
Satu Minggu telah berlalu. Babak final olimpiade MIPA juga telah usai. Sekolah Garuda Sayap Emas berhasil membawakan satu mendali emas dan satu piala juara satu. Namun di hari Senin ini akan ada drama di depan seluruh kelas saat upacara. Dan Vlora justru tidak masuk sekolah. Padahal Vlora yang telah berhasil membawa piala juara satu untuk sekolah nya. Yang seharusnya Vlora berpidato di depan.
Vlora justru tidak hadir dengan alasan sakit, yang sebenarnya. Vlora tengah tidur di dalam kamar nya. Vlora juga sudah berpesan pada Bi Nur untuk tidak perlu membangunkan nya. Ataupun mengusik Vlora untuk hal apapun itu.
+++++
"Ana".Panggil seseorang pada Ana yang berdiri di barisan depan nya.
"Ha?".
"Yuna kenapa tidak masuk?".Tanya Jehan.
"Sakit".Balas Ana singkat pada.
"Sangat di sayangkan padahal hari ini kan cukup bagus untuk membuat kedua orang tuanya bangga".Kata Jehan.
"Hemm".Dehem Ana merespon.
Di depan sana. Kiki maju seorang diri membawa dua pencapaian dan berpidato seorang diri di depan sana. Di depan para siswa siswi seluruh sekolah Garuda Sayap Emas, dan para bapak guru.
"Selamat siang pak, Bu, dan semuaaanyaaa".Teriak nya menyapa semua keluarga Garuda Sayap Emas.
"Aku ingin mengucapkan terima kasih untuk bapak ibu guru, tidak terkecuali pada pak guru MTK saya yang telah membantu saya dan teman saya merai juara di olimpiade MIPA".
Terdiam sejenak,"Teman saya telah berhasil membuat bangga sekolah kita. Jika seandainya di hadir di sini saya sangat ingin mengucapkan".Menjedah ucapan nya.
"Terbuat dari apa otak lu. Boleh tidak tukeran otak gue hampir depresi mempelajari lembar soal-soal yang telah lu berikan. Dasar cewek pemalas".
"Sekian, Terima kasih. Apabila ada salah kata pengucapan saya mohon maaf".
Barisan kelas C Bahasa Asing.
"Gila Kiki".Ujar Vernon di barisan paling depan.
"Gue sudah rekam anjing".Anzel yang berada di belakang nya.
"Bakal habis sekarat lu besok, Anzel dukung emak nya".Timpal Jay.
Hanai di barisan paling belakang para anggota OSIS,"CK nekat bener".Batin Hanai.
++++++
Menekan tombol bel rumah beberapa kali. Seseorang yang menepati rumah ini langsung membukakan pintu untuk Kiki yang bertamu.
__ADS_1
Clekkk.....,"Selamat sore bi".Sapa Kiki pada pembantu kediaman rumah ini.
"Sore".
"Yuna nya ada di rumah Bi?".
"Non Vlora sedang sakit tuan. Nona tidak ingin di ganggu, maaf".Kata Bi Nur.
Tetap memaksa masuk,"Bi Nur panggil saja Yuna...bukan! Vlora. Jika dia tetap tidak mau turun aku akan pergi".
"Tapi Tuan".
"Bilang padanya ada Kiki di ruang tamu".Kata Kiki yang tetap berdiri di depan pintu rumah.
"Tuan tunggu di ruang tamu".Kata Bu Nur mempersilahkan.
Setelah mengantar Kiki ke ruang tamu. Bu Nur pun berlalu pergi ke lantai atas di mana kamar majikan berada.
Sudah sampai di depan pintu kamar majikan nya. Ragu-ragu bi Nur mengetuk pintu kamar majikan nya.
Tokk....Tokk.....,"Maaf telah menganggu waktu istirahatnya Nona. Di bawah ada Tuan Kiki ingin bertemu dengan Nona".Kata Bi Nur di depan pintu kamar yang masih tertutup rawat.
Aku yang tetap berbaring di atas tempat tidur,"Suruh dia pulang".Balas ku.
"Baik, Nona."Bi Nur berbalik badan dan di kejutkan dengan kehadiran Kiki yang sudah berdiri di belakang nya.
"Tapi...". Memotong ucapan bi Nur,"Saya yang tanggung kalau dia marah".
"Baiklah Tuan, saya permisi".Bi Nur membiarkan Kiki tetap disini, dan berlalu pergi membawa oleh-oleh yang Kiki berikan pada nya.
Kiki berdiri di depan kamar Yuna sahabatnya,"Woy iblis cepat keluar. Gue tidak mungkin menghabiskan sendiri uang hasil lomba kemarin".
Kali ini di barengi dengan mengetuk pintu kamar Yuan,"Iblis cepat keluar, gue tau lu tidak sakit iblis."
Clekkk.....Pintu kamar terbuka berlahan tanpa menampakkan pemilik kamarnya. Di balik pintu kamar yang sedikit terbuka ini. Yuna keluar dengan tatapan dingin melihat pengganggu waktu istirahat nya.
"Kau donasikan saja uang itu".Kata Ku.
Tatapan lumayan kaget dengan ekspresi wajah ini,"Tidak marah dengan gue?".Kata Kiki.
"Jangan ganggu aku. Pulang lah".Aku hendak menutup kembali pintu kamar ku akan tetapi tertahan oleh Kiki.
Menyadari nya. Vlora justru memperkuat tarikan nya membuat tangan Kiki terjepit. Melihat wajah kesakitan itu, Vlora pun menghentikan kegiatan nya. Menyingkirkan tangan Kiki brakk....sebelum nya tutup pintu ini kembali.
__ADS_1
"Itss.....". Melihat tangannya yang memerah,"Aku hanya ingin ngobrol sebentar".Kata Kiki setelah beberapa menit tidak mendapatkan jawaban.
Kiki memilih pergi meninggalkan kediaman rumah sahabatnya.
+++++
"Kenapa harus terjadi pada ku??".Aku terduduk di lantai samping tempat tidur. Mendekap tubuh ku erat-erat. Pandangan ku bersembunyi di antara kedua lutut ku.
Sebelum air mata ini menetes. Vlora bergegas beranjak dari tempat duduk nya. Berlalu mengambil jaket sebelum akhirnya Vlora berlalu pergi keluar rumah. Tancap gas mengemudikan mobil Buggati warna hitam putih.
"Nona mau pergi kemana?".Khawatir bi Nur memperhatikan kepergian mobil majikan nya dari kejauhan.
+++++
Brummmmmm........900cc Vlora kecepatan untuk mempersingkat perjalanan Vlora sampai di tujuan yang ingin Vlora datangi. Sepertinya dengan cara mengemudi mobil seperti ini juga akan membantu nya untuk lebih cepat bertemu dengan Tuhan nya.
Tepat di perempuan jalan, penyeberangan jalan yang banyak orang berjajar di pinggir jalan. Vlora melepaskan rem kaki memberikan mobil ini tetap melaju kencang. Tangan nya yang terbebas tidak memegangi setir mobil menarik rem tangan. Di barengi dengan Vlora memutar setir mobil dan Vlora tahan. Membuat roda belakang mobil melincir(Drift).
"Woww...".Itu yang keluar dari mulut para pejalan kaki yang menunggu lampu merah menyala.
Stt.... berhasil melewat dengan baik tanpa mengurangi kecepatan. Vlora kembali menambahkan kecepatan mobil nya untuk segera melanjutkan perjalanan.
Kecepatan mobil nya berangsur-angsur pelan. Vlora masuk ke dalam gedung parkiran mobil. Sebelum Vlora melanjutkan perjalanan nya dengan berjalan kaki.
+++++
Kaki jengkal Vlora berjalan di jalan setapak paving sendirian di jalanan yang sunyi sepi. Bahkan penerangan jalan pun banyak yang mati. Membuat suasana mencekam dan damai menemani perjalanan nya.
Di dekat bawah jembatan jalan besar. Vlora menghentikan langkah kaki nya. Tepat di depan seseorang yang tengah berdiri seorang diri bersandar di tiang bawah jembatan yang pencahayaan cukup buruk karena lampu jalanan di bawah jembatan mati hidup mati hidup.
Menyadari kedatangan nya. Seseorang dalam pencahayaan suram berlahan-lahan berjalan keluar dari balik kegelapan malam. Seseorang itu adalah seorang pria sekitar 23-24tahun.
"Aku pikir kau tidak akan datang, adikku".Ucap pria ini. Dia adalah Xana. Kakak laki-laki Vlora.
"Jangan sebut aku adik mu bang****sat. Aku tidak pernah memiliki kakak".Bentak ku geram mengepalkan kedua tangan ku erat. Menahan emosi yang meluap-luap.
Xana menatap Vlora dingin juga datar,"Aku kagum dengan mu. Kau mengambil tindakan cepat langsung membunuh anak buah ku. Merubah semua keamanan kota mu".
"Tapi kau tetaplah seorang gadis kecil yang bodoh cengeng perusak keharmonisan keluarga. Beban keluarga!!".Xana meninggikan nada bicara di akhir.
"Kau menuduh ku?".Ucap ku,"Bukankah kau yang telah membunuh ayah dan ibu. Kau yang telah menghancurkan keluarga ku".
"Kau telah menghancurkan kebahagiaan ku, kakakk berengsekkk!!!".Aku berteriak sekencang mungkin di depannya.
__ADS_1
Mendengarkan luapan emosi Vlora. Xana yang tetap dengan ketenangan nya,"Jadi tunggu apa lagi! Kau membenci ku bukan. Kau ingin membalaskan dendam kematian ayah dan ibu bukan".Tanpa merubah raut wajah dingin datarnya,"Jadi cepat bunuh aku. Aku tau kau membawa senjata".Lanjutnya.
"Gunakan senjata itu bodoh!!".