
Dapur Istana
Haruka menatap wajah Rakia yang tampak bimbang.
‘’Akhir-akhir ini kita tidak bertemu, kau terlihat memikirkan sesuatu. Apakah kau membuat masalah lagi tau ja—‘’
Duk!
Rakia menancapkan pisau ke buah di sekitar tangan Haruka yang sedang meraba. ‘’Kau ini benar-benar tahu cara membuat orang emosi.’’
‘’Aku tidak melakukan apa pun padamu, kenapa kau sekasar itu?!’’ kesal Haruka.
‘’Pergilah sebelum pisau ini benar-benar menancap di tanganmu.’’
‘’Hah, wanita ini benar-benar gila!’’ kata Haruka pergi dengan emosi.
......................
Pangeran Rui bingung melihat beberapa pelayan datang membawa hidangan. ‘’Apa ini? Aku tidak pernah menyuruh kalian membawakanku makanan.’’
‘’Rakia menyuruh kami untuk mengantarnya.’’
‘’Kenapa bukan dia yang mengantarnya langsung?’’ tanya Pangeran Rui.
‘’Pangeran Keempat menyuruhnya membuat sarapan, jadi sekalian membuatkan juga satu untuk Anda.’’
‘’Kalian boleh pergi.’’
Pria itu menatap hidangan tersebut, cukup lama dia tidak merasakan buatan Rakia.
......................
Kamar Pangeran Keempat
‘’Jadi, selama melayaninya kau membuat hidangan ini setiap pagi?’’
‘’Ya.’’
......................
Beberapa hari kemudian…
‘’Datang lagi?’’ tatap Pangeran Rui.
__ADS_1
......................
Kamar Pangeran Keempat
‘’Aku akan membawanya ke dapur dulu.’’
Sambil menyusuri jalan, ia memikirkan hubungannya dengan Pangeran Rui yang akhir-akhir ini canggung.
Setelah dari dapur, Rakia malah bertemu dengan Pangeran Rui, tapi mereka berdua hanya diam. Keduanya berjalan tanpa ada yang saling menyapa.
Rakia, kau bahkan tidak menyapaku, kata Pangeran Rui dalam hati.
Kenapa dia mengacuhkanku? Padahal aku meluangkan waktu untuk membuatkan sarapan untuknya juga sebagai permintaan maaf. Benar-benar tidak tahu terima kasih, kata Rakia dalam hati.
Pangeran Rui hanya memasang raut wajah sedih, berbeda dengan Rakia yang merasa kesal.
......................
Penyakit Pangeran Keempat kembali kambuh.
‘’Maaf karena merepotkanmu, uhuk! Uhuk!’’
‘’Aku yang seharusnya meminta maaf karena besok aku akan melayani Pangeran selanjutnya.’’
‘’Ba-Baiklah, aku pergi dulu,’’ kata Rakia grogi.
Pria itu menatap kepergian Rakia dengan wajah murung.
......................
Saat menyusuri koridor istana, seseorang tiba-tiba menariknya. ‘’Siapa ka—‘’
‘’Rui?’’ tatap Rakia.
‘’Kenapa kau membuatkan sarapan yang sama punyaku dengan Kakak Ramos?’’ tanya pria itu dengan nada kecewa.
‘’Ramos memintaku karena dia suka.’’
Bugh!
‘’Aku benci jika sesuatu yang aku sukai, dia selalu merebutnya!’’ marah Pangeran Rui memukul tembok tanpa peduli tangannya berdarah.
‘’Rui, tanganmu!’’
__ADS_1
Rakia mengambil kotak P3K lalu mengobati luka tersebut.
‘’Kau masih peduli padaku?’’ tanya pria itu.
‘’Siapa yang tidak peduli dengan tangan yang terluka seperti ini?’’
‘’Lalu kenapa tidak menjawab pernyataanku waktu itu?’’
Rakia hanya diam. ‘’Aku sudah membalutinya perban, jangan sampai terkena air.’’
‘’Kau menghindar lagi,’’ tatap Pangeran Rui.
‘’Berhenti membuatku bingung,’’ kata Rakia berdiri.
‘’Kau yang berhenti membuatku bingung!’’ seru Pangeran Rui membanting kotak P3K.
‘’Istirahatlah, aku akan pergi.’’
‘’Kenapa? Ingin melarikan diri lagi?’’
‘’Akh!’’ ringis Rakia saat punggungnya membentur tembok karena Pangeran Rui mendorongnya.
Rakia memalingkan wajah saat pria itu mendekatkan wajahnya.
‘’Jika tidak menyukaiku, apa kau bisa jelaskan semua yang sudah terjadi selama ini?’’
‘’Apakah aku harus terlihat kejam melihatmu tersiksa karena demam?’’ kata Rakia.
‘’Bagaimana saat kau menungguku di tengah hujan selama 9 jam?’’
‘’Itu karena aku cemas kau tidak kembali,’’ kata Rakia memberontak mencoba mendorong Pangeran Rui, tapi kekuatannya kalah kuat.
‘’Kau pernah bertanya apa yang terjadi pada malam itu, kan? Baiklah, akan kuberitahu.’’
Cup!
Rakia tertegun saat Pangeran Rui menciumnya kasar.
Plak!
Wajah pria itu menghadap ke satu sisi, lalu menatap Rakia yang menyeka bibirnya dengan punggung tangan.
‘’Itulah yang terjadi saat aku mengangkatmu ke kasur. Biar kutanya sekali lagi, apakah kau sungguh tidak mengenaliku?’’ tanya Pangeran Rui dengan butiran air mata terjatuh.
__ADS_1
Rakia mendorongnya dan berlari pergi, membuat Pangeran Rui berdecih.