
Singkat cerita. Menjelang siang hari setelah tadi malam. Kiki yang memang sudah janji dengan Vania untuk menjemput langsung saat Vania sudah selesai dengan urusan kampus. Agar ia bisa langsung menuruti kemauan adiknya untuk menemani adik perempuan nya berbelanja kebutuhan rumah.
Vania yang sibuk mengambil bahan dan barang yang harus di beli. Kiki yang hanya terdiam mendorong kereta keranjang belanjaan.
"Pinter belanja kamu, ibu yang ngajarin",tebak Kiki yang semenjak tadi memperhatikan adiknya berbelanja.
"Bang Daniel",
Kiki langsung memasang manik mata jengkal.
Melihat Kiki,"Bang Kiki tidak percaya",
Menggeleng ringan.
"Yehh... percayanya sama kak Hyuna doang sama Abang sendiri tidak", semprot Vania berjalan ke lorong lain.
".....".
++++++
Singkat cerita belanja-belanja telah selesai. Vania dan Kiki berjalan kaki sedikit pergi ke parkiran mobil. Iya, hari ini Kiki mengantar Vania dengan mobil yang ia pinjam dari Ifan.
Setibanya di dalam mobil Kiki langsung tancap gas meninggalkan pekarangan pusat pembelanjaan.
__ADS_1
next.....
Berjalan kaki seorang diri di jalanan pejalan kaki. Adalah satu hal yang tengah Kiki lakukan sekarang. Ia seperti tengah menunggu seseorang di sana. Sampai seorang misterius berjaket orange mengenakan topi juga masker hitam menutupi identitas nya menghampiri Kiki. Kiki berlalu pergi dari sini bersama dengan seseorang misterius itu.
Hingga sampai di suatu panggung kosong tidak jauh dari pusat Kota. Kiki dan seseorang misterius itu menghentikan langkah nya tepat saat keduanya sudah naik ke lantai tiga bangunan ini.
"Banyak orang mendorong kita untuk membunuh nya. Yang berarti banyak orang menginginkan kota G hancur",kata seseorang misterius ini pada Kiki.
"Aku akan tetap berpihak pada nya. Banyak orang-orang yang ku sayang berada di kota ini. Aku tidak mau mereka menderita karena kesalahan yang kita perbuat".
"Iya, aku akan selalu ada bersamanya",kata Kiki."Kau tetep pantau situasi dan beritahu aku jika kau terlibat masalah".
"Cih... seharusnya aku yang berkata seperti itu kepada mu".
"Serem iya, hahahhh......
"Cih sial. Kau tetaplah Kiki". Ucapan jengkel bergegas pergi dari tempat ini di barengi dengan menepuk bahu Kiki sekilas sebagian salam perpisahan.
++++++
Memanggil Vlora yang tengah berjalan terburu-buru seorang diri sampai mengabaikan Jiwan yang baru saja berpapasan dengan Vlora,"Yuna",Jiwan teman kuliah Vlora.
Vlora tetap tidak menggubris panggil itu. Ia tetap melanjutkan perjalanan nya yang terburu-buru menjauhi Jiwan.
__ADS_1
Menarik bawah pakaian kakak perempuan nya,"Kak Yuna kenapa?".
"Dia sedang buru-buru dik, mana mungkin Yuna mengabaikan Kakak jika bukan karena buru-buru",jelas Jiwan pada adiknya sebelum akhirnya ia dan adiknya melanjutkan perjalanan.
Iya, selesai lulus kuliah. Vlora tetap berteman akrab dengan Jiwan. Walaupun kedua sangat jarang sekali bahkan hampir tidak pernah bertemu.
Selesai mengantar adik pergi ke rumah bibi nya. Jiwan berlalu pergi kembali melewati jalanan tadi untuk berangkat ke tempat kerjanya.
"Itu kan...",Jiwan segera mempercepat jalannya untuk pergi ke tempat penyebrangan jalan tidak terlalu jauh di depan nya.
Namun belum juga sampai di sana, atau belum dapat Jiwan menarik tangannya. Dia yang adalah Vlora sudah terlebih dahulu berlari cepat ke tengah jalan. Menabrak dirinya pada truk barang yang melaju kencang ke arah nya.
BRAKK......Bragkkk....
Tubuh penuh darah itu terlempar melayang di udara cukup tinggi. Sebelum akhirnya terjatuh membentur aspal jalan raya kuat. Sampai membuat beberapa bercak darah bersemburat ke sekeliling nya. Dan Jiwan terkena banyak sekali noda darah milik Vlora.
Seluruh tubuh Jiwan terpaku. Syok luar biasa untuk bergerak saja ia sangat sulit bagaimana lagi dengan berteriak. Saat menyaksikan sendiri bagaimana teman akrab satu-satunya yang ia miliki merenggang nyawa dengan cara bunuh diri di depan nya.
Seseorang pria tiba-tiba berlari kencang di samping Jiwan masih terdiam mematung. Pria itu mendekati Vlora memeluk tubuh Vlora erat.
'Apa itu tadi?',pikir Jiwan seketika langsung terbangun dari tidur malamnya. Pelu keringat dingin sudah bercucuran membasahi dirinya. Ia gemetar mengingat apa yang baru saja dirinya mimpikan.
Mimpi'sederhana yang terkesan nyata juga sangat menakutkan. Karena sejauh ini mengenal Vlora. Jiwan belum pernah melihat Jiwan bersedih. Tapi di mimpinya Jiwan melihat sendiri bagaimana Vlora tanpa rasa takut menabrak dirinya sendiri ke truk pengangkut barang yang sedang melaju kencang ke arah nya.
__ADS_1
Ataupun mungkin karena kejadian tadi siang. Karena Vlora mengabaikan dirinya. Ahh itu pasti tidak mungkin, pikir Jiwan memilih untuk mencari ponsel agar ia bisa mengirim beberapa notifikasi chat pada Vlora di seberang sana.