My Name Is Crazy (Si Pecundang Telah Kembali)

My Name Is Crazy (Si Pecundang Telah Kembali)
Season.144 Malam dark


__ADS_3

Malam itu. Setelah pulang dari kediaman rumah Zalfa. Aftar tiba-tiba kejang-kejang tubuh Aftar mengeluarkan keringat dingin. Hidungnya terus mengeluarkan banyak darah segar dengan derasnya.


Tanpa bak bik buk baru juga duduk untuk istirahat Afif langsung beranjak bangun berlari ke kamar adiknya setelah tau adiknya mengalami kejang.


Afif langsung melarikan Aftar ke rumah sakit di malam itu juga. Walaupun di saat itu Aftar memaksa untuk tidak mau pergi ke rumah sakit. Tapi tubuh yang lemah ini dapat dengan mudah Afif bawa paksa.


Di rumah sakit Aftar langsung di larikan ke ruangan khusus pasien dalam keadaan kritis.


Rasa sangat-sangat cemas Afif terus ber bolak-balik di depan kaca tembus pandang ruangan tempat Aftar di tanganin.


Dengan demikian Afif yang dapat melihat jelas bagaimana sakitnya menjadi Aftar membuat ia semakin tidak tenang. Apalagi dokter dan beberapa perawat di dalam sana sangat panik kerja cepat menangani Aftar.


Sampai beberapa jam penanganan dokter Yuta akhirnya keluar dari ruangan. Dengan raut wajah yang sulit di artikan. Beliau berkata,"Aftar ingin bertemu".


Afif langsung berlalu pergi masuk ke dalam ruangan untuk secepatnya menemui adiknya setelah mengenakan pakaian khusus.

__ADS_1


Bernada suara lirih Aftar berkata,"Bang, aku minta tolong berikan bola basket ku yang di kamar ku pada Binzo. Soalnya aku sudah janji akan memberikan padanya".


"Sudah bang aku mau istirahat nanti bangunin iya, ceritakan gimana respon Binzo setelah mendapatkan bola basket dari ku",Aftar masih bernada lirih berbicara panjang lebar pada Afif sebelum akhirnya ia memejamkan kedua kelopak matanya.


"Iya, selamat beristirahat titip salam buat bunda dan bang Bryan",kata Aftar seakan-akan sudah mengetahui betul apa yang akan terjadi pada Aftar setelah ini.


Tutttuuuttt.......... Bunyi nyaring suara monitor melengking memecah gendang telinga Afif yang hanya bisa tertunduk melepas kepergian Aftar di samping ranjang pesakitan tempat Aftar berbaring tidak lagi bernyawa.


Afif bangkit seorang diri berjalan keluar ruangan ini meninggalkan Aftar. Di luar Afif langsung di sambut oleh Ifan yang saat itu telah tiba di rumah sakit.


Ifan merangkul bahu layu ini dan mengelus-elus lembut,"Yang kuat Afif, anak Kiki dan Vlora adalah anak kuat",kata Ifan.


Duka kesedihan menyelimuti seluruh teman sekelas Aftar tidak terkecuali teman setim basket nya. Rasanya sangat hancur sekali harus melepaskan kepergian ketua basket sehebat Aftar dan sahabat sebaik Aftar.


'Tega lu ninggalin kita',pikir Aji teman konyol Aftar.

__ADS_1


'Maafin gue Aftar, gue harus nangis. Sesedih ini soalnya kehilangan lu anjing sialan',pikir Rizal.


Sementara yang lain hanya bisa terdiam muram sedih meratapi seseorang yang telah bersemayam jauh terkubur di bawah tanah sana.


Tangis kehancuran kehilangan matahari kebahagiaan pencair suasana tidak di rasakan mereka saja. Karena langit di atas sana juga ikut merasakan. Langit juga ikut menitihkan air mata sampai membuat suasana di siang hari itu menjadi mendukung. Bersamaan dengan hujan rintik-rintik yang terus berjatuhan. Mengiringi pemakaman Aftar sampai selesai.


Di ruangan yang gelap gulita tanpa ada sedikitpun secerah cahaya yang menerangi. Afif duduk merenung seorang diri di samping tempat tidur yang biasanya digunakan untuk Aftar beristirahat.


Ia terduduk meringkuk merenung cukup lama di sana. Meresapi kesepian akan kehilangan orang-orang yang ia sayangi satu persatu.


'Ayah di mana? Afif sekarang sendirian Yah cepat pulang',pikir Afif dalam renungan kesedihan kesepiannya.


Mendongak perhatian melihat lurus ke depan,"Afif",ujar seseorang di balik kegelapan penjara bawah tanah.


Lubang kecil di samping nya seseorang ini berdiri menyelipkan cahaya terang bulan yang masuk remang-remang menerangi sebagian wajah seseorang ini yang ternyata dalam keadaan kedua tangan teratai.

__ADS_1


Seseorang yang sangat kacau balau itu adalah Kiki. Lelaki dengan pakaian yang sudah sangat berantakan kotor sampai sobek memperlihatkan luka sobek menganga lebar yang sudah mengering.


'Aku harus segera keluar dari sini, anak-anak membutuhkan ku',pikir Kiki berusaha untuk setenang mungkin agar bisa berpikir jernih mencari cara untuk keluar dari jeratan ini.


__ADS_2