
Tujuh bulan telah berlalu. Kini usia kandungan Vlora sudah genap 10 bulan menjelang persalinan.
Pria kemeja putih yang menetap jas dan tas kerjanya. Berjalan mendekati pintu kamar nya di lantai atas. Membuka pintu kamar berlahan-lahan takut membangun seseorang yang mungkin sudah terlelap tertidur.
Clekkk.......
Sayangnya walaupun sudah berhati-hati seseorang di dalam sana tetap menyadari kedatangan nya.
Vlora terbangun dari tidurnya. Dengan susah payah yang akhirnya di bantu oleh Kiki yang berjalan cepat mendekat untuk membantu Vlora duduk.
Sejak perutnya yang semakin membesar. Vlora banyak sekali kesulitan melakukan hal-hal kecil. Terkecuali untuk duduk setelah tidur.
"Aku sudah masuk mengendap-endap seperti maling, kamu masih saja menyadari kedatangan ku",muram Kiki merasa bersalah karena membuat Vlora terbangun dari tidurnya.
"Tau dari bau parfum selingkuh",
"Uhahahhahhhkk......",tertawa terbahak-bahak.
"Gila! Di tuduh selingkuh malah ketawa",aku yang menatap datar Kiki.
Menghapus bui bening yang keluar di sudut matanya,"Sudah lama Yun kamu tidak tunduk aku selingkuh. Aku sempat overthinking kamu sudah tidak mencintai mu".
"Jadi aku bahagia kali saat kau menuduh ku hahah.....",masih di susul dengan tawa renyah.
Meringis memegangi perut nya,"Kenapa Yun?".
"Mules sejak tadi siang",
"Kenapa tidak beritahu aku, aku akan bisa pulang cepat.... yasudahlah ayo ke rumah sakit",ajak Kiki tanpa basa basi lagi.
"Tapi kan be....".
"Aku sudah mengurus semuanya",Kiki yang sudah beranjak dari tempat duduknya untuk membantu Vlora.
Namun Vlora masih terdiam memegangi perut buncitnya.
"Bentar Ki sakit",ucap ku lirih.
"Aku gedong saja Yun",
__ADS_1
"Eh jangan Ki, nanti jatuh. Aku akan jalan sendiri, aku tahan saja sakitnya tidak seberapa",tolak Vlora mulai menurunkan kakinya dari atas tempat tidur.
Kiki akhirnya menuntut Vlora berjalan keluar kamar dengan panik juga khawatir. Karena walaupun tidak mengatakan sedang kesakitan. Ekspresi wajah Vlora tetap tidak bisa di bohongi jika dirinya sedang sangat kesakitan.
Ikut memegangi perut Vlora,"Jangan keluar dulu, nanti saja kalau sudah di rumah sakit. Kasihan bunda mu kesakitan",ucap Kiki pada anaknya yang belum lahir.
Vlora yang mendengar ingin tergelak tawa, tapi iya tahan.
Bi Nur yang memang ada sini. Atau memang menyempatkan untuk tinggal kembali di sini untuk beberapa hari demi Vlora yang akan melahirkan. Beliau yang melihat kedua majikan baru keluar dari dalam liv. Melihat raut wajah Vlora menahan sakit berjalan mendekat.
"Nona mau melahirkan?".
"Iya Bi suruh supir siapkan mobil", perintah Kiki.
"Tas persalinan nya mana?".
"Tas?".
Pakk.....Bi Nur yang memukul bahu Kiki,"Aduh",ujar Kiki.
"Dasar laki-laki! Bisanya buat saja",marah Bi Nur.
Bi Nur yang membantu Vlora berdiri sementara Kiki berlari lewat tangga naik kembali ke lantas atas untuk mengambil tas persalinan.
Tidak butuh waktu lama ia pun kembali dengan mengalungkan tas ransel di lehernya,"Aku gendong saja Yun",
"Enggak, na...".
"Mana mungkin aku menjatuhkan anak dan istri. Aku gendong saja, masih jauh untuk sampai di luar. Kamu harus segera ke rumah sakit secepatnya",Kiki yang akhirnya mengendong tubuh Vlora yang semakin berat. Membawa Vlora dalam gendongan berjalan keluar rumah.
"Bukankan pintu mobil bi",minta Kiki pada bi Nur yang bergegas berjalan lebih dulu untuk membukakan pintu mobil untuk majikan.
+++
"Bagaimana bang? Sudah melahirkan?".Tanya Vania pada Daniel yang sudah ada di sana lebih dulu dari dirinya dan Ifan.
"Belum".
Terfokus melihat kehadiran ayah yang juga ikut datang menunggu persalinan Vlora,"Ayah kenapa di sini?".
__ADS_1
"Mau lihat calon cucu ayah. Malas melihat kalian berdua tidak kasih-kasih cucu",ucap Pak Haki yang akhirnya menyindir kedua putranya yang masih menjomblo sampai detik ini.
"Nunggu tua dulu katanya Yah, nunggu tak laku",semprot Vania ikut menambahi.
Mengacak-acak surai rambut adiknya,"Dah diam kau juga sama",kata Ifan.
Memayungkan bibir nya kesal,"Aku sudah ada iya, seenaknya saja bilang samaan".
Di luar ribut di dalam sedang berjuang untuk melahirkan
"Kiki...", menggenggam kuat tangan Kiki.
"Tarik nafas, tahan ....", instruksi dokter nya."Ayo nyonya kepalanya sudah keluar.
"Kamu pasti bisa Yuna, semangat. Tatik nafas lagi....", mengikuti apa yang di lakukan istri nya.
"Aaaaaaaaaaakkkkk.....".
owekwkkwokwkk....suara tangis bayi membuat yang di luar ruang persalinan mengucap syukur. Dengan raut wajah yang masih cemas, berbeda dengan Vania yang sudah sumringah bahagia.
Sesaat kemudian pintu persalinan di buka. Vlora yang duduk di kursi roda di dorong keluar ruang persalinan bersama Kiki.
"Jenis kelamin apa?",tanya Daniel antusias menatap keduanya berganti.
"Baby boy",di susul senyum bahagia Kiki.
Raut wajah Daniel langsung berubah masam, ia langsung mengambil langkah mundur kembali duduk lemas. Hampir samaan dengan Ifan setelah mendengar kata baby boy.
"Kenapa kau datang Kiki dua Tuhan?",ujar Ifan entah pada tuhan nya di atas sana.
"Kalian kenapa sih?",kesal marah Kiki.
"Mereka berdua takut nanti baby boy seperti Abang",jelas Vania.
"Iya jelas sama lah kan aku ayah nya".
"Nyonya harus di bawa ke kamar rawat jalan Tuan. Nyonya membutuhkan istirahat secepatnya",tegur dokter pada Kiki.
"Iya dok maaf. Ini semua karna kalian",kesal Kiki berlalu kembali mendorong kursi roda Vlora.
__ADS_1
Sembaring menahan tawa. Vlora yang hanya dapat menyungging senyum bahagia, menahan tawa agar tidak sampai kelepasan tertawa terbahak-bahak.