My Arrogant Princess

My Arrogant Princess
Bab 152 Meminta Raja Turun Takhta


__ADS_3

Kamar Pangeran Keempat dan Putri Ketiga


“Yuga, aku sudah kembali, terima ka—”


Ucapan Putri Rakia terpotong saat melihat Pangeran Shinsuke duduk di samping kasur yang ditempati Pangeran Yuga duduk.


“Ah, kenapa Kakak Rakia malah menyuruhku berpura-pura menjadi dirinya?” tanya Pangeran Yuga.


Ceklek!


Terdengar suara pintu terbuka, membuat Pangeran Yuga terbelalak.


Oh tidak, siapa yang datang? Apakah Ayahanda? Raja Rivazreich? Pangeran? Argh! Apa yang harus aku lakukan? Hiks, kata Pangeran Yuga dalam hati.


“Putri Ketiga, apakah Anda di dalam kamar?”


Suara ini … Sepertinya milik Pangeran Shinsuke, kata Pangeran Yuga dalam hati.


*Sret!


Deg*!


Pangeran Yuga tersentak karena selimut langsung ditarik sehingga dirinya terlihat.


“Pangeran Yuga? Kenapa Anda di sini? Di mana Putri Ketiga?” tanya Pangeran Shinsuke.


“Itu,” kata Pangeran Yuga kaku. (Pangeran Yuga menceritakan)


“Maafkan aku Kakak Rakia.”


“Putri Ketiga, Anda menyelinap keluar?” tanya Pangeran Shinsuke.


Putri Rakia meminta maaf dan menyuruh Pangeran Yuga beristirahat.


“Pangeran Shinsuke, bisakah Anda membawa saya untuk menghadap ke Raja Rivazreich? Ada yang ingin saya katakan kepadanya,” kata Putri Rakia.


Bingung dengan ucapan Putri Rakia, membuat Pangeran Shinsuke hanya menurut.


......................


Ruang Pribadi Raja

__ADS_1


Kebetulan hanya ada Raja seorang diri tanpa pengawal Mori di dalam, membuat Putri Rakia lebih mudah menyampaikan keluhannya.


“Jadi, apa yang membawa Putri Ketiga sampai datang kemari?” tanya Raja.


“Raja Rivazreich, saya Rakia de Gabrielle Helios, meminta Anda ... Untuk turun takhta saat ini juga.”


Deg!


......................


Kamar Pangeran Kelima


Pangeran Rui juga masuk ke ruang VVIP yang di dalamnya ada Mezool. “Dari mana kau mendapatkan nomor ponselku?”


“Kita sudah lama tidak lama bertemu, dan kau menanyakan hal ini pertama kali?” tanya Mezool.


“Siapa kau? Kenapa kau memakai wajah Mezool?” tanya Pangeran Rui.


“Apa maksudmu? Aku ini memang Mez—“


“Jangan berbohong! Mezool sudah meninggal 6 tahun yang lalu!”


Mezool tersenyum dengan mata berkaca-kaca. “Jadi kau sudah menganggapku mati?”


“Rui, aku tahu kau begitu kejam di hari ulang tahunku.”


Deg!


Pangeran Rui membulatkan mata.


“Sekarang aku sudah kembali. Apakah kau tidak berniat membayar dosamu? Hari itu aku mati tepat di depanmu setelah menusuk jantungku sendiri karena Rakia. Nyawa dibayar nyawa, jadi aku ingin Rakia membayarnya agar adil.”


Tubuh Pangeran Rui gemetar. Memori masa lalu mengenai Mezool kembali terputar di otaknya. (Pangeran Rui teringat)


“Tidak, mustahil ... Dia bukan Mezool. Tapi kenapa dia mengetahui semua tentang Mezool? Kejadian ini hanya diketahui oleh 2 kerajaan, apakah mungkin … Ah tidak! Aku seharusnya tidak berpikiran seperti itu, tapi Mezool,” bingung Pangeran Rui.


......................


Ruang Pribadi Raja


Kedua pria itu tertegun mendengar ucapan Putri Rakia. Raut wajah Raja langsung berubah.

__ADS_1


“Putri Ketiga, apakah Anda sadar dengan ucapan yang baru saja Anda katakan?” tanya Raja dengan aura dingin.


“Saya mohon maaf, tapi hanya itu cara satu-satunya agar Ramos kembali kepada kita semua.”


“Apa maksud Anda?” tanya Pangeran Shinsuke.


“Ada yang ingin aku bicarakan padamu,” kata Ramos


“Apa itu?”


“Aku minta maaf karena sudah meninggalkanmu. Aku tidak ingat apa pun setelah kecelakaan itu. Aku tersadar setelah melihat dirimu dan Ezekiel, karena itulah aku minta maaf karena sudah melukaimu,” ungkap Ramos.


“Apakah ini artinya kau kembali kepadaku?” tanya Putri Rakia.


Pria itu mengangguk sambil menggenggam tangan wanita tadi. “Iya, aku akan kembali kepada kalian semua."


"Apa kau benar-benar Ramos?" tanya Putri Rakia ragu.


"Itu nama tokoh pria yang kau cintai dalam manhwa favoritmu, One day I became a Princess. Ezekiel memiliki arti Kekuatan Tuhan. Itu akan menjadi nama putra kita," kata Ramos.


Putri Rakia terharu dan langsung memeluk Ramos.


“Tapi aku punya satu syarat,” kata Ramos membuat Putri Rakia menarik pelukannya.


“Syarat?” tanya wanita itu.


“Aku ingin Ayahanda turun takhta dan menunjuk Pangeran Shinsuke untuk naik takhta.” (Putri Rakia menceritakan)


“A-Apa? Tunggu, aku tidak tahu dengan masalah ini. Bertemu dengannya saja tidak pernah. Kenapa dia berkata seperti itu?” tanya Pangeran Shinsuke.


“Dari awal posisi itu memang milik Pangeran Shinsuke. Jadi Yang Mulia harap bijak dalam mengambil keputusan. Saya ingin Pangeran Keempat sekaligus suami saya kembali kepada kita semua.”


Bugh!


Raja Rivazreich memukul meja dengan tampang marah. “Menentang seorang Raja dapat dianggap sebagai pemberontak, bahkan jika Anda adalah Putri Ketiga Helios, aku tidak segan mencap Anda sebagai pemberontak dan menjatuhi hukuman kepada Anda. Dengar, Pangeran Keempat sudah meninggal! Orang yang berani memakai wajahnya dan mempengaruhi Anda, aku akan mengutus para pengawal untuk mencarinya.”


Raut wajah Pangeran Shinsuke berubah. “Sebaiknya Anda kembali ke kamar.”


“Yang Mu—”


“Kembalilah ke kamar Anda!” perintah Raja memotong ucapan Putri Rakia.

__ADS_1


Putri Rakia menggigit bibir bawah sambil mengepalkan tangan. “Shitsurei shimasu(Permisi).”


__ADS_2