
Keesokan harinya setelah selesai mengantar Vlora kekediaman rumah Tante Aska. Bryan kembali pulang kekediaman rumah nya seorang diri. Tentu saja untuk melanjutkan kegiatan kemalasannya di hari Minggu.
Memutar-mutar kunci mobil di jari tangannya, sembaring terus berjalan memasuki rumah. Bryan yang baru menginjakkan kaki di ruang tengah atau tamu rumah yang luas. Di kagetkan dengan kehadiran ayahnya yang tertidur pulas di sova panjang yang tersedia di ruang tamu.
'Ayah kenapa? Tidak biasanya dia tidur di sini',pikir Bryan bertanya sembaring berjalan mendekat untuk membangunkan ayahnya.
Bryan yang sudah berjongkok di samping ayahnya tertidur pulas,"Bry bantu ayah ke kamar",minta Kiki masih dengan kedua kelopak mata terpejam.
Kiki mengangkat tangan nya mencari bahu putranya. Bryan segera memegangi tangan Kiki dan membantu nya bangun untuk duduk,"Ayah habis minum?",tanya Bryan saat membantu Kiki untuk bangun.
Belum menjawab pertanyaan Bryan karena sibuk menutup mulut nya dengan telapak tangan menahan rasa ingin muntah. Setelah sedikit membaik Kiki yang mulai berjalan dengan di bantu Bryan,"Ayah tidak pernah minum".
"Entah kenapa saat baru sampai di kantor tadi badan ayah rasanya tidak enak. Seperti ayah masuk angin".
"Bunda kamu di mana? Ayah panggil sejak tadi tidak ada".
"Bunda ke rumah Tante Aska. Asisten rumah sedang cuti. Ayah lupa?".
"Ah...ehem....",dehem Kiki yang terlalu lelah letih untuk basa basi lagi.
Setelah membaringkan tubuh ayahnya di tempat tidur. Bryan berlalu pergi keluar kamar sembaring memainkan layar ponsel untuk menghubungi seseorang di seberang sana memalui panggil suara.
Tersambung.
__ADS_1
*Bunda pulang cepat iya, ayah sakit di rumah. Aku tidak tau harus memberikan obat apa".
*Tadi pagi ayah kamu baik-baik saja. Kenapa sekarang sakit?".
*Katanya baru tadi di kantor terasa meriang".
Panggil telfon yang masih tersambung membuat Vlora masih dapat mendengar jelas di seberang sana suara paru Kiki yang memanggil-manggil nama Bryan berteriak. Lantas Bryan bergegas mematikan panggil telfon sepihak setelah berucap.
*Lekas pulang Bun".
Tutttuuuttt.....
Berlari kembali ke dalam kamar orang tuanya. Bryan yang melihat Kiki terduduk di ambang pintu kamar mandi. Langsung berjalan mendekat ke Kiki membantu Kiki kembali berdiri,"Ayah mau ke toilet?".
Setelah mengantar ayah masuk ke dalam kamar mandi. Kiki yang sudah berpegang pada dinding kamar mandi berkata,"Sudah tinggalkan, nanti ayah panggil lagi".
Raut wajah pucat,"Pergilah, ayah bisa sendiri",Kiki sembaring memegangi perutnya yang sakit.
"Kalau butuh bantuan langsung teriak, aku tunggu di luar",dengan berat hari Bryan menurut permintaan ayahnya. Ia menunggu ayahnya di luar kamar mandi.
+++
Sesaat kemudian. Bryan yang sudah duduk di tepi tempat tidur depan ayah yang terduduk terlentang bersandar di tumpukan bantal belakang nya.
__ADS_1
"Ayah sebenarnya sakit apa? Tidak mungkin masuk angin sampai seperti ini. Ayah tadi muntah banyak sekali. Sepertinya semua makanan tadi pagi sudah keluar",kata Bryan.
"Ayah juga tidak tau".
"Ayah salah makan mungkin",tebak Bryan.
"Salah makan bagaimana? Selesai sarapan tadi pagi ayah langsung berangkat ke kantor".
"........",terdiam,"Sekarang apa saja yang ayah rasakan?".
"Pusing, mual, perut nih nyeri sampai kaki lemas sekali".
Masih terfokus pada ayahnya,"Hey! Apa jangan-jangan ayah hamil".
Bgukk..... memukul pipi Bryan dengan sisi tenaganya,"Anak durhaka",marah Kiki.
"Aduh",menengok paksa di susul mengelus pipi kanannya."Maaf Yah, ciri-ciri nya sama soalnya sama seperti buku biologi yang pernah ku baca. Kalau itu ciri-ciri orang hamil".
"Yasudahlah tinggal ayah, kau hanya membuat ayah semakin mual".
"Astaga ayah. Maafkan Bryan".
"Ambilkan saja ponsel ayah ada di kantong jas",terfokus melihat ke arah jas kerja yang tergeletak di kursi depan meja rias.
__ADS_1
Bryan beranjak dari tempat duduknya untuk mengambil ponsel milik Kiki. Sudah mendapatkan apa yang di cari. Bryan pun kembali dan memberikan ponsel nya kepada Kiki.