My Arrogant Princess

My Arrogant Princess
Bab 49 Saling Meremehkan


__ADS_3

Rakia membungkuk meminta maaf.


‘’Karena kau terlambat, maka akan kuberi hukuman agar lain kali tidak mengulanginya.’’


Rakia mengernyitkan alis tanda kesal.


Ha? Hanya gara-gara 1 menit ini, aku sampai mendapatkan hukuman. Bagaimana jika aku terlambat sampai berjam-jam? Kurasa saat itu juga dia mungkin membunuhku, gerutu Rakia dalam hati.


Pangeran Akakuro meletakkan map berisikan beberapa kertas ke meja. ‘’Kau akan mengerjakan 100 soal buatanku yang mencakup bidang matematika, kimia, fisika dan masih banyak lagi. Selain itu, aku juga menulisnya dalam 8 bahasa acak.’’


Rakia tersenyum memejamkan mata sambil mengepalkan tangan.


‘’Anggap ini sebagai pelajaran agar kau lebih disiplin waktu, dan aku ingin kau menyelesaikannya dalam waktu 30 menit.’’


‘’Saya mengerti,’’ senyum Rakia dengan alis berkerut.


Rakia menuju ke arah sofa dan mulai membuka map itu.


Pangeran Akakuro tersenyum sambil menulis tesisnya tanpa mengawasi Rakia, karena ia tahu wanita itu tidak akan bisa menyelesaikannya.


Dasar pelayan yang tidak tahu posisi sama sekali. Bertingkah seenaknya, maka dari itu terimalah akibatnya. Kurasa sebentar lagi dia akan menyerah dan memohon padaku. Seorang rakyat biasa tidak akan bisa menyelesaikan soal itu, jadi terima hukumanmu, kata Pangeran Akakuro dalam hati.

__ADS_1


‘’Saya sudah selesai.’’


Pangeran Akakuro terbelalak melihat kedatangan Rakia.


Apa?! Dia sudah menyelesaikannya? Ini bahkan baru 10 menit. Ahahaha, pasti maksudnya dia menyerah, iya pasti itu.


Ia memeriksa kertas itu perlembar dengan teliti.


Semuanya benar?!


‘’Ngomong-ngomong, saya menemukan satu kesalahan eja dalam bahasa Fonsein di pertanyaan nomor 12. Saya sudah menandainya dengan warna merah untuk Anda,’’ kata Rakia.


‘’Heh, hehehe, hahaha,’’ kekeh Pangeran Akakuro.


Kau meremehkan diriku, kan? Bagaimana? Apakah kau terkejut dengan hasilnya? Itu pasti, kata Rakia dalam hati merasa puas.


‘’Anda baik-baik saja?’’ tanya Rakia.


‘’Soal ini hanya bisa dijawab oleh tingkatan profesor sarjana, tapi kau yang seorang rakyat biasa menjawabnya dengan benar dalam waktu 10 menit,’’ kata Pangeran Akakuro.


Rakia membuang wajah.

__ADS_1


Mana mungkin aku memberitahunya kalau sejak kecil para sarjana terkenal di dunia menjadi tutorku. Ayahanda sampai memanggil mereka saat aku homeschooling di istana. Maka dari itu, soal ini masih tergolong mudah bagiku, rasanya hanya seperti bermain puzzle, ucapnya dalam hati.


‘’Rakia, siapa kau sebenarnya?’’ tanya Pangeran Akakuro dengan tatapan serius.


Wanita itu baru tersadar dengan kecerobohannya. ‘’Ahaha, sebenarnya saya bisa menjawab soal itu karena berkat Anda sendiri.’’


‘’Aku?’’


‘’Ya, sambil menyusun buku-buku itu, saya sempat membacanya,’’ kata Rakia membenarkan.


‘’Bagaimana bisa dengan buku sebanyak itu ba—‘’


‘’Pangeran Akakuro terlalu meremehkan saya. Meskipun benar saya tergolong dari kalangan rakyat biasa, tapi pendidikan saya tidak serendah kasta saya juga. Semua orang bisa belajar, jadi Pangeran tidak perlu mempermasalahkannya.’’


Pangeran Akakuro terdiam. ‘’Ya sudah, berdebat denganmu hanya membuang waktu. Aku terkesan. Bersyukurlah buku-buku itu membantumu, jadi lain kali jangan melakukan kesalahan lagi.’’


‘’Saya mengerti,’’ kata Rakia mengangguk.


‘’Sudah hampir malam, karena kau sudah menyelesaikannya lebih awal, kau bisa kembali ke kamarmu.’’


Rakia menurut dan membungkuk sebelum pergi.

__ADS_1


‘’Haa, hampir saja. Karena dia meremehkanku, identitasku hampir terungkap. Aku harus mulai berhati-hati. Kejadian ini tidak boleh terulang kembali. Kalau dia sampai memberiku soal yang lebih berat dan aku berhasil menjawabnya, dia akan semakin curiga.’’


__ADS_2