
...Tidak semua penantian berujung dengan pertemuan yang indah...
+
+
+
Banker pesakitan yang baru saja di keluarkan dari dalam ambulance bersama dengan para dokter yang sibuk memegangi alat-alat bantu pasien pertolongan pertama, dan para petugas kesehatan yang sibuk mendorong banker pesakitan ini pergi ke ruang IGD.
"Langsung pergi ke ruang UGD dia harus segera mendapatkan penanganan serius",kata salah seorang dokter yang tau betul keadaan pasien nya yang semakin memburuk.
Samar-samar Kiki masih merasakan kebisingan di sekeliling nya. Dari mulai suara ibu-ibu yang menangis tersedu-sedu di luar ruangan memaksa masuk. Dan para dokter yang sibuk memasangkan alat-alat pada tubuh, bahkan sebelum akhirnya ia kehilangan kesadaran. Kiki merasakan betul sakit luar biasa di seluruh kepalanya.
"Tolong selamatkan putra saya dok, saya mohon, selamatkan putra ku",kedua mata yang sudah basa akan linang air mata.
"Iya Bu kami akan berusaha semaksimal mungkin, ibu tunggu di luar",kata dokter ini sebelum akhirnya menutup pintu ruangan ini. Membuat perempuan tua ini hanya bisa melihat Kiki dari balik jendela kaca yang memang terpasang untuk mempermudah anggota keluarga melihat tanpa ikut masuk ke dalam.
"Di mana aku?",gumam Kiki sayup-sayup melihat sekelilingnya yang terlalu terang sampai menusuk panca inderanya. Namun setelah beberapa saat akhirnya ia terbiasa untuk bisa melihat sekeliling nya yang kosong.
Tidak ada warna lain selain putih, dan tidak ada orang lain selain dirinya di tempat aneh ini.
Di lain sisi Kiki justru menyungging senyum manis, di susul berkata,"Sudah mati kah diri ku".
__ADS_1
"Apa yang lucu Tuan?",nada bicara seorang perempuan membuat Kiki menghentikan tawa kecil. Ia segera berbalik badan melihat ke arah sumber suara itu berada.
"Kau!",ujarnya berjalan mendekati."Aku mencari mu selama beberapa Minggu ini seperti orang gila, pergi ke sana, pergi ke sini, tanpa tau kemana dan di mana kamu sebenarnya. Aku sudah berkeliling Kota, tapi kau hilang seperti tertelan bumi, padahal kau tinggalkan di kota kecil".
"Maaf merepotkan mu lagi".
"Ehh..emang kau pernah merepotkan ku sebelum nya?",tanya Kiki yang memang belum mengingat identitas nya."Sorry aku masih belum ingat apapun. Tapi aku yakin kita pernah memiliki hubungan".
"Jika kau ingin bertemu dengan ku",kata ku."Temui aku di daerah G 3 bangunan rumah sederhana bercat hijau. Aku dan adik perempuan mu Vania ada di sana".
"Terus kenapa kau tidak ikut dengan ku, kita bisa pergi bersama-sama".
"Aku harus pergi sekarang".kata ku berbalik badan hendak pergi menjauh.
"Jangan pergi Yuna, aku mohon jangan pergi. Aku mohon tunggu aku, aku mohon beri aku kesempatan untuk melindungi mu sekali lagi".Kata Kiki yang ternyata sudah mengingatkan identitas dirinya.
Vlora berbalik menatap lurus sorot mata pria di depannya. Sebelum akhirnya ia mendekat memeluk erat sosok tubuh seseorang yang selama ini ia rindukan kehadiran nya.
"Kau sudah mengingatnya?",
"Iya, aku ingat semuanya".
"Kamu kemana saja selama ini?Aku takut Ki, aku takut sendirian",kata ku masih dalam pelukan hangat ini.
__ADS_1
Kiki mengelus lembut surai rambut panjang yang tergerai ini. Membalas pelukan Vlora dengan sangat baik seakan-akan ia juga memang sangat merindukan kehadiran Vlora. Sama seperti yang selama ini di rasakan Vlora.
Namun belum lama melepaskan kerinduan satu sana lain. Vlora tiba-tiba saja mendorong tubuh Kiki untuk menjauhi dirinya. Ia berjalan mundur dengan sedikit membungkuk memegangi dada nya. Raut wajah menjadi sangat pucat menahan sakit luar biasa.
Membuat Kiki khawatir,"Kamu kenapa?".Di tambah lagi dengan tubuh Vlora yang mengeluarkan cahaya terang berwarna putih.
Pandangan Vlora mendongak dengan masih menahan sakit menatap Kiki,"Seperti aku harus segera kembali".ucap ku di susul senyum sumringah bahagia ku di sudut bibir pucat ini.
Kiki berjalan mendekat ingin memeluk Vlora untuk terakhir kalinya. Namun sudah terlambat, tubuh Vlora telah menghilang di telan cahaya putih terang.
Belum lama setelah itu Kiki juga merasakan sakit yang luar biasa di kepalanya. Sampai tubuhnya seperti tertarik paksa oleh sesuatu.
Di atas ranjang pesakitan rumah sakit, tubuh yang berbaring penuh alat bantu yang terpasang telah membuka kelopak matanya, telah siuman tanpa seorang pun mengetahui nya.
Iya, Kiki telah siuman dari pingsannya. Ia yang baru saja siuman langsung beranjak bangun. Walaupun saat itu rasa sakit luar biasa masih ia rasakan di sekujur tubuh nya.
Kiki melihat sekeliling ruangan ini untuk mencari keberadaan di mana pakaian miliknya di letakkan. Akan tetapi ia yang hanya melihat pakaian kimono rumah sakit di sana. Ia segera melepaskan semua alat-alat rumah sakit yang melekat di seluruh tubuhnya tidak terkecuali dengan infus yang terpasang di tangan.
Kiki segera beranjak dari tempat tidur, ia hampir terjatuh karena tidak menyadari luka di pergelangan kaki kanan yang sudah di perban. Namun pada akhirnya ia tetap memaksakan diri untuk tetap turun dari ranjang pesakitan.
Ia segera mengenakan pakaian atasan rumah sakit. Sebelum akhirnya ia berjalan tertatih-tatih berlahan-lahan keluar ruangan ini.
Karena sudah menjelang larut malam, suasana rumah sakit yang tidak terlalu rami atau terbilang sangat sepi. Memberikan ruang cukup besar untuk Kiki keluar tanpa di ketahui siapapun dari dalam rumah sakit ini.
__ADS_1
Ia berjalan masuk ke dalam liv yang pintunya telah terbuka,'tunggu aku Yuna',batin Kiki tetap berusaha untuk tetap kuat menahan rasa sakit agar ia tidak terlambat bertemu dengan Vlora.