
Sudah sangat hati-hati untuk masuk ke dalam rumah mengendap-endap. Kiki justru ketahuan oleh penjaga rumah ini. Alhasil ia harus terdiam menurut di kala besarnya tubuh pria-pria bersenjata ini.
Memotong obrolan seniornya,"Maaf Tuan, ada seorang pengganggu yang menyusup ke dalam rumah".
Kenan beranjak dari tempat duduknya,"Bawah masuk".Suruhnya.
Kiki di gelandang masuk ke dalam di dorong sampai tubuhnya tersungkur. Daniel yang awalnya tidak tertarik. Ia tiba-tiba beranjak dari tempat duduknya. Melangkah lebih dulu membantu Kiki membuat penjaga lain kaget.
"Bang Daniel sedang apa disini?Abang bekerja di sini?Kenapa orang-orang di sini seperti ini semua?".Tanya berutum Kiki pada abangnya.
Melepaskan ikatan tali yang melilit kedua tangan adiknya,"Cepat pergi".Suruh Daniel mengabaikan pertanyaan Kiki.
"Aku akan pergi setelah mendengar jawaban Abang".
"Pergi dik".Daniel kembali mengulang ucapan yang sama dengan kalimat yang berbeda.
Kiki masih terdiam di tempat nya. Tanpa mengatakan apapun selain menunggu jawaban dari abangnya.
Kenan hendak menjelaskan akan tetapi Daniel segera menghentikan.
"Cepat pergi".Suruh Daniel kembali,"Abang akan jelaskan semuanya di rumah".
"Sudah terlambat".Aku yang sudah berdiri di depan pintu utama mengangkat senjata mengarah tepat pada Kiki yang berdiri membelakangi ku.
Kiki berbalik melihat sumber suara. Betapa terkejutnya juga semakin bingung nya ia saat melihat sahabat nya di sana tengah menyodorkan senjata pada nya.
"Yuna!Apa yang lu lakukan di sini?".Tanya Kiki.
"Membunuh mu".Balas nada dingin ku terfokus untuk menembak pada sasaran.
__ADS_1
Sebelum peluru itu melesat. Daniel bergerak cepat menghalangi adik nya dengan berdiri tepat di depan Kiki.
"Tolong lepaskan adik ku Nona. Dia tidak mengetahui apapun dan ku pastikan dia tidak mengetahui apapun".Kata Daniel,"Jika pun sampai adik ku mengetahui dan membocorkan nya ke umum. Kau bisa membunuh, jangan adik ku".
Aku masih mengangkat senjata api ku,"Akan ku melenyapkan keduanya".Nada bicara dingin ku.
"Yuna".Seru Kiki kembali berdiri di samping abangnya,"Lu kenapa?Lu seperti bukan Yuna yang ku kenal".
"Sebenarnya sia....".Dorr....Peluru timah panas melesat mulus. Ke arah Kiki. Daniel bergerak cepat menjadikan tubuh nya sebagai dindin perlindungan untuk adiknya.
Sayangnya!Peluru timah panas itu tidak mengenai siapapun. Tembakan Vlora melesat ke arah samping mereka berdua. Yang sangat menakutkan karena sedikit kesalahan Vlora akan membunuh salah satu dari mereka berdua.
"Bawa dia pergi sebelum aku berubah pikiran".Ucap ku pada Daniel yang langsung bergerak menaik paksa pergelangan tangan Kiki. Untuk membawa adiknya pergi meninggalkan ruangan ini.
"Semua nya sudah selesai?".Tanya ku pada Kenan yang sejak tadi terdiam memperhatikan.
"Sudah Nona. Aku sudah membereskan sisa nya".Balas Kenan yang telah selesai mengurus jenazah Ikbal.
Daniel menarik paksa adiknya untuk ikut bersamanya keluar dari rumah ini. Sampai di halaman depan rumah. Kiki langsung melepaskan kasar genggaman tangan abangnya. Yang meninggalkan bekas kemerahan di sana.
"Sebenarnya apa yang terjadi?".Tegas Kiki pertanyaan pada abangnya.
Daniel yang sudah terfokus pada lawan bicara,"Lebih baik kamu cepat pulang. Abang akan jelaskan besok di rumah".
Menepuk bahu adiknya,"Abang mohon pulanglah dik. Dan tolong jangan pernah cerita apa yang kau lihat hari ini pada siapapun. Abang tidak mau kamu....",Menjedah ucapan nya,"....Cepat pulang".
Kiki yang awalnya menatap manik mata itu, berangsur-angsur menurun,"Iya, aku harap Abang tidak melakukan apapun yang membuat kita semua celaka".
Kiki yang akhirnya memilih untuk pergi meninggalkan kediaman rumah ini. Menuruti perintah abangnya tanpa ia tau apa yang sebenarnya terjadi di kediaman rumah ini. Dan apa hubungan abangnya dengan Yuna. Sahabatnya yang sangat berbeda dengan Yuna yang selama ini ia kenal.
__ADS_1
+++++
Baru saja Kiki mematikan mesin motornya dan beranjak turun. Ia langsung di sambut oleh adiknya yang tergopoh-gopoh berlari ke arahnya.
Melihat mata merah bengkak itu Kiki yang mendapatkan pelukan dari adiknya berkata,"Ada apa?Kenapa menangis?".
"Bang Ikbal bang...hiks....hiks....hiks..".Vania yang menangis tersedu-sedu dalam pelukan Kiki.
Manik mata Kiki terfokus pada Ifan yang baru saja keluar rumah. Hampir sama dengan Vania. Akan tetapi Ifan tidak menitihkan air mata. Matanya hanya memerah berkaca-kaca.
"Apa yang terjadi bang?Ada apa dengan bang Ikbal?".Tanya Kiki sedikit meninggalkan nada bicara.
Ifan dengan perhatian tertunduk,"Bang Ikbal kecelakaan".
"Terus kenapa kalian menangis?Bang Ikbal pasti baik-baik saja".Yakin Kiki untuk menghentikan tangis adiknya.
Kiki melepaskan pelukan adiknya, menghapus bui bening yang membasahi pipi Vania,"Bang Ikbal akan baik-baik saja, percaya deh. Masak orang seperti bang Ikbal bakal mati, tidak mungkin kan. Malaikat maut pun akan lari terbirit-birit sebelum mendekati nya".Kiki kembali menyakinkan agar adiknya tidak bersedih kembali.
"Tapi ayah bilang di telfon bang Ikbal sudah meninggal...hiks...hiks....".Vania yang masih menangis tersedu-sedu.
"Ayah bilang di rumah sakit mana Bang?".Tanya Kiki pada Ifan.
"Bakit Sakti".Balas Ifan.
"Abang akan pergi memastikan kalau yang di bilang ayah di telfon salah".Kiki bergegas mengenakan helm nya kembali. Ia langsung tancap gas meninggalkan pekarangan rumahnya kembali.
Brummm.......800cc Kiki pergunakan untuk mempersingkat waktu sampai di rumah sakit Bakti Sakti lebih cepat. Menerabas kemacetan Kota tanpa memperdulikan bus yang hendak menabrak dirinya. Kiki menghindar dengan mulus. Walaupun tetap saja membuat bus itu mengerem mendadak setelah melewati jalan yang ia lalui. Mungkin supirnya kaget dengan tindakan Kiki yang melawan malaikat maut.
"Bang Kiki bakal kasih kabar kalau yang di bilang ayah di telfon salah kan bang?".Tanya Vania pada abangnya yang hanya terdiam.
__ADS_1
"Iya, yang di bilang ayah pasti salah".Bohong Ifan yang sebenarnya sangat yakin ayahnya tidak berbohong.
Ifan adalah saudara kembar Ikbal yang sudah tidak perlu di jelaskan jika keduanya memiliki ikatan batin yang terikat kuat. Membuat Ifan sangat yakin jika saudara kembar nya telah tiada. Ia merasakan sakit yang saudara kembar nya rasakan di dalam ulu hatinya. Seperti ada yang rusak dan berhenti berdetak di sana. Alhasil semenjak tadi Ifan menahan-nahan rasa sesak dalam dadanya sebisa mungkin. Agar tidak sampai menambah-nambah ia masalah yang yang membuat adiknya perempuan nya semakin khawatir. Di kala saat ini hanya ia seorang yang menemani adik nya.