
...By: Hyuna Vlora Queensha...
+
+
+
"Sudah selesai?",tanya Kiki terfokus melihat kedatangan Fazlur yang baru saja masuk ke dalam kabin kamar mereka berdua.
"Beres",balas Fazlur langsung berlalu pergi ke kamar mandi.
Sementara Kiki kembali fokus pada kegiatan nya merakit beberapa senjata di atas tempat tidurnya sendiri. Bagaimana penumpang kapal di perbolehkan membawa senjata? Apakah tidak ada pemeriksaan sebelum masuk? intinya! Jelas tidak di perbolehkan. Namun organisasi ini memiliki anggota-anggota yang tidak bisa di anggap remeh. Apapun bisa dengan mudah di lakukan. Bahkan hanya untuk sekedar menyembuhkan rakitan senjata. Yang hanya hal sepele kecil untuk mereka.
Baik Kiki ataupun Fazlur menyimpan rakitan senjata api di dalam kurang rahasia di dalam koper mereka. Sedikit ruang yang di khususkan kedap atau sulit untuk di tembus sensor pemeriksaan.
++++++++
++++++++++++++
Tanpa terasa sudah dua hari kapal Golden 27 berlayar di lautan lepas. Dan kurang dari satu hari lagi kapal Golden 27 akan segera sampai di pelabuhan terakhir tujuan nya.
Selama itu juga Vlora dan Kiki tidak pernah sekalipun bertegur sama ataupun bertemu. Walau sekalipun keduanya ada di lain waktu di pertemukan tanpa sengaja.
Tidak bertegur sapanya keduanya. Rencana besar Kiki tetaplah berlanjut sampai ia benar-benar bisa membawa Vlora kembali padanya.
__ADS_1
Singkat cerita di malam hari. Di malam keduanya kapal Golden 27 berlayar. Di ruangan tempat para mobil-mobil dan truk di parkirkan. Kiki berdiri di sana seorang diri menunggu kedatangan seseorang yang akan menemui dirinya di tempat ini.
Di tunggu, dan di tunggu. Sampai empat jam lamanya. Seseorang yang akan menemui dirinya belum kunjung datang ke tempat perjanjian.
Tidak perlu berpikir panjang lagi. Kiki segera berlalu pergi meninggalkan tempat perjanjian tempat ia akan melakukan pertemuan. Dengan raut wajah marah sekaligus sangat kecewa.
Brakkk.....Klekk... Clekkk.....
Vlora di tarik paksa masuk ke dalam kabin kembali. Sampai di kabin kamar tubuhnya di dorong paksa sampai tersungkur di lantai. Sementara si pelaku yang tidak lain adalah Sion tengah fokus mengunci pintu kamar dari luar.
Aku lekas beranjak dari tempat ku jatuh,"Cih! Merasa terasing kau!?",
Namun Sion enggan untuk membalas ataupun merespon perkataan itu. Sion berjalan mendekat ke arah Vlora yang sudah siap untuk melawan apapun yang akan Sion lakukan padanya.
Sebelum nya keduanya juga pernah berkelahi, akan tetapi perkelahian sebelum di dominasi oleh Sion yang lebih jago dari pada Vlora. Lantas apakah di perkelahian ini Vlora tetap kalah?
Sayangnya sangat benar. Vlora di paksa tunduk dengan Sion. Pegerakan nya sudah terkunci oleh Sion.
"Seharusnya kau tidak melebihi batas mu Vlora".
"Kau belum sepenuhnya sadar, sedang bermain-main dengan siapa".
Bisik Sion di telinga Vlora lirih.
"Jangan macam-macam baji**ngan",tegur ku nada suara tinggi.
"Kenapa?".
__ADS_1
"Aku suami mu, apapun yang kulakukan terserah pada ku".
Mendekatkan kembali telinga nya di daun telinga Vlora,"Kau tidak akan pernah mati",di barengi dengan tangan kirinya yang terbebas mulai meraba ke are sensitif Vlora.
Sion tenggelam wajahnya di leher Vlora penuh hasrat, membuat beberapa tanda kepemilikan di sana.
Vlora semakin gusar, ia ingin menolak akan tetapi ia tidak bisa melawan. Tapi ia benar-benar tidak ingin melakukan nya. Sampai akhir apa yang ia tahan-tahan semenjak tadi akhirnya keluar. Suara desis pelan Vlora keluar, akan tetapi segera ia tutup rapat bibirnya. Mengigit bawah bibir tanpa perduli dengan cairan merah pekat yang mulai keluar karena diri nya.
Namun Sion yang mendengar jelas nada suara yang memang ia tunggu-tunggu. Kembali berbisik lirih di daun telinga Vlora,"Tidak perlu di tahan, aku suka mendengar".
"Kau tidak bisa menolak nya. Di bawah sana sudah basa",bisiknya sekali lagi.
Vlora pejamkan rapat kelopak matanya, membuat bui bening tanpa terasa lolos dari sudut matanya. Di dalam usaha untuk tetap berusaha menolak,"Kamu bilang akan segera datang. Di mana kamu sekarang? Aku membutuhkanmu. Di mana kamu, Kiki",batin ku berucap.
Sampai akhir Sion mengikat kedua tangan Vlora dengan dasi yang dirinya kenakan. Menyadari itu untuk pertama kalinya. Vlora benar-benar merasa sangat-sangat panik. Dirinya tidak bisa melawan Sion, dia jauh berbeda dengan lawan-lawannya sebelum nya. Semakin dirinya melawan semakin banyak luka memar pukulan yang Sion buat di tubuhnya. Sudah dapat di lihat dari awal, jika Sion terlihat seperti bukan orang sembarangan.
Mana mungkin ada seorang dari kelas biasa-biasa saja dapat di perbolehkan menepati atau membeli rumah peninggalan keluarga Alpha. Selama harga rumah yang di luar nalar, orang-orang yang dapat menepati rumah itu juga bukan sembarang orang. Sekalipun orang itu bisa membeli rumah peninggalan keluarga Alpha. Tetap saja tidak bisa....tidak bisa menepati.
Slett.... Seseorang tiba-tiba menarik paksa kera pakai Sion asal. Sampai tubuh Sion tertarik menjauh dari Vlora.
Hingga akhir seseorang misterius itu melayangkan bogem mentah di pipi Sion. Tubuh Sion tersungkur membentur dinding lemari di belakang nya, saking kuatnya tinjuan yang Sion terima.
Seseorang itu tidak lain tidak bukan adalah Kiki. Kiki lah yang dapat dengan mudahnya masuk ke dalam kabin kamar yang terkunci dari dalam tanpa Sion ataupun Vlora sadari. Sekalipun di luar kabin kamar ini sebenarnya sudah ada beberapa penjaga yang di tugaskan oleh Sion. Nyatanya Kiki tetap bisa masuk ke dalam kabin kamar.
Kiki yang berdiri tepat di depan Vlora yang masih terduduk di lantai. Melepaskan kemeja yang ia kenakan, dan memberikan nya pada Vlora. Sehingga menyisakan kaos abu-abu polos saja yang ia kenakan.
Berpaling melihat Vlora,"Aku sudah datang",ucap Kiki di barengi memperlihatkan senyum hangatnya. Membuat Vlora membulat manik matanya sempurna berkaca-kaca.
__ADS_1
Sementara Kiki kembali berpaling ke arah Sion. Pria yang telah menculik, menyekap, dan memaksa Vlora untuk menikah dirinya. Bahkan sampai berani membuat tubuh perempuan iya sangat ia lindungi memiliki luka-luka. Membuat tatapan Kiki berubah 180° menjadi dingin nan tajam.
Mengusap sudut bibir nya yang berdarah,"CK sial! Perusak telah datang",kata Sion yang sudah kembali bangkit berdiri dengan benar.