My Name Is Crazy (Si Pecundang Telah Kembali)

My Name Is Crazy (Si Pecundang Telah Kembali)
Eps.72 Mungkinkah


__ADS_3

"Di mana Vlora?",bernada tinggi Raka bertanya kepada mereka bertiga.


"Bukankah tadi Nona Vlora ingin menemui mu",kata Kenan memperjelas.


"Kemana?Aku dari tadi sendirian di markas ku. Vlora tidak menemui ku".


Di tengah kebingungan Raka,"Aku dan Kenan akan menyusul Nona Vlora, kau periksa semua CCTV keamanan Kota. Segera hubungi aku saat sudah mendapatkan informasi".Kata Daniel sebelum berlalu pergi di ikuti dengan Kenan bersama nya.


Raka segera tergerak pergi ke ruang nya untuk memeriksa semua rekaman CCTV yang emang sengaja di pasang di seluruh kota G. Ia yang juga jago dalam teknologi segera mencari informasi dari seluruh rekaman.


++++++


Melihat Vlora yang mulai kehilangan kesadaran nya, ia tertunduk lesung menangis."Maaf, maafkan aku kak Hyuna",gumamnya menangis tersedu-sedu.


Sebelum akhirnya ia ikuti menyusul Vlora pingsan. Karena benda tumpul keras yang memukul belakang kepala nya, kuat.


"Cihh",umpat seseorang pria tersenyum sinis melihat nya.


+++


"Raka",seru Geo yang tiba-tiba sudah berada berdiri di belakang nya."Di mana Vlora?".


Raka hanya terdiam tidak berani menatap pria paru baya menakutkan ini.


"Sial, awas saja kau baji**ngan. Tidak akan ku biarkan kau hidup tenang sampai keponakan lecet",gumamnya menatap tajam lurus ke arah Raka. Sebelum akhirnya ia pergi tanpa mengatakan sepatah kata pun.


Sayup-sayup ia buka kelopak matanya, rasa sakit luar biasa mulai ia rasakan di tempurung belakang kepala nya. Namun ia menyadari jika keduanya tangan telah terikat kuat di kursi kayu yang ia duduki saat ini melilit ke seluruh tubuh nya.


"Kak Hyuna",ujar nya secepat mungkin tersadar melihat sekeliling nya mencari keberadaan Vlora yang entah ada di mana. Rasa bersalah timbul kembali menyelimuti dirinya membuat ia kembali menitihkan air mata nya.

__ADS_1


Tepat di saat itulah seorang perempuan yang tangan dan kaki nya terikat di seret paksa masuk ke dalam ruangan ini. Perempuan itu adalah Vlora yang tubuhnya di lempar tepat di samping kursi kayu yang mengikat Vania.


"Kak Hyuna",Vania yang semakin berlinang air mata melihat Vlora yang sangat mengenaskan.


Tubuh penuh luka terlihat jelas di balik pakaian yang kacau itu."Bangun kak, maafkan Vania kak, bangun kak Hyuna...Hikss .....Hiksss .....,"semakin menangis tersedu-sedu.


"Cihh...mau kau tangis bagaimana pun dia akan segera mati",ucap pria ini sebelum berlalu pergi yang di susul oleh rekannya.


Vania semakin tersedu-sedu ia berusaha melepaskan diri dari ikatan yang melilit tubuh nya. Walaupun menyakitkan dan membuat nya tersungkur jatuh tertimpa kursi yang mengikat nya. Vania tetap berusaha mendekati tubuh tidak bergerak Vlora.


++++


"Bagaimana sudah mendapatkan informasi tentang Vlora?",tanya tegas Geo begitu sangat khawatir.


"Belum Tuan,"


"Tidak becus, hanya mencari informasi saja kalian tidak bisa. Cepat cari lagi jangan kembali sebelum kalian mendapatkan informasi atau akan ku bunuh kalian semua",nada bicara tinggi Geo sangat marah. Membuat mereka semua berhamburan segera pergi untuk melaksanakan tugas dari Geo.


"Sampai terjadi sesuatu dengan Vlora aku akan menghabisi mu Geo",geram Nona Aska menatap tajam Geo.


"Marah kepada ku tidak akan membuat Vlora di ketemukan. Akan jauh lebih baik kau membantuku mencari keberadaan Vlora, Nona Aska".


"Cihh..",


Geo berlalu pergi dari sana. Ia pergi untuk melanjutkan pencariannya. Sementara Nona Aska juga tergerak cepat untuk mencari Vlora.


+++++


Menggoyang-goyangkan punggung Vlora dengan dorongan dari kepalanya. Sembaring terus berkata.

__ADS_1


"Bagun kak",


"Kak Hyuna harus kuat",


"Bagun kak,"


"Jangan tinggalkan Vania",


"Aku mohon kak Hyuna bangun",


Namun tidak sedikit pun mendapatkan respon dari Vlora yang hanya terdiam tertidur membelakangi dirinya.


Tidak ada respon. Vania berusaha untuk membalikkan tubuh Vlora begitu juga dengan dorongan kepalanya. Ia tetap berusaha walaupun kedua tangan yang terikat tali sudah sangat kesakitan.


Berhasil membuat tubuh Vlora tidur terlentang, ia menempelkan kepala di dada Vlora. Terdiam cukup lama di sana untuk mencari suara decakan jantung di sana.


"Yuna",ujar Pria ini segera beranjak dari tempat nya tertidur. Menatap lurus ke depan dengan pelu keringat yang membasahi seluruh tubuh nya.


Dengan tergopoh-gopoh ia segera beranjak bangun dari tempat nya tidur. Berjalan keluar kamar.


Di luar ia yang berpapasan dengan seorang wanita tua,"Pergilah nak, kamu memang bukan Sendi putra ku".


"Tapi, tapi tadi sore ibu bilang aku memang putra ibu",kata Sendi yang sudah terdiam berdiri tepat di depan wanita tua ini.


"Bukan nak, ibu berbohong karena ibu tidak mau kehilangan kamu", menundukkan kepalanya."Maaf ibu egois",mendongak kan kepalanya menatap Sendi."Tapi sekarang ibu sadar kalau kamu juga punya keluarga. Dan kamu harus segera menemui mereka".


"Cepat pergi temui mereka, cari perempuan itu. Dia pasti bisa membantu mu bertemu keluarga mu".


"Terima kasih Bu, aku pasti akan menemui lagi",Sendi memeluk erat tubuh wanita tua ini. Sebelum akhirnya ia lepaskan agar ia bisa pergi jauh. Menemui perempuan yang tadi siang menemui nya.

__ADS_1


++++


__ADS_2