
Sudah satu minggu ini Kiki sakit tidak jelas. Kenapa di bilang demikian? Karena hampir semua dokter yang sudah di datangi Kiki untuk memeriksa sakitnya. Hampir semuanya bilang Kiki hanya masuk angin biasa. Tapi anehnya sampai berminggu-minggu. Membuat berat badan Kiki turun drastis.
Karena selama sakit Kiki, ia tidak bisa memakan apapun. Setiap ia makan selalu saja ia keluarkan kembali. Sehingga membuat tubuhnya menjadi sangat lemah sekali.
"Bryan",panggil Vlora yang langsung masuk ke dalam kamar Bryan yang pintunya di biarkan terkunci.
Sementara Bryan yang awalnya tidur memainkan handphone nya segera beranjak bangun untuk duduk dengan benar.
"Besok kamu ada kuliah pagi atau siang?",tanya Vlora yang sudah berdiri tidak terlalu jauh dari Bryan duduk.
Bryan yang sudah terfokus pada Vlora,"Pagi Bun, soal siangnya ada meeting pekerjaan".
"Jika siang bunda ingin kamu menemani ayah sebentar. Bunda mau mengantar Vania pergi ke dokter kandungan, karena suaminya masih ada di luar kota".
"Om Daniel sama Om Ifan".
"Mereka berdua sedang ada tugas pekerjaan yang tidak bisa di tinggalkan",kata Vlora."Om Ifan kan bunda suruh menjadi perantara semetara proyek yang tidak bisa ayah mu kerjakan".
"Hmm.....Bryan akan izin saja Bun. Kasihan ayah kalau harus di tinggal sendirian".
"Terima kasih, maaf bunda menganggu kegiatan kamu".
"Tidak sama sekali Bun. Kalau buat bunda dan ayah apapun tidak masalah buat Bryan".
Vlora menyungging senyum tipis, ia mengelus lembut surai rambut putra yang sudah beranjak dewasa,"Perasaan baru kemarin kamu pipis di pangkuan ayah mu",gemas Vlora.
"Eh! Bunda".
Menyudahi mengacak-acak surai rambut kepala Bryan,"Lekas istirahat jangan tidur malam-malam Bry".
"Ehm",di barengi anggukan kepala ringan.
Vlora berlalu keluar kamar Bryan. Tidak lupa ia juga menutup pintu kamar Bryan sebelum benar-benar pergi.
Drumm....drumm......
Ekspresi wajah yang cengengesan bahagia tiba-tiba langsung berubah datar tepat saat melihat layar ponsel menyalah yang tergeletak di tidak terlalu jauh dari tempat nya duduk. Layar ponsel itu menyalah memperlihatkan gagang telfon yang bergetar-getar di sana.
Bryan segera mengambil ponsel, menggeser gagang telfon yang bergetar-getar itu untuk menerima panggilan telepon suara yang masuk ke dalam ponsel nya.
*.............".
*....................".
*Iya".
*...............................".
*Aku kasih komisi tambahan".
*Okay siap",balas suara Juan di seberang sana.
Panggil telfon pun di akhir sepihak dari seberang sini oleh Bryan.
Bryan menghempaskan tubuhnya kembali ke atas tempat tidur. Perhatian nya kembali terfokus melihat langit-langit kamar tidurnya yang membosankan.
__ADS_1
"Ittsss....sial",umpatnya entah kekesalan karena apa.
++++++++
++++++++++++
Keesokan harinya di ruang makan keluarga Resendriya. Vlora dengan pakaian rapi berjalan masuk ke ruang makan di mana ada Bryan yang tengah memakan sarapannya seorang diri.
"Bunda sudah mau berangkat".
Sibuk melihat isi tas yang ia bawah,"Iya",berpaling melihat Bryan."Ayah kamu sudah minum obat, sekarang sedang tidur. Nanti sering-sering kamu lihat kali saja membutuhkan bantuan".
Yang di balas anggukan kepala oleh Bryan mengerikan,"Hati-hati di jalan Bun".
"Iya", Vlora berlalu meninggalkan ruang makan.
Bryan lekas menyelesaikan sarapan nya. Setelah selesai ia yang sudah selesai mencuci tangan dan menaruh piring kotor di wastafel. Berjalan pergi naik ke lantai atas untuk pergi ke kamar orang tua nya.
Setibanya di kamar orang tua yang pintunya tidak tertutup. Bryan yang hendak mengetuk pintu ia urungkan saat melihat Kiki terbangun duduk di atas tempat tidur tengah membaca buku dalam genggaman tangan nya.
Namun pada akhirnya Bryan tetap mengetuk pintu kamar sebelah ia melangkah lebih masuk ke dalam kamar.
"Masuk saja Bry",suruh Kiki melepaskan kacamata yang ia gunakan untuk membaca.
Kiki yang sudah terfokus melihat Bryan yang duduk di tepi tempat tidur depannya,"Kamu tidak kuliah saja?".
"Tidak Yah".
"Ayah sudah jauh lebih baik?".
"Cepat sembuh Yah. Minggu depan ada pertandingan sepakbola".
Menyungging ekspresi wajah semangat,"Hari apa?".
"Sabtu Malam Minggu".
"Mantap, siapkan camilan nya nanti kita nonton bareng. Ajak Jay dan Juan sekalian".
Menatap heran ayahnya,"Ayah sehat?".
"Harus selalu sehat kalau soal bertanding sepakbola Bry",di susul tawa renyah nya. Membuat Bryan ikut tertawa bahagia bersama ayahnya.
++++
Duduk di kursi panjang lobi rumah sakit. Tempat untuk mengantri pemeriksaan. Itulah yang tengah Vlora dan Vania lakukan. Vlora tengah mengantarkan Vania memeriksakan kandungan nya yang sudah besar ke dokter kehamilan.
Vania, adik bungsu Kiki sudah menikah dua tahun yang lalu. Dengan seorang laki-laki yang sama. Yaitu Gaza, teman masa kecilnya. Beliau ini adalah satu-satunya laki-laki yang di bilang paling berani mendekati Vania. Sementara beliau ini sudah mengetahui jelas pawang Vania. Intinya cinta dapat membuat manusia tidak berotak.
"Kak Hyuna tidak periksa juga?",tanya Vania yang sudah terfokus melihat lawan bicara nya.
Vlora yang sudah terfokus pada Vania,"Katanya kak Hyuna sudah telat satu bulan. Mungkin saja isi, coba saja kak Hyuna di periksakan",bujuk Vania.
"Anjing!!",umpat Juan yang baru saja keluar dari gerbang rumah nya. Juan terkejut melihat raut wajah lecek Bryan."Lu kenapa anjing?",tanya Juan yang sudah berdiri di samping motor Bryan.
Masih dengan ekspresi wajah masam,"Lu tau....".
__ADS_1
Di siang bolong. Bryan yang masih di kamar Kiki duduk di sova panjang memainkan game di ponsel. Untuk menemani Kiki yang tengah tertidur siang di tempat tidur.
Tiba-tiba kedatangan Vlora yang baru saja pulang masuk ke dalam kamar. Bryan langsung mematikan layar ponsel dan duduk dengan benar melihat ke arah Vlora.
"Kenapa di matikan? Tidak takut menyesal sudah level atas di kalahkan?",tanya Vlora membuat Kiki langsung terbangun. Yang hanya di balas senyum tipis oleh Bryan.
"Sudah selesai?",tanya Kiki pada Vlora.
"Sudah, keadaan kandungannya sehat. Bayinya sepertinya laki-laki",kata Vlora di susul terfokus membuka tas selempang nya.
Vlora mengeluarkan amplop coklat dari dalam tas nya. Dan memberikan nya pada Kiki yang sudah terduduk di atas tempat tidur.
Sementara itu Bryan yang penasaran bergegas ikut mendekat,"Apa yah?".
Kiki yang sudah selesai membaca isi surat dalam amplop coklat. Manik mata langsung terfokus melihat Vlora,"Kamu hamil?".
"What?",ujar kaget Bryan yang langsung mengambil surat yang Kiki letakkan di depan nya. Seketika itu wajah terkejut Bryan langsung mendominasi sangat-sangat terkejut.
"Sudah 3 bulan",kata Vlora membuat Bryan semakin terkejut. Jauh berbeda dengan Kiki yang sangat bahagia, menyungging senyum sumringah di sudut bibir nya yang pucat.
"Aku mau jadi anak tunggal saja",ucap Bryan membuat kedua orang tua nya langsung terfokus melihat nya."Bagiamana jika adik ku laki-laki? Aku pasti kalian buang",ucapan Bryan yang tidak sama sekali memperlihatkan bahwa dirinya sudah remaja dewasa.
Kiki menggoda Vlora untuk menenangkan Bryan yang sangat tidak bahagia. Vlora melangkah mendekat mengelus lembut bahu merangkul Bryan,"Ada atau tidak nya adik, Bryan tetap anak kami. Bryan adalah kebahagiaan pertama kami sebagai orang tua".
"Kasih sayang kami tetap sama. Tidak ada yang berbeda Bryan dan berubah".
"Justru peran kamu yang nanti akan berubah",Vlora menatap lurus kedua sepasang mata di depannya."Kamu akan menjadi lebih dewasa dari adik-adik mu. Kamu yang akan menjadi contoh baik adik mu suatu saat nanti",timpal Kiki.
"Bryan senang kan? Bunda sangat bahagia saat mendapatkan kabar ini. Akhirnya anggota keluarga kita bertambah",kata Vlora di susul senyum sumringah nya.
Alhasil Bryan akhirnya ikut menunjukkan ekspresi wajah bahagia. Untuk bundanya yang sangat bahagia.
Namun di malam hari. Saat menjemput Juan. Bryan menunjukkan ekspresi wajah lecet muram. Dan ternyata itulah yang membuat wajah Bryan lecet dan muram.
Alhasil Juan yang selesai mendengarkan cerita Bryan langsung tertawa terpingkal-pingkal sampai terjungkal saking meledakkan nya tawanya.
"Huhhahahhhh...... Aaahhhakhikk......".
Membuat ekspresi wajah Bryan menjadi datar.
"Sorry, sorry, Bry. Sumpah lucu sekali ini",mencoba menyudahi tawanya karena ekspresi wajah sahabat yang sudah sangat datar.
Menarik nafas sembuhkan,"Lagian tidak papa Bry punya adik",kata Juan."Gue juga dulu sempat kesal karena gue akan punya adik. Tapi setelah adikku ada, gue malah seneng, malahan gue yang paling bahagia waktu adikku lahir".
"Kadang kalau adikku tidak ada di rumah. Sumpah lu akan tau rasanya seperti tinggal di tengah hutan sendirian".
"Ko bisa? Aneh",
"Sepi Bry, tidak ada yang di ganggu tidak ada yang bisa gue jahil sampai nangis".
"Itu kalau versi adik perempuan. Bagiamana dengan versi adik laki-laki?".
Juan naik duduk dibonceng belakang motor Bryan,"Versi laki-laki nya tanya Wahyu. Cepat jalan",di susul menepuk pundak Bryan.
".....".Bryan pun menyalahkan mesin motor nya sebelum akhirnya tancap gas meninggalkan halaman depan gerbang rumah Juan.
__ADS_1