
Afif masih bergetar ketakutan dengan apa yang baru saja ia saksikan. Menarik lengan pakaian Bryan,"Bang, bunda baik-baik saja kan? Tubuh Bun....". Memotong ucapan Afif. Bryan mengelus lembut surai rambut kepala Afif. Di susul senyum tipisnya berharap Afif tenang,"Afif jaga Aftar di sini. Kamar Abang sangat aman, tapi jika ada seseorang yang tidak di kenal masuk ke dalam kamar. Afif langsung tembak orang itu",menyerahkan senjata api pada kedua anak laki-laki kembar yang sama-sama seusia 8 tahun.
"Afta tidak takut kan?Kalian kan sudah bisa menggunakan senjata", Bryan terfokus melihat Aftar dan Afif.
Aftar menggeleng ringan,"Tidak, jika bang Afif takut Aftar akan melindungi bang Afif",kata anak laki-laki ini tegas.
"Bagus",kata Bryan."Tetap di sini jangan keluar sampai bantuan datang. Abang akan keluar membantu Ayah...dan bunda",Bryan lekas beranjak buru-buru dari tempat nya berjongkok di depan keduanya.
Selepas kepergian Bryan. Afif dan Aftar sama sekali tidak mengetahui apapun yang terjadi di luar kamar abangnya. Keduanya masih sama-sama bersembunyi di dalam kamar Bryan hanya dengan mendengarkan banyak sekali suara tembakan senjata api. Juga teriakan keributan kesakitan. Tanpa melihat langsung keadaan di luar kamar.
Sampai akhir semuanya tiba-tiba menjadi hening. Selama beberapa jam sebelum akhirnya pintu kamar Bryan di buka berlahan dari luar. Membuat Afif mengambil ancang-ancang melindungi Aftar dan bersiap menembak siapapun yang masuk.
Akan tetapi urung setelah Afif mendengar nada suara yang tidak asing memanggil nama nya dan adiknya.
"Afif, Aftar, kalian ada di....",belum sempat di buka sempurna pintu kamar. Tubuh Kiki langsung terhuyat karena pelukan dari kedua anak laki-laki nya.
"Ayah".ujarnya bersamaan.
__ADS_1
Kiki yang hanya terdiam sembaring mengelus lembut kedua surai kepala anak laki-laki nya yang ketakutan. Hingga akhirnya Afif yang ingat betul dengan yang ia lihat beberapa jam yang lalu. Segera melepaskan pelukan nya,"Bunda di mana Yah?",tanya Afif.
"Yah...".
"Ayah kenapa tidak menjawab pertanyaan Abang?",kini giliran Aftar bertanya dengan polosnya. Yang berbeda jauh dengan Afif yang sudah berlari meninggalkan Kiki dan Aftar untuk pergi turun ke lantai bawah melalui tangga rumah.
Baru akan menginjak tangan terakhir rumah. Langkah kaki Afif tiba-tiba langsung melambat tubuhnya terhuyat hampir terjatuh. Tepat saat ia melihat Bryan kakak laki-lakinya tengah terduduk tumpu di ubin rumah menghadap sesosok tubuh perempuan berlimpah darah yang mengenakan gaun sama dengan gaun yang tadi Bundanya kenakan.
Berlahan-lahan Afif berjalan memberanikan diri berjalan mendekat. Saat sudah dekat ia yang dapat melihat jelas wajah sesosok wanita yang tergeletak di depan kakak laki-laki. Afif langsung terduduk lemas di dekat tubuh tidak bernyawa ini. Ia menggoyang-goyang tubuh ini dengan harapan tubuh sesosok ini akan bangun memeluk erat tubuh nya.
Sebelum kejadian tragis di hari hari yang membahagiakan. Hari yang sangat membahagiakan untuk keluarga Resendriya. Karena tepat di hari ini kedua putra kembar keluarga ini merayakan hari ulang tahun nya yang ke 8 tahun untuk pertama kalinya.
Namun setelah Afif dan Aftar selesai meniup lilin. Tiba-tiba terdengar suara tembakan di luar yang menggelegar. Hingga akhir suara langkah kaki banyak berlarian masuk ke dalam rumah.
Di saat itulah suasana yang membahagiakan berubah menjadi menegangkan. Kiki langsung menyuruh Vlora untuk membawa anak-anak menjauh dari lantai satu rumah. Vlora membawa kedua putranya ke lantai atas rumah. Menyembunyikan keduanya di dalam kamar nya. Sementara itu dirinya berlalu keluar kembali meninggalkan keduanya di dalam kamar.
Afif yang di rundung penasaran pun beranjak dari tempat persembunyiannya berjalan keluar kamar. Aftar pun ikut mengikuti kakak laki-laki nya.
__ADS_1
Keduanya benar-benar keluar dan mengintip kekacauan di bawah sana dari atas ini. Sampai akhirnya setelah beberapa langkah untuk kembali ke kamar. Afif dan Aftar tiba-tiba di hadang oleh seorang pria. Afif langsung merangkul Aftar dalam pelukan nya agar Aftar berdiri di belakang nya. Sementara seseorang pria itu langsung melesatkan beberapa tembakan ke arah Afif.
Tubuh pria itu tumbang lebih dulu sebelum menembak pelurunya tepat sasaran ke Afif. Di saat itulah Afif melihat dengan jelas seseorang dari kejauhan di bawah sana yang telah membuat pria ini tumbang.
Seseorang yang tidak seharusnya Afif lihat dalam keadaan berimbas darah karena luka tembak di tumbuh nya. Hal itu terjadi karena seseorang itu terlalu fokus pada keselamatan Afif. Sehingga lelang tidak menyadari ada musuh yang akan menembak dirinya.
Seseorang itu adalah Vlora, wanita berkepala tiga ini telah menyelamatkan Afif tapi tidak dengan menyelamatkan dirinya. Karena luka tembak di hati juga kepalanya tubuh Vlora langsung bersimbah darah. Walaupun begitu Vlora masih sempat menyungging senyum manis kepada Afif.
Namun sebelum Afif melihat Vlora tersungkur tumbang. Afif dan Aftar jauh lebih dulu di tarik seseorang untuk menjauh dari sini.
Seseorang itu adalah Bryan yang akhirnya membawa Afif dan Aftar ke dalam kamarnya. Dan membekali keduanya dengan senjata api tanpa memperdulikan status umur kedua adiknya. Di kala di usia yang masih belia Afif dan Aftar adalah dua anak yang terbilang sudah cukup mengenal senjata api karena ajaran dari ayahnya juga Bryan.
Hingga akhir datanglah Kiki yang menyelamatkan keduanya. Akan tetapi Afif yang sudah terlebih dahulu melihat semuanya dengan mata kepala sendiri. Masih saja bergetar ketakutan walaupun saat ini dirinya dan adiknya sudah aman.
Semenjak kejadian di hari itulah. Sifat dan perilaku Afif jauh berbeda dengan Aftar. Afif lebih dominan seperti Bryan dari seperti Aftar yang ceria.
Iya, semenjak kejadian di malam itu. Bryan juga berubah menjadi laki-laki yang dingin, pendiam, datar, cuek, juga brutal. Apalagi semenjak ia tahu bahwa dalang dari penyerangan di malam yang membuat bunda sampai merenggang nyawa belum di ketahui. Bryan benar-benar menjadi pribadi yang sangat tidak terkendali.
__ADS_1