
Siapa yang tidak syok. Saat kita yang sudah sangat bersemangat, sangat bahagia untuk cepat-cepat sampai di rumah. Membayang wajah bangga kedua orang tua kita saat melihat hasil nilai ijazah kita yang sangat memuaskan. Justru di sambut oleh bercak merah pekat yang mengalir deras membasahi tubuh seseorang. Yang kita bayangkan tengah sangat bahagia dengan hasil nilai kita.
Pasti tubuh kalian saat ini sama seperti yang Kenan rasakan. Terdiam mematung membeku, buku lembar ijazah berjatuhan dalam genggaman tangan yang lemas.
"Ibu"Ucapnya membuat ayahnya mendongak. Tergerak cepat hendak menyerang Kenan dengan katana bersimbah darah melihat nya.
Brugkk....Tingg......Tubuh Kenan terdorong jatuh menjauh syok. Menyaksikan ayah kandung nya sendiri hendak membunuh nya. Namun pedang katana ayahnya tertahan oleh pedang katana milik abangnya yang sudah berdiri di depannya. Melindungi dirinya dari serangan sang ayah.
Kedua sama-sama hening menikmati pertarungan sengit. Sampai akhir perkelahian pedang di menenangkan oleh Evano yang berhasil menusuk jantung ayahnya mengunakan pedang miliknya.
Mencabut kasar pedang nya dengan menendang tubuh Ayahnya agar menjauh dari nya. Evano yang masih menggenggam katana berlumuran darah segar itu berlahan-lahan berpaling ke arah Kenan.
__ADS_1
Kenan yang sudah sangat ketakutan berusaha merangkak mundur tanpa mengubah posisi duduknya. Namun pergerakan nya sudah lebih dulu di hentikan oleh katana milik abangnya yang menusuk samping perut kain serangan sekolah mengunci pergerakan Kenan.
Tetap berdiri tegak menatap tajam raut wajah ketakutan di bawah sana,"Tidak perlu repot-repot menepis semua pemikiran negatif yang saat ini menghantui mu. Karena semua yang ada dalam pikiran mu dan yang kau lihat. Adalah sepenuhnya karena ulah ku yang sangat terobsesi sejak dulu untuk menghabisi mereka berdua yang sangat mengharapkan kematian mu."Mencabut katana miliknya. Memutar katana itu ke samping. Mengubah posisi nya sembaring ia ayunkan mendekati Kenan.
"Aaaaaaaaaaakkkkk...........".Teriak Kenan sekencang-kencangnya saat katana itu berhasil membuat gorengan cukup besar melintang di dada nya.
Tubuhnya yang semakin ketakutan tidak karuan membuatnya berlahan-lahan kehilangan kesadaran dan pingsan. Saat ia sudah siuman, ia sudah terbaring di salah satu kamar rawat inap rumah sakit.
Di saat itu juga Kenan harus bisa menerima kenyataan pahit, jika seluruh kejadian yang menimpanya bukalah mimpi buruknya. Akan tetapi kejadian itu memang benar-benar ada, merenggut nyawa kedua orang tuanya.
"Dia di tempat yang aman. Lebih baik kau cepat katakan apakah kau menyetujui kesepakatan kita atau tidak".Johson yang hanya terfokus pada lawan bicara. Yang saat ini menjadi pusat perhatian kedua rekannya yang tidak tau menahu soal kesepakatan yang telah di buat Vlora dan Johson.
__ADS_1
Tanpa memperdulikan tatapan penuh pertanyaan dari kedua rekannya,"Iya, aku menyetujui jika kau membawa Kiki keluar lebih dulu ke sini. Dan biarkan Kiki pergi bersama mereka berdua".
"Dengarkan kalian. Cepat bawa dia ke sini".Ucap Johson tanpa mengalihkan perhatian nya.
Sesaat setelah menunggu akhirnya Kiki di bawa oleh dua pengawal ke ruangan ini. Melihat itu,"Cepat bawa dia pergi".Suruh ku pada Vlora.
Di saat Daniel mulai bergerak untuk mengambil alih menuntut adiknya. Tingg......Evano tiba-tiba tergerak cepat menahan serangan Johson yang akan menusuk mereka berdua dengan pedangnya.
Suatu hal yang membuat seisi ruangan ini terkejut. Namun tidak dengan Vlora.
Masih di posisi menekan serangannya,"Minggir Vano, jangan ikut campur urusan ku".
__ADS_1
"Urusan mu juga urusan ku",ucap Evano yang masih menahan serangan Johson dengan katana miliknya."Aku benci melihat seorang penghianat seperti mu".
"CK!Jadi kau sudah mengetahui semuanya".