
Dapur Istana
‘’Rakia, beberapa bulan ini aku tidak pernah melihatmu,’’ kata Haruka menghampiri.
‘’Aku sangat sibuk melayani Pangeran. Bagaimana kabarmu?’’
Haruka tersenyum dengan kepala menunduk. ‘’Tidak biasanya kau menanyakan kabarku, kenapa? Apakah kau merindukan diriku?’’
Rakia tersenyum remeh. ‘’Siapa juga yang merindukan dirimu? Tidak berjumpa dengan trouble maker sepertimu beberapa bulan, aku kira kau sudah tiada. Tapi melihatmu datang sepertinya kau baik-baik saja.’’
Wajah Haruka langsung kusut. ‘’Mulutmu tajam seperti biasa.’’
‘’Terima kasih atas pujiannya,’’ senyum Rakia.
Haruka menghela nafas sambil tersenyum. ‘’Aku sebenarnya tidak mau menyampaikan hal ini bahkan tidak sudi. Tapi karena ini perintah langsung dari Raja, aku tidak punya pilihan. Kau dipilih untuk menyiapkan hidangan untuk tamu penting.’’
Dahi Rakia berkerut. ‘’Tamu penting? Maksudmu aku yang menyiapkan semua hidangannya? Bukankah ada koki khusus? Kenapa menyuruh diriku?’’
‘’Tanyakan sendiri kepada Raja. Mungkin karena masakanmu dipuji oleh sebagian Pangeran. Jadi ... Rakia, semoga kau tidak mengecewakan tamu penting kita,’’ kata Haruka beranjak pergi.
Rakia habis pikir, mengapa Raja malah mengutus dirinya jika ada koki khusus di istana. Karena tidak berdaya, ia segera membuat hidangan.
......................
Pukul menunjukkan tepat 12:00 siang. Sebuah limousine dikawal beberapa mobil hitam memasuki gerbang istana.
......................
__ADS_1
Ruang Makan Kerajaan
Semua pelayan termasuk Rakia berdiri membentuk barisan di sisi masing-masing meja makan.
Aku seperti budak saja tanpa ada yang membantuku. Memangnya siapa tamu penting yang kurang ajar ini sampai membuatku harus memasak semua hidangan? Selain itu, kenapa aku harus berdiri bersebelahan dengan Haruka?! Argh, gerutu Rakia dalam hati.
Mendengar pintu terbuka, membuat semua menunduk dan memberi hormat.
‘’Selamat da—’’ ucapan Rakia terpotong saat ia mendongakkan kepala.
Deg!
Ayahanda?! Eh, pekik Rakia dalam hati.
Rakia terkejut karena tamu penting yang datang tidak lain adalah keluarganya sendiri. Kalau mereka baru saja tiba, berarti keluarganya berangkat sangat pagi untuk kemari, karena memakan waktu 7 jam.
Kedua keluarga itu duduk dan menikmati hidangan.
‘’Tidak perlu berlebihan seperti itu. Hidangan ini Anda tahu sendiri siapa yang membuatnya,’’ kata Raja Rivazreich.
‘’Benarkah? Kalau begitu, siapa sosok yang menyajikan semua hidangan mewah ini?’’ tanya Kaisar Helios.
Raja Rivazreich menatap Rakia masih terpaku di tempatnya. ‘’Rakia, bisakah kau mendekat?’’
Dengan perasaan gugup, Rakia bergerak.
Ochitsuite(Tenang), ochitsuite(tenang), ucapnya dalam hati.
__ADS_1
‘’Hee … Rakia, ya?’’ senyum Kaisar Helios.
‘’Ee, Oosama no Helios(Ya, Kaisar Helios),’’ jawab Rakia grogi.
Haruka yang melihatnya mengerutkan dahi. ‘’Cih, pelayan itu ... Meskipun dia angkuh, dia tetap mati kutu kalau di depan Yang Mulia Kaisar Helios. Kupikir tidak ada orang yang dia takuti.’’
‘’Hidanganmu sangat enak. Apakah kau berkenan ikut kami ke Kerajaan Helios?’’
Rakia mengepalkan tangan sambil tersenyum mendengar candaan ayahnya itu.
‘’Ahaha, sebuah kehormatan bisa menerimanya. Tapi saya tidak berani mengambil keputusan selain Raja Rivazreich.’’
Kaisar Helios beserta keluarganya terkekeh begitu juga dengan 3 pangeran yang mengetahui identitas Rakia.
Ayahanda mempermainkan diriku di hadapan mereka, ya? Tunggu saja saat aku pulang nanti, aku tidak akan mengajaknya bicara, kata Rakia dalam hati.
‘’Mohon maaf, Kaisar. Bukankah Kerajaan Helios memiliki 4 seorang Putri? Kenapa hanya ada 3 Putri yang hadir?’’ tanya Pangeran Kurotsukki.
Pangeran pertama, keempat dan kelima bersamaan melirik Rakia sambil tersenyum lucu.
‘’Penglihatanmu cukup jeli juga, Pangeran. Setelah Putri Ketiga selesai menjalankan studinya di luar negeri, dia menjalani pendidikan tambahan untuk mengasah tata kramanya,’’ kata Kaisar Helios.
Rakia hanya mengernyitkan alis sambil tersenyum.
...Visual Raja Rivazreich...
__ADS_1
...Visual Ratu Rivazreich...