
Pangeran Ramos menatap adiknya. Kedua pria itu terdiam sambil angin menerpa wajah mereka.
‘’Kau sangat berusaha, ya?’’ tanya Pangeran Ramos.
‘’Maaf kalau aku mengganggu moment kalian, tapi aku sudah pernah bilang takkan kubiarkan seseorang memiliki Rakia selain diriku,’’ kata Pangeran Rui.
Pria berambut putih itu berjalan melewati adiknya. ‘’Ya, semoga kau berhasil.’’
Mendengar ucapan kakaknya, Pangeran Rui berbalik dengan raut wajah tidak suka.
......................
Teras Utama
‘’Rakia, kau dari mana saja? Mobil penjemputmu sudah datang dari tadi,’’ kata Pangeran Reonharu.
‘’Ahaha, tadi aku jalan-jalan sebentar. Kalau begitu aku akan mengambil barangku du—‘’
‘’Tidak perlu. Pangeran sudah memerintahkan kami untuk mengambilkannya untukmu,’’ kata Haruka memotong ucapan Rakia.
‘’Aa begitu, terima kasih,’’ jawab Rakia jutek.
Haruka menghampiri Rakia lalu memeluknya. ‘’Akhirnya kau pergi tanpa aku menggunakan cara yang kotor.’’
Rakia tersenyum sambil membalas pelukan itu. ‘’Jangan terburu-buru. Aku akan kembali lagi untuk membalasmu.’’
‘’Sepertinya kedua wanita itu sangat dekat, ya? Mereka berdua pasti sahabat,’’ kata Pangeran Reonharu.
Kedua wanita tadi langsung melepaskan pelukan merek sambil tersenyum palsu setelah mendengar ucapan pria tadi.
Rakia membungkuk memberi hormat sebelum pergi.
‘’Gokigenyou(Sampai jumpa lagi),’’ salam Rakia.
Ia mendongakkan kepala ke atas dan melihat Raja dan Ratu Rivazreich di jendela, membuatnya membungkuk sekali lagi.
Pangeran Ramos muncul melihat Rakia akan masuk ke dalam mobil. Untuk sesaat, kedua orang itu saling memandang satu sama lain. Rakia mengalihkan pandangannya saat melihat Pangeran Rui muncul di belakang pangeran keempat.
Semua menatap mobil yang melaju pergi itu.
......................
Bandara
“Biar saya yang membawanya Tuan Putri,” kata supir pribadi Rakia.
Wanita itu hanya menurut dan masuk ke dalam pesawat. Rakia duduk sambil menatap ke arah luar jendela pesawat.
__ADS_1
Flashback on
Bugh!
Keduanya menoleh melihat Rakia muncul membuka pintu dengan kasar. ‘’Kenapa menyiraminya air panas?!’’
‘’Kena—‘’
Byur!
Ucapannya terpotong saat Pangeran itu menyirami teh yang sama ke arah wajah Rakia, tepat saat dirinya berbalik.
‘’Kau ini hanya seorang pelayan. Beraninya kau meneriakiku seperti itu, dan apa maksud ucapanmu barusan? Membereskannya?”
......................
‘’Bagaimana kalau mewarnai lukisannya?’’ tanya Rakia.
Pangeran mengangkat kedua bahunya.
‘’Haa, setidaknya bicaralah sedikit saja.’’
‘’Kau tidak berhak memberiku perintah.’’
Rakia melotot.’’ Akhirnya Anda berbicara juga’’
......................
Jangan bilang dialah Pangeran yang akan kulayani, kata Rakia dalam hati sambil memasang wajah bodoh.
Pria itu berjalan menghampiri Rakia. "Rambut kepang 2 dan mengenakan kacamata bening, sungguh sederhana. Apa kau pelayan pribadi yang akan melayaniku?"
"Iya, saya Rakia."
"Rakia? Nama yang indah tapi kenapa memiliki tampang seperti ini?"
Urat-urat di leher Rakia mulai menegang meskipun dirinya tersenyum.
......................
"Dalam permainan kartu terdapat 4 lambang yang memiliki tingkatan berbeda dimana yang tertinggi adalah Spade, Heart, Diamond dan terakhir Club."
Rakia melihat kartu bernilai 2♣ tidak jauh dari kakinya.
"Jadi 2♣ itu harusnya sudah membuatmu mengerti. Meskipun Raja sendiri yang mengutusmu, kau tetap rendah seperti pelayan lainnya," ucapnya menutup sebelah matanya dengan kartu Joker.
......................
__ADS_1
"Ucapanku adalah perintah. Kalau aku sudah mengatakannya maka turuti. Kau tidak berhak mempertanyakan. Kau itu pelayan sedangkan aku Pangeran."
"Eh, Pangeran Aron mewarnai rambut?" tatap Rakia ke arah rambut pria itu yang berwarna kuning.
Pangeran menatap Rakia untuk mengisyaratkannya pergi.
"Anda ingin aku pergi?"
......................
"Ah! Siapa kau? Kenapa bisa ada di kamarku?!" pekik Rakia.
Sebelah alis Pangeran terangkat sebelum akhirnya mengkode agar wanita itu melihat kasur.
"Sekarang giliranku. Siapa kau dan apa yang kau lakukan di kamarku?"
......................
‘’Lakukan tugasmu layaknya seorang pelayan. Jangan berbicara padaku seolah-olah kita berdua sudah akrab, dan satu lagi … Aku hanya memberimu izin masuk sampai siang. Selain itu jangan masuk ke kamar tanpa izin dariku.’’
Rakia menatap kepergian Pangeran Ramos yang membawa biola.
......................
‘’Tunggu sebentar,’’ kata Pangeran Akakuro mencegah Rakia yang hendak menyimpan buku.
‘’Kau harus mengurutkannya berdasarkan penerbit serinya baru kemudian penulisnya dari kiri ke kanan. Buku-buku itu harus diurutkan dari tertinggi ke yang terpendek,’’ kata pria itu tanpa mengalihkan pandangannya yang sedang menulis.
‘’Ha?!’’ kata Rakia mengerutkan dahi tanda kesal.
......................
Keduanya saling bertatapan hingga akhirnya tersadar.
‘’Kyaaa!’’ pekik kedua orang itu.
‘’Si-Siapa yang memberimu izin masuk ke dalam kamarku?!’’
‘’Ahh! Sebaiknya tutupi dulu tubuhmu!’’
......................
"Tidak perlu berpura-pura. Aku tahu siapa dirimu. Pelayan pribadi kami atau bisa aku panggil ... Dai San Hime(Putri Ketiga), Rakia de Gabrielle Helios."
Mata Rakia membulat besar.
"Aku menantikanmu sebagai pelayan pribadiku," senyum Pangeran itu meninggalkan Rakia yang masih mematung.
__ADS_1
Flashback off
Rakia hanya tersenyum mengingat semua itu.