
Pangeran Keempat terengah-engah dengan keringat yang sangat banyak. ‘’Shitsurei shimasu(Permisi).’’
Saat itu juga Pangeran Shinsuke datang menyusul. ‘’Ramos, sudah kubilang jangan kerasa kepala!’’
‘’Kakak?’’ tatap Raja Rivazreich.
‘’Pangeran Keempat, kenapa Anda meninggalkan kamar? Anda juga melepas infusnya,’’ cemas Ratu Rivazreich.
‘’Ha, huha, Ayahanda ... Aku ingin segera melihat kondisi Rakia,’’ kata Pangeran Ramos.
Deg!
‘’A-Apa maksud Anda?’’ tanya Raja Rivazreich.
‘’Pangeran Keempat, kondisi Anda sangat lemah. Seharusnya istirahat di kamar saja,’’ kata Pangeran Ereri.
‘’Benar, Anda sebaiknya beristirahat,’’ kata Pangeran Ren.
‘’Aku ingin bertemu Rakia! Dia … Haa … Dia berniat bunuh diri, kan?’’ tanya Pangeran Ramos yang meremas dadanya menahan rasa sakit.
Keempat orang itu terbelalak lalu menatap Pangeran Shinsuke untuk meminta penjelasan.
‘’Sebenarnya … Aku berniat menyapamu saat pulang tadi tapi melihat wajah kalian, aku hanya menyusul kalian. Tapi karena masalah sepertinya sedikit serius membuatku memilih menunggu di luar. Tidak lama kemudian, aku dikejutkan kabar mengenai Putri Rakia jadi aku memberitahu Ramos hal ini. Maafkan aku,’’ kata Pangeran Shinsuke.
Raja Rivazreich kembali memegang tengkuk hidungnya. ‘’Pangeran Keempat, keadaan sekarang sedang runyam. Begitu banyak masalah yang terjadi, kumohon jangan menambah masalah lagi dengan ingin menemui Putri Ke—‘’
‘’Aku ingin melihat Rakia!’’ tegas Pangeran Ramos memotong ucapan ayahnya.
__ADS_1
‘’Kondisimu juga masih belum pulih, jangan keras ke—‘’
Deg!
Raja Rivazreich tertegun melihat Pangeran Ramos menangis.
‘’Kumohon, aku ingin melihatnya,’’ kata Pangeran Ramos sambil mengepalkan tangan.
Semuanya merasa iba melihat keadaan Pangeran Ramos seperti itu. Pangeran Keempat menatap ibu dan kedua saudaranya.
‘’Yang Mulia?’’
‘’Ayahanda?’’
Raja Rivazreich terdiam untuk sesaat. ‘’Tapi ini sudah malam.’’
‘’Haa baiklah ... Setelah Anda melihatnya segeralah pulang! Kondisi Anda juga sangat lemah. Jangan sampai orang di sana mengetahui kondisi Anda. Mori! Kau temani Pangeran Keempat ke Kerajaan Helios. Kalau kondisinya memburuk segera bawa dia pulang!’’ perintah Raja Rivazreich.
Pengawal Mori membungkuk mengerti. ‘’Sesuai perintah Yang Mulia.’’
......................
9 jam kemudian…
Kamar Putri Ketiga
Kaisar dan kelima anaknya masih memandangi Putri Rakia yang terbaring tak sadarkan diri.
__ADS_1
‘’Ini sudah hampir pagi, sebaiknya Ayahanda beristirahat. Kalian berempat juga pergilah istirahat, biar aku yang menjaga Putri Rakia,’’ kata Pangeran Kairi.
‘’Tidak apa-apa. Aku masih ingin di sini, kalian saja yang kembali ke kamar,’’ kata Kaisar Helios.
Ketiga Putri dan Pengeran termuda itu mengangguk mengerti. Mereka membungkuk sebelum pergi, kecuali Pangeran Kairi yang masih ingin tinggal.
Tapi Ayahanda tahu sendiri bagaimana kondisi Pangeran Keempat. Kalau nyawanya akan benar-benar melayang akhir bulan ini dan saat itu pernikahanku dengannya belum terjadi … Maka saat itu juga Ayahanda akan kehilangan putrimu ini. (Kaisar Helios teringat)
Ia mengepalkan tangan karena dipenuhi perasaan bersalah.
Ceklek!
Pintu terbuka dengan kedatangan seseorang. ‘’Shitsurei shimasu(Permisi).’’
‘’Pengawal Maru kau masih berjaga?’’ tanya Pangeran Kairi.
‘’Benar Pangeran. Saya datang karena ada sesuatu. Yang Mulia, Pangeran Keempat Kerajaan Rivazreich telah datang.’’
Deg!
‘’Eh?’’ tidak percaya Pangeran Kairi.
‘’Kau bilang apa?’’ tanya Kaisar Helios.
Pengawal Maru mengatakan kalau ia tidak tahu apa-apa, dan hanya menyampaikan berita tersebut.
‘’Kenapa tiba-tiba?’’ bingung Kaisar Helios.
__ADS_1
‘’Ayahanda, biarkan aku yang menyambutnya. Sepertinya Pangeran Keempat telah mengetahui kabar ini,’’ kata Pangeran Kairi.