
Pangeran Ramos terbelalak. ‘’Apa?’’
‘’Ya. Aku datang mengurus pernikahan kita,’’ jawab Putri Rakia memberi kepastian.
Pangeran Rui menarik uluran tangannya yang tidak sempat mencegah wanita itu tadi. ‘’Jadi, kau sungguh akan menikah dengan Kakak Ramos?’’
Putri Rakia melepaskan pelukannya dan berbalik menatap pria yang satu itu. ‘’Sudah kubilang kau salah pah—‘’
‘’Kenapa?! Jelas-jelas kau tahu kalau aku juga menyukaimu! Perlakuanmu selama ini bagaimana aku mengartikannya? Apa kau mempermainkan perasaanku Rakia?!’’ seru Pangeran Rui memotong ucapan wanita tadi.
‘’Aku tidak pernah berpikiran seperti itu. Percayalah, aku tidak ada niat mempermainkan perasaanmu,’’ kata Putri Rakia.
‘’Lalu apa ini? Kau sudah melukaiku untuk kesekian kalinya,’’ kata Pangeran Rui dengan raut wajah kecewa.
Putri Rakia hanya diam tidak berdaya, menerima semua keluhan Pangeran Rui.
‘’Aku menyukaimu jauh sebelum kau bertemu dengan Kakak Ramos! Kenapa kau me—‘’
‘’Aku menyukai Ramos!’’ seru Putri Rakia memotong ucapan Pangeran Rui.
Pengakuan wanita itu membuat kedua pria tadi tertegun.
‘’Aku menyukainya. Selain itu, dia juga adalah sosok penyelamatku,’’ kata Putri Rakia.
‘’Waktu itu aku juga menyelamatkanmu Rakia!’’ seru Pangeran Rui.
‘’Tapi yang menerobos ke dalam api dan mempertaruhkan nyawanya adalah Ramos!’’ seru Putri Rakia membalas.
Pangeran Rui benar-benar habis pikir. Matanya mulai memerah. ‘’Jadi kau pikir aku tidak mempertaruhkan hidupku juga untuk menolongmu?’’
Putri Rakia bingung harus mengatakan apa, perasaannya benar-benar campur aduk.
__ADS_1
‘’Humphehe, hehe, ahahaha, hahaha!‘’ kekeh Pangeran Rui seperti orang gila dengan kepala menengadah.
Ia menarik nafas sejenak lalu menatap Putri Rakia untuk pertama kalinya dengan tatapan dingin. ‘’Kalau tahu sejauh ini akan berakhir seperti ini ... Seharusnya waktu itu aku membiarkan balok itu mengenaimu saja.’’
Deg!
Putri Rakia mematung begitu juga dengan Pangeran Ramos. Keduanya menatap Pangeran Rui yang mengatakan kalimat tadi tanpa belas kasih.
‘’Ru-Rui?’’ tatap Putri Rakia tidak percaya.
Pangeran Rui menatapnya sendu. ‘’Kalau aku yang menerobos api, dan mempertaruhkan hidupku untuk menyelamatkanmu waktu itu, apakah kau akan memilihku?’’
‘’Ru—‘’
‘’Jawab aku!’’ tegas Pangeran Rui memotong ucapan Putri Rakia.
Putri Rakia terdiam cukup lama sampai akhirnya memejamkan mata sambil menghela nafas. ‘’Tidak.’’
Deg!
Pangeran Rui menatap Putri Rakia dengan senyuman menyeringai merendahkan. ‘’Rakia ... Hehe, kau ini naif sekali.’’
Tidak lama kemudian, wajahnya menjadi kusut dan memilih pergi.
Keduanya terdiam setelah kepergian Pangeran Rui.
‘’Um, yang tadi itu aku ti—‘’
Bugh!
Pangeran Ramos langsung menarik Putri Rakia ke dalam pelukannya membuat wanita itu terbelalak. ‘’Perkataanmu tadi, apakah itu benar? Kau sungguh menyukaiku bukan karena merasa kasihan padaku, kan?’’
__ADS_1
Putri Rakia mengangguk. ‘’Ya, aku menyukaimu bukan karena merasa kasihan. Tapi aku benar-benar menyukaimu. Aku sudah memastikan perasaanku.’’
‘’Ramos, kau menangis?’’ tanya Putri Rakia menarik pelukannya setelah mendengar suara isakan.
Butiran air mata Pangeran Ramos terjatuh. ‘’Katakan aku sedang tidak bermimpi.’’
Bugh!
"Akh! Kenapa kau memukulku? Itu sakit," kata Pangeran Ramos.
‘’Berarti ini kenyataan,’’ kata Putri Rakia terkikik.
"Kau benar-benar kasar," senyum Pangeran Ramos.
Putri Rakia berjinjit membuat pria itu mengerutkan dahi.
Cup!
Hanya kecupan singkat itu membuat Pangeran Ramos mematung sehingga Putri Rakia terkikik pelan.
‘’Sekarang aku bersikap lembut, kan? Jadi ja –‘’
Putri Rakia terkejut karena Pangeran Ramos langsung membengkap bibirnya dengan ciuman. Keduanya berciuman cukup lama sampai akhirnya Putri Rakia menjitak kepala Pangeran Ramos.
"Apa kau ingin membunuhku karena kehabisan oksigen sebelum kita menikah?!" kesal Putri Rakia.
"Apa kau ingin membunuhku karena cedera kepala sebelum kita menikah?!" kesal Pangeran Ramos.
Keduanya terdiam karena berbicara secara bersamaan. Tidak lama kemudian, mereka berdua terkekeh dan saling menempelkan dahi sambil tersenyum.
‘’Aku mencintaimu, Rakia.’’
__ADS_1
‘’Aku juga mencintaimu, Ramos.’’