My Name Is Crazy (Si Pecundang Telah Kembali)

My Name Is Crazy (Si Pecundang Telah Kembali)
Eps.9 Pemakaman


__ADS_3

Kiki melangkahkan kakinya cepat melewati lorong-lorong rumah sakit ini cepat. Setelah ia turun dari dalam Liv. Untuk pergi ke ruang jenazah tempat keluarga berkumpul.


Menghampiri ayahnya yang tengah menenangkan ibunya yang tengah menangis di depan kamar jenazah,"Ayah ibu kenapa di sini?Bang Ikbal tidak mungkin mendapatkan perawatan di sini".Kiki yang belum mempercayai kebenaran nya. Walaupun ia sudah melihat bukti-bukti nya.


"Abang mu sudah meninggal. Kamu dapat melihat nya di dalam".Kata Tuan Haki yang sibuk menenangkan istrinya yang menangis tersedu-sedu.


"Kenapa musibah ini harus menimpa putra kita?".Nyonya Gin tak kuasa menahan air matanya yang terus mengalir deras membasahi pipinya.


+++++


Kiki melangkah berlahan-lahan kedalam ruangan ini. Yang tepat di depan nya sudah ada peti jenazah warna putih yang sudah tertutup rapat.


Sudah berdiri di dekat peti jenazah, tangan Kiki bergetar terangkat memegang pinggiran tepi Jenazah yang di dalamnya sudah ada sosok yang selama ini tidak pernah akur dengan nya. Kakak kedua nya, Ikbal.


"Hee....Kenapa?Maksudku bagaimana bisa seperti ini?".


"Kalau bang Ikbal pergi Kiki bakal gelud sama siapa?Siapa yang bakal marah-marah tidak jelas nanti. Rumah akan sepi, bang".


"Aku tau Abang sering memukul ku, memarahi ku tapi Abang tidak pernah memukul Vania. Aku tau, aku tau kalau sebenarnya Abang sayang sama kita. Karena Abang adalah seorang yang datang malam-malam ke kamar ku hanya untuk merawat ku yang sakit".

__ADS_1


Hening cukup lama dalam ruangan ini. Kiki menunduk pandangan nya tanpa menitihkan sedikit pun air mata.


"Aku harus bilang apa sama Vania. Dia akan sedih jika mengetahui keberadaan nya".Kalimat terakhir sebelum Kiki kembali terdiam. Hanya diam tanpa mengatakan apapun sekali manik mata memerahnya yang memperhatikan tubuh tidak bernyawa kakak kandung nya.


++++++


Selesai melihat beberapa barang yang di ambil dari Ikbal, juga setelah melihat jenazah Ikbal. Aku berkata,"Alat yang tertancap di lidah Ikbal adalah alat komunikasi berbentuk seperti alat pelacak. Alat komunikasi jarak jauh yang merekam langsung apapun yang pemilik tubuh katakan".


"Alatnya hanya akan rusak dengan sendirinya jika tubuh pemilik yang tertanam alat ini mati".


"Sekarang apa yang akan Nona lakukan sementara kita tidak bisa mengetahui sudah sejauh mana informasi yang telah bocor".


"Tidak perlu, aku akan melakukan tugas ku seperti biasanya. Aku tidak suka menunda-nunda pekerjaan".


"Tidak ada tugas untuk mu. Kau bisa pergi dan kembali saat urusan mu sudah selesai. Aku tidak membutuhkan seseorang yang tidak fokus dengan pekerjaan nya".Kata ku,"Kembalilah saat semuanya sudah usai".


++++++


Pemakaman Ikbal terlah di laksanakan. Semua rombongan pengantar jenazah telah pergi ke pemakaman untuk mengebumikan Jenazah Ikbal. Hanya Kiki, dan ayahnya saja yang ikut mengantarkan Ikbal ke pemakaman terakhir nya.

__ADS_1


Sementara Ibu tetap di rumah menjaga kedua anaknya yang lain. Menjaga Ifan yang tidak kunjung siuman sejak peti jenazah Ikbal sampai di kediaman rumah. Membuat Nyonya Gian tidak bisa pergi ikut mengantarkan Ikbal ke peristirahatan terakhir nya.


Selesai dengan pemakaman kedua ayah dan anak ini masih setia berdiri di samping pusaran terakhir Ikbal.


"Ayo kembali".Ajak Tuan Haki menghancurkan keheningan antar keduanya.


Kiki mengangguk ringan. Ia mengikuti langkah kaki ayahnya yang mulai berjalan menjauh dari tempat peristirahatan putranya.


+++++


"Bu".Seru Vania yang duduk bersimpuh di samping abangnya yang belum kunjung membuka kelopak matanya,"Bang Ifan kenapa tidak bangun-bangun, bang Ifan baik-baik saja kan Bu?".


Nyonya Gina dengan ketegaran dan ketelatenan nya menjaga kompres kain yang ada di kening Ifan tetap dingin untuk menurunkan demam Ifan.


"Abang mu akan baik-baik saja. Dia akan segera bangun. Sekarang dia sedang istirahat".Tutur Nyonya Gian beranjak dari tempat duduknya,"Ibu akan pergi sebentar menemui para tamu. Jika ada apa-apa segera panggil ibu".


Yang di balas anggukan ringan oleh Vania.


Nyonya Gina harus tetap tegar. Ia harus kuat, ia berjalan meninggalkan kamar putranya yang belum siuman walaupun sulit. Untuk menemui para pelayat yang ia abaikan sejak tadi. Karena kekhawatiran nya pada keadaan putranya yang tiba-tiba saja pingsan tidak sadarkan diri setelah mengalami kesulitan bernafas. Suatu kejadian yang tidak pernah terjadi membuat Nyonya Gina sangat-sangat panik.

__ADS_1


__ADS_2