My Name Is Crazy (Si Pecundang Telah Kembali)

My Name Is Crazy (Si Pecundang Telah Kembali)
Eps.13 Sabahat sehidup semati


__ADS_3

Jam 2 malam kemarin Vlora mendapatkan telfon dari nomer orang yang tidak di kenal melalui ponsel sekolah nya. Vlora mengangkat panggilan telfon yang masuk tanpa ada pemikiran negatif.


Terhubung.


*Selamat pagi adik ku".


*Bang**sat!".


*Kakak mu menunggu di bawah jembatan sungai jernih jam 10 Malam. Besok".


Panggilan di akhir sepihak oleh seseorang di seberang sana.


Mendengarkan itu tangan Vlora mengepal kuat, sangat kuat. Amarah Vlora yang meluap-luap langsung Vlora luapkan dengan meninju dinding kamar nya kuat beberapa kali. Puas melihat tangan nya memerah.


Vlora berlalu keluar kamar memanggil bi Nur yang biasanya jam segini sudah ada di dapur. Menyuruhnya untuk tidak perlu membangunkan nya besok atau sekarang.


Alhasil di hari Senin sekarang. Vlora tidak masuk sekolah dengan alasan sakit. Yang sebenarnya memang sakit. Bukan sakit di luar tapi sakit di dalam.


Karena obrolan telfon sederhana itu. Semua ingatan masa lalu Vlora kembali berputar-putar dalam kepala nya turun ke bawah berkelahi di dalam hati nya. Menghasilkan rasa sakit luar biasa sesak di dalam sana.


Next.....


Walaupun begitu. Di malam harinya di hari ini. Vlora tetap keluar menemui seseorang penelpon setelah Vlora di kunjungi oleh Kiki yang ia usir.


Di sinilah tempat Vlora sekarang. Tempat Vlora bertemu dengan seseorang itu. Atau kakak laki-laki nya, Xana. Di bawah jembatan sungai bening.


Pertengkaran hebat terjadi di antara kami berdua yang tidak pernah akur. Atau mustahil untuk akur.


Mendengarkan luapan emosi Vlora. Xana yang tetap dengan ketenangan nya,"Jadi tunggu apa lagi! Kau membenci ku bukan. Kau ingin membalaskan dendam kematian ayah dan ibu".Tanpa merubah raut wajah dingin datarnya,"Jadi cepat bunuh aku. Aku tau kau membawa senjata".Lanjutnya.


Xana yang tetap terfokus pada Vlora,"Gunakan senjata nya bodoh!!".


Vlora yang memang sudah menggenggam senjata api di dalam genggaman tangan nya. Berlahan-lahan mulai mengangkat pistol itu ke arah tempat Xana berdiri.


"Kenapa?Kau takut adik ku yang bodoh".Xana melihat nya yang tidak kunjung menekan pelatuk nya.


"'Ahsial!!Tangan ku tidak bisa bergerak',pikir Aku yang menyadari tangan ku tiba-tiba saja membeku.


Jari-jari Vlora yang menggenggam pistol sulit sekali menekan pelatuk nya. Semakin Vlora paksa jari-jari terasa sangat sakit sekali. Seperti ada seseorang yang menahan agar Vlora tidak menembak Xana. Apakah Vlora tidak ingin kehilangan dia. Apakah kebencian Vlora masih kurang, sampai Vlora tidak bisa menghabisi dia yang telah merenggut semua kebahagiaan nya.


Namun tiba-tiba Brakkk.....Xana menendang lengan tangan Vlora sampai tubuh Vlora terpental.


Xana mendekati Vlora mencengkram leher Vlora sampai tubuh Vlora terangkat,"Sudah ku bilang jangan temui aku jika kau belum membunuh orang terdekat mu".


"Kau bahkan tidak bisa membenci seseorang yang telah merenggut semuanya dari mu".Kata Xana tanpa melepaskan cengkraman tangan nya walaupun Vlora sudah sangat kesulitan bernafas.

__ADS_1


Semakin menekan cengkraman tangan nya. Di saat Vlora sudah kehilangan nafas. Tanpa ada rasa khawatir walaupun Vlora adalah adik kandung nya.


Menyadari tangan Vlora yang meronta-ronta, juga kaki Vlora yang menendang-nendang gagal terus, berangsur-angsur melemah. Xana melempar tubuh Vlora kuat ke atas jalanan paving.


Vlora langsung terbatuk-batuk mengambil oksigen yang hampir saja hilang.


Sementara Xana masih terdiam di tempat nya. Dengan raut wajahnya yang tetap datar dan dingin,"Pantas ayah dan ibu mati. Putri nya saja selemah dan sebodoh ini".Kata Xana berbalik badan. Mulai berjalan menjauh dari tempat nya.


"Aku tidak bodoh!Aku juga tidak lemah!".Ucap ku masih duduk di tempat ku jatuh,"Kau yang lemah, dan kau yang bodoh, karena kau adalah orang yang paling menyedihkan di dunia ini. Kau tidak pernah bisa tau kasih sayang mereka berdua berikan. AKU BENCI KAU!!AKU BENCI!!".Aku meninggikan nada bicara akhir ku berteriak.


Xana tetap tidak membalikan badan nya. Ia justru melanjutkan perjalanan nya yang tertunda untuk pergi meninggalkan Vlora sendirian di jalanan ini.


Aku masih terdiam di tempat ku jatuh,"AAAAAAHHHHHkkkk!!!!".Teriak ku memukul-mukul jalanan paving ini. Bersamaan dengan air bui bening yang tidak ku suruh untuk keluar.


Bersujud dengan tangan kanan yang meremas dada kiri dan tangan kiri yang memukul jalanan ini. Vlora meluapkan semua kesedihan nya tanpa suara sendirian.


Bayang-bayang seseorang berdiri tepat di depan Vlora. Membuat Vlora menghentikan tangis nya. Vlora mendongak melihat seseorang itu. Dia yang sudah mengulurkan tangannya untuk membantu Vlora kembali berdiri dengan baik.


Belum mendapatkan respon dari Vlora yang masih terdiam menatap Kiki,"Ayo Vlora sebelum ada orang melihat mu menangis seperti ini".Kiki yang langsung membantu Vlora untuk kembali berdiri.


Baru juga berdiri aku kembali membungkuk kan badan,"Att...".Aku merintih sakit pada pergelangan kaki kanan ku yang seperti tergilir.


"Kaki mu tergilir".Kiki langsung menggendong Vlora pergi dari sana.


Menurunkan Vlora saat sudah menemukan kursi panjang untuk Vlora duduk. Ia berjongkok di depan Vlora untuk melihat kaki Vlora yang cidera.


"Itsii".


"Sorry!!Aku tidak alih soal gini. Seharusnya aku ikut kelas memijit buat berjaga-jaga".Kata Kiki yang berlahan-lahan tetap memijat kaki Vlora.


Sesaat kemudian,"Sudah selesai. Akan tetapi sampai rumah langsung kompres pakai air hangat biar tidak sampai bengkak",pesan Kiki beranjak berdiri duduk di samping Vlora,"Jangan di pakai dulu sepatunya. Nanti bengkak kaki mu".


"Nanti aku antar pulang".


Perkataan-perkataan Kiki yang tidak mendapatkan respon dari Vlora yang hanya diam saja semenjak tadi.


Berpikir diam Vlora karena khawatir dirinya akan menyebarkan kejadian tadi kepada yang lain,"Jangan cemas soal tadi aku tidak akan bilang ke siapapun".Kata Kiki sekali lagi.


Memperhatikan Vlora yang tetap diam saja,"Mau pulang sekarang biar ku antar?",tanya Kiki yang tetap tidak mendapatkan respon apapun dari Vlora yang hanya diam saja. Menunduk pandangan.


Sesaat setelah keheningan,"Boleh tidak kita tukeran keluarga?".Aku yang sudah terfokus menatap lawan bicara ku.


"Aku sangat ingin sekali punya ibu, ayah, kakak, seperti keluarga mu".Kata ku yang di susul dengan senyuman miring yang miris.'Bisa-bisa aku mengatakan ini. Apakah sudah sehancur inikah diriku',pikir ku.


"Hahhh!!Aneh sekali ucapan ku".

__ADS_1


Mengenakan sepatu yang terlepas,"Aku akan pulang saja. Kau tidak perlu membantu ku, kaki ku sudah tidak sakit. Terima kasih".Aku beranjak dari tempat ku duduk.


Menggenggam tangan Vlora,"Tunggu".


Kiki tiba-tiba membalikan tubuh Vlora, menarik tubuh Vlora ke dalam pelukan nya.


"Kau hebat Yuna, kamu pintar, kamu cantik, kamu juga berhak bahagia karena kamu sangat sempurna".Kata Kiki tanpa melepaskan pelukan nya,"Jika kamu kesepian kamu bisa datang ke rumah ku. Adik ku sangat senang dengan kehadiran mu. Ayah dan ibu ku juga".


"Datanglah kapan pun kau mau. Dan telfon aku kapan pun kau membutuhkan ku. Aku akan datang membantu mu. You are not alone".


Aku yang masih dalam pelukan erat Kiki,'Sangat nyaman seperti ayah, sangat hangat seperti ibu'.Batin ku. Kedua tangan ku mulai tergerak ingin membalas pelukan nya.


"Lepas Ki sesak".Ucap ku sebelum aku membalas pelukan Kiki.


Kiki langsung melepaskan pelukan mengambil langkah sedikit mundur menjauh dari Vlora. Menggaruk-garuk surai belakang rambut kepala nya,"Hahahh....sorry, sorry".


"Lu katanya mau tukeran otak".


"Lu tau pidato gu...gue?".Kiki melotot manik mata nya. Mau loncat.


"Apapun bisa ku ketahui tanpa repot-repot menghadiri acara merepotkan itu".


Menghela nafas kasar,"Bukan mereka yang kasih tau, tapi mata-mata mu".


"Sial".Umpatnya.


Mendekap mulut Vlora di barengi dengan tertawa kecil melihat tingkah nya.


"Gitu dong tertawa. Jadi Yuna saja jangan jadi Vlora. Aku tidak suka melihat kamu jadi Vlora serem".


"Apakah ending nya, lu suka sama gue. Dari tadi lu bilang aku kamu kau?".


"Hee!!Di rumah lu tadi, lu juga bilang aku kamu".


"Ehmm".


"Berarti gue suka lu gitu?".


"Mana gue tau. Kalau gue....".Kiki menjedah ucapan nya melihat tatapan Vlora yang dalam mendengarkan bicara.


"Tidak. Gue tidak mau bilang kalau gue bilang lu akan menjauhi gue. Dan lu tidak mau gue ajak ribut lagi".


"Hemm".Aku mengulurkan tangan ku,"Sahabat sehidup semati saja".Kata ku sembaring menunggu Kiki menjabat tangan ku.


Kiki yang masih terfokus pada Vlora,"Kau suka aku?".Yang Vlora balas hanya dengan senyum tipis.

__ADS_1


Kiki pun membalas jabatan tangan itu,"Sahabat sehidup semati".Kata Kiki mengulangi perkataan Vlora,'Aku akan melindungi putri mu Tante'.Batin Kiki berkata.


'Maaf Kiki'.Batin ku berkata.


__ADS_2