri lagi?"
......................
"Sudah kubilang kau salah pah—"
"Kenapa?! Jelas-jelas kau tahu kalau aku juga menyukaimu! Perlakuanmu selama ini bagaimana aku mengartikannya? Apa kau mempermainkan perasaanku Rakia?!"
"Aku tidak pernah berpikiran seperti itu. Percayalah, aku tidak ada niat mempermainkan perasaanmu."
"Aku menyukaimu jauh sebelum kau bertemu dengan Kakak Ramos! Kenapa me—"
"Aku menyukai Ramos! Aku menyukainya, karena dia menyelamatkanku."
"Waktu itu aku juga menyelamatkanmu Rakia!"
"Tapi yang menerobos ke dalam api dan mempertaruhkan nyawanya adalah Ramos!"
"Jadi kau pikir aku tidak mempertaruhkan hidupku juga untuk menolongmu?"
Flashback off
__ADS_1
Pangeran Rui hanya tersenyum dengan butiran air mata, sambil berdiri menatap ke luar jendela yang tertutup di depannya.
Di balik pintu, Pangeran Ereri menghela nafas. "Sebaiknya tidak usah mengganggunya.’’