
"Bagaimana enak kan masakan Abang?".Tanya Ifan memecah kecanggungan antar ia dan kedua adiknya.
"Lumayan. Masih enakan masakan bang Daniel".Saut Vania melesat.
"He?".
"Emang bang Daniel bisa masak?".Tanya Kiki mengalihkan sedikit topik.
"Bisalah. Masakan nya enak poll hampir sama kayak masakan ibu".
Kedua abangnya hening meresapi. Karena seingatnya Daniel sangat jarang sekali di rumah. Dan sangat jarang sekali dekat dengan adik-adik nya.
"Kaget iya!!".Vania melihat bergantian kedua abangnya,"Sudah lama sih. Soalnya waktu itu aku masih SD. Dan itu terjadi karena kalian-kalian bertiga tidak ada yang mau jemput aku sekolah. Sudah itu sampai malam tidak pulang-pulang. Tapi bodoh lah ada bang Daniel yang nemenin aku. Ngajarin aku matematika, uhh...bang Daniel pinter poll. Tidak hanya di matematika sih...tapi semua mata pelajaran. Makannya lulusan kemarin aku dapat juara satu. Itu semua berkat buku-buku latihan soal yang bang Daniel buat".Bercerita panjang lebar. Membuat kedua abangnya merasa paling rendah dan kecil dari pada semut.
"Huuhh.....Bang Daniel paket komplit pokok nya".
"Hemm".Dehem Kiki merasa tidak terima. Sementara Ifan hanya terdiam walaupun dalam hati sangat-sangat sekali kesal. Berniat mendapatkan pujian malah.
Terfokus pada kedua abangnya,"Heheheh....jangan iri. Bang Ifan dan Bang Kiki juga Abang terbaik buat Vania. Abang-abang Vania kan keren-keren semua, Joss. Bang Ikbal juga. Vania akan selalu berdoa semoga bang Ikbal berubah".Menunjukkan jari jempol nya di barengi dengan senang sumringah nya.
+++++
Selepas makan, kami berdua langsung meninggalkan ruang makan. Kiki bersiap mandi dan berganti pakaian, merai jaket hitam yang tergantung untuk ia kenakan. Kiki melangkah kan kakinya keluar kamar. Berjalan menuruni tangga rumah untuk kembali pergi.
Tepat di ruang tengah rumah, ia berpapasan dengan Ifan yang sibuk membawa tugas-tugas kuliah nya yang akan ia kerjakan.
Ifan yang sudah terfokus pada adiknya,"Mau kemana sudah mau malam?".
"Ada urusan bentar".
"Bang di cariin juga".Panggil Vania membuat kedua pemuda ini terfokus pada tangga rumah tempat Vania datang.
"Heheh...lupa sebut nama".Cengengesan,"Bang Kiki antar aku bentar ke warnet. Aku tadi lupa fotocopy tugas-tugas sekolah".Menunjukkan lebaran kertas yang ia bawah.
"A...".Menyela ucapan yang belum terucap,"Biar abang antar. Kamu pergi saja nanti pulang jangan kemalaman sebelum ibu. Kamu akan di marahi Ibu jika terlambat".Kata Ifan.
__ADS_1
"Bentar Abang taruh dulu ini".Ifan berlalu pergi menaruh barang-barang nya di ruang tengah.
Ia berbalik pada kembali menghadap kedua adik nya yang masih terdiam,"Kenapa belum berangkat?Kau akan di marahin ibu jika pulang terlambat".
Baru tersadar dari lamunannya,"Eh!Iya. Abang berangkat dulu kamu di antar bang Ifan saja. Kalau butuh sesuatu telfon saja".Pesan Kiki sebelum berlalu pergi meninggalkan kediaman rumah nya.
"Ayo berangkat".Ajak Ifan pada adiknya.
"Iya".Balas singkat Vania sedikit canggung dengan kakak ketiga nya. Selama ini ia lebih dekat dengan Kiki dan Daniel saja. Sementara dengan kedua kakak kedua dan tiga nya sangat tidak pernah.
+++++
Krekk....Brugkk....Mencengkeram kuat kerah pakaian adiknya. Mendorong sampai pergerakan adik nya terkunci dengan keadaan tubuh sedikit terangkat. Manik dingin Daniel tertuju pada Ikbal adik kedua nya.
Ikbal menyungging senyum miring di sudut bibirnya yang berdarah untuk Daniel.
Iya, sebelum ini. Di gang sempit terjepit dua gedung apartemen menjulang tinggi. Kedua kakak beradik ini terlibat berkelahi hebat. Yang kini di menangkan olah Daniel. Walaupun karena perkalian itu membuat pakaian nya sedikit kotor.
"Kenapa?Bunuh saja bukankah anggota King88 di larang melanggar janjinya".Ikbal memanas-manasi Abang nya yang siap menusuk nya. Karena tangan terbebas Daniel sudah memegang pisau.
Daniel memutar pisau itu. Weer....wett...Jelepp....
++++
Sementara Vlora masih berdiri tepat di depan pintu yang di biarkan terbuka. Membiarkan cahaya remang-remang dari luar ruangan ini menerangi punggung nya.
"Kau pasti sudah mengetahui berita nya".Kata ku,"Aku tau ada salah seorang anak buah mu dalam anggota ku, Tuan Haki".
Pria ini adalah Tuan Haki. Seorang mantan anggota mata-mata detektif yang saat ini telah pensiun menjadi pengusaha. Dan seorang tangan kanan mafia yang paling di takuti yang sudah lama hilang.
"Aku sudah bicara pada nya".Kata Tuan Haki menjedah ucapan nya,"Untuk membunuhnya".Lanjutnya.
++++
Ikbal membulat sempurna manik mata nya. Tepat saat benda tajam ini menancap di samping telinga. Sangat dekat sekali akan tetapi tidak melukainya sedikit pun.
__ADS_1
Daniel melonggarkan cengkraman tangan nya. Akan tetapi tidak dengan perhatian nya yang tepat terfokus pada adik nya.
"CK!!Padahal ayah sudah bilang agar aku membunuh mu".Ucap Daniel menjedah ucapan nya,"Kau adik ku. Seharusnya aku menjaga mu bukan membunuh mu".Lanjutnya.
"Jika kau tidak membunuh ku, semua informasi akan bocor ke pihak musuh. Kota ini akan hancur sama seperti Kota-Kota dan negara lainnya".Kata Ikbal tertunduk,"Aku tidak bisa diam tanpa mengatakan apapun pada ketua ku".
Mengangkat perhatian nya kembali terfokus pada kakak nya. Ikbal menjulurkan lidahnya memperlihatkan alat pelacak kecil yang tertancap di lidahnya,"Abang harus membunuh ku. Sebelum alat ini selesai mengirimkan semua informasi. Alat ini hanya akan berhenti bekerja jika pengguna nya mati".
Menyadari hal ini akan terjadi. Tanpa keraguan dan rasa takut Dorrr.....Dorr.....Suara tembakan terdengar beberapa kali.
Tubuh berlumuran merah pekat berlahan-lahan kehilangan kesadarannya. Tumbang tepat di depan Daniel yang masih terdiam terpaku di tempat nya.
Sett.... Mengehentikan laju motor nya tiba-tiba. Vania yang kaget menepuk bahu abangnya pelan,"Ada apa bang?".
Ifan masih terdiam entah kenapa.
Vania sedikit memperkuat pukulan nya menepuk bahu abangnya,"Bang kenapa?Itu loh mobil belakang klakson terus".
"He?".Ifan yang baru tersadar dari lamunannya. Menengok kebelakang sekilas untuk melihat adiknya.
"Abang kenapa?".
"Tidak ada apa-apa. Cuma...".Vania menjinjing sebelas alisnya.
Tinnn...Tinn.....Mobil yang ada di belakang menekan klakson mobil kuat.
"Sudahlah ayo jalan".Sambungnya melanjutkan perjalanan nya kembali. Berpaling melihat ke belakang sekilas dengan berkata,"Maaf, maaf".
+++++
Kiki masih menyusui jalanan Kota dengan motor yang ia kendarai dengan kecepatan sedang. Sampai ia menemukan apa yang tengah ia cari. Hingga ia melihat seseorang itu, lantas Kiki segera membututi mobil yang membawa seseorang itu.
Baasrrmmm.......
Mobil ini memasuki pekarangan rumah yang gerbang nya di jaga sangat ketat. Dengan terpaksa Kiki menghentikan motor nya cukup jauh dari pekarangan rumah. Ia melanjutkan perjalanan nya dengan berjalan kaki.
__ADS_1
Tepat di dinding pagar yang menjulang tinggi ini. Kiki mengambil ancang-ancang melompati pagar ini. Tapp....Berhasil masuk dengan aman tanpa di ketahui.
Tidak tapi ketahuan,"Angkat tangan mu".Dua pria berbadan kekar yang menyodorkan senjatanya pada Kiki.